
Kekuasaan sewenang-wenang paling mudah di bangun di atas reruntuhan kebebasan yang di salah gunakan.
Aaaaah....
Ku hirup udara segar ini dalam-dalam, terasa begitu lega di dalam dada.
Ya akhirnya aku bebas dan bisa kembali menghirup udara segar.
Sepeninggalan papah Hamzah kemarin, sidang tiba-tiba di tunda begitu saja tanpa ada alasan dan sebab yang jelas. Sebegitu kuatnya kekuasaan Papah Hamzah, mampu menunda sidang yang bahkan sudah di jadwalkan. Semalaman ku berpikir, jika dengan mudah papah melakukan itu semua,tentu dengan mudah pula ia menghancurkan masa depan anak-anak ku kelak. Aku tidak ingin itu sampai terjadi pada mereka.
Akhirnya ku ambil keputusan yang juga sangat sulit sesungguhnya,tapi itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan keluargaku.
"Selamat siang pak,saya utusan pak Hamzah yang akan mengantarkan anda pulang ke rumah" sambil sedikit membungkukkan badan,pria berseragam hitam-hitam seperti ajudan itu berucap.
__ADS_1
Ku menurut saja daripada urusannya jadi panjang. Ku dudukan tubuh ini di belakang supir dan dan ajudan tadi.
"Sebenarnya apa pekerjaan papah Hamzah? dia seperti mempunyai kekuasaan yang tiada duanya"
tanyaku dalam hati
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan,ku sandarkan kepala dan melihat jalanan yang lumayan ramai lancar. Aku membayangkan reaksi anak-anak ketika aku datang nanti, mereka pasti akan berlarian dan berebut untuk memelukku. Aaah indahnya.. baru membayangkannya saja sudah membuat ku senang.
Mobil sudah memasuki pelataran rumah, senyum semuanya sudah bisa ku lihat dari dalam mobil.
Benar sesuai pikiranku, Anak-anak langsung berlarian menyambutku. Ku lihat papah Hamzah ada di sana dengan tatapan tajamnya,lalu ku tatap anak- anak kembali yang tengah berlarian,apa aku tega padanya ya Allah...mataku memerah menahan perasaan di dalam dada.
Ku rentangkan tangan dan menyambut tubuh kecil Mita membuatku Putri memonyongkan bibirnya, sudah di pastikan jika putri sulung ku itu tengah merajuk. Tak ku hiraukan Putri dan terus berjalan menghampiri yah lainnya. Ema datang lalu menggandeng tangan Putri dan mengikutiku dari belakang.
__ADS_1
Ku cium takzim tangan kedua orang tuaku,ku peluk mereka kemudian di susul Devi yang mencium tanganku, jarang sekali kami melakukan hal ini. Bukan tak mau.. tapi hanya saja sepertinya ku belum rela tangan yang biasa di cium takzim oleh Anjaniku di cium lagi oleh orang lain.
Lalu kami semua masuk ke dalam rumah.
Ku lihat wajah papah Hamzah sudah hangat seperti pertama ku kenal,tidak dingin lagi seperti kemarin datang menemuiku di dalam sel.Baiklah, ku pastikan kalian akan bahagia selalu ke depannya,meski ada harga yang sangat mahal yang harus ku bayar atas kebahagiaan kalian. Tekadku dalam hati melihat mereka semua mengobrol sambil bercanda di selingi tawa menggema rumah ini.
Ku cari keberadaan anak sulungku, ah ternyata dia masih merajuk,Ema sepertinyasedang membujuk Putri. Aah biarlah, Ema pasti bisa membujuk Putri, dan biar dia terbiasa dan tidak manja lagi ke depannya. Aku harus lebih tegas lagi pada anak itu.
Siang berganti malam, Kini semua orang duduk di meja makan. Kini duduku bersebalahan dengan Devi,tentu aku harus mengingat janjiku waktu ku buat keputusan tadi pagi, akan memperlakukan Devi selayaknya istri yang sebenarnya.
Devi melayaniku dengan baik, mengambilkan makananku dan Mita, sementara Putri,ku tatap wajah anak sulungku,dia masih diam dan tidak banyak bicara,Ema dengan setia melayaninya. Ah aku bersyukur ada Ema yang selalu mendampinginya, setidaknya dia tidak benar-benar sendirian.
Selepas makan,papah Hamzah memintaku menemuinya di ruang kerjaku.
__ADS_1
Ya Papah Hamzah masih di sini.Sepertinya dari pembicaraan tadi, beliau akan menginap di sini selama beberapa hari kedepan. Sepertinya dia ingin mengawasiku lebih dulu,aku harus bisa meyakinkannya bahwa aku akan menepati janjiku. Aku lelaki,pantang bagiku melanggar janji yang sudah ku buat.
Kira-kira mau bicara apa yah??🤔🤔🤔