
"Kakek"
"Papah" ucapku dengan papah bersamaan. Kami segera berlari menghampirinya. Tergeletak tubuh tua lelaki yang selalu membelaku, menyayangiku. Kakek Wahyu memegangi dadanya hingga tak sadarkan diri.
Tanpa babibu papah segera membopong tubuh kakek, aku pun mengikuti papah dari belakang. Pak supir yang siaga dengan segera membuka pintu mobil.
"Ka rumah sakit terdekat saja pak" ucap Papah pada pak supir di jawab dengan anggukan pak supir.
Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menembus jalanan yang kebetulan tidak terlalu ramai karena hari sudah malam.
Aku takut. Aku takut terjadi apa-apa pada kakek. Hanya dia saja seorang yang menyayangiku selama ini. "Ya Allah lindungilah kakek hamba" doaku dalam hati, air mata jatuh tanpa permisi terlebih dahulu sudah membanjiri pipiku, ku lihat papah memangku kakek dengan diam, tapi di wajahnya terlihat kecemasan dengan jelas, tapi dia lebih memilih diam.
Sampai di lobby IGD rumah sakit, suster sudah bersiap dengan brangkarnya karena sewaktu di jalan tadi papah sudah menelepon pihak rumah sakit, jadi wajar jika mereka sudah siapkan semuanya.
Sampai di ruang IGD kakek di bawa masuk sedangkan aku dan papah di tahan di pintu masuk.
"Maafkan Dira kek yang hanya mampu mengantar kakek sampai sini, tapi Dira yakin kakek pasti kuat, kakek bisa" ucapku dalam hati melihat keadaan kakek yang terbaring lemah di atas brangkar.
Waktu berjalan begitu lambat bagiku. Duduk menunggu dokter memeriksa kakek di dalam. Sedangkan papah berdiri terus di samping pintu IGD. Kami saling diam, harusnya di saat seperti ini kami bisa saling menguatkan layaknya seorang anak dan ayahnya, tapi ternyata tidak. Kami di selimuti kebisuan, Entah mungkin karena terlalu kaku atau memang keadaan yang membuat begitu.
Jika memang aku bersalah, aku akan meminta maaf.
__ADS_1
Tapi jika aku tidak bersalah kau katakan salah, aku juga minta maaf.
Maaf, kita sampai di sini saja.
"Keluarga pasien bapak Wahyu?" panggilan dari dokter membuyarkan lamunanku,
"Ya saya dok" Segera ku hampiri dokter yang berdiri di pintu masuk IGD.
"Pasien dalam kondisi kritis, kami perlu melakukan tindakan lanjutan. Kami meminta persetujuan pada pihak keluarga" ucapnya
"Mbaknya bisa mengikuti suster untuk mengisi form persetujuan dari pihak keluarga" menunjuk suster di sampingnya.
Ku arahkan pandanganku ke segala penjuru arah, tapi tak ku temukan papah di manapun, kemana sebenarnya dia? dalam kondisi seperti ini aku tidak bisa memutuskannya sendiri.
"Silahkan. Tapi saya mohon jangan lama-lama y mbak. karena pasien harus segera di tindak lanjuti" kemudian dokter itu berlalu dari hadapanku.
Ku ambil gawai di dalam tas kecilku, ku ketik nama papah di sana lalu ku tekan call. Jarang sekali aku menelpon papah, hanya sesekali kirim pesan jika ada hal yang darurat, seperti tadi saja. Sayangnya ada yang memanfaatkan itu untuk memfitnahku di depan papah.
"Tuuut..tut...tut..." Tersambung, namun belum di angkat.
Ku lakukan panggilan hingga beberapa kali namun tidak di angkat juga. Ya Allah dalam keadaan begini aku bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Ada apa?" suara bariton itu terdengar dari belakangku.
"Papah" Ku berlari dan entah bagaimana aku memeluknya begitu saja.
Mungkin karena perasaan khawatir yang berlebihan hingga membuat aku bisa seberani ini memeluknya.
Merasa tak mendapatkan balasan dari papah, ku lepaskan pelukan itu. Ku tatap wajahnya, sungguh ini kah papahku? Seharusnya papahku bisa seperti om Bagas ataupun om Satya yang bersikap hangat padaku. Sakit rasanya di perlakukan seperti ini terus menerus.
"Maaf" kata itu keluar dari mulutku melihat ekspresi di wajahnya, namun tak di responnya.
"Ada menelpon berulang kali?" papah mengulang pertanyaannya tadi.
"Tadi dokter keluar, katanya kakek kritis dan harus segera di lakukan tindakan lanjutan" jawabku. Tanpa berkata apa lagi papah berlalu begitu saja, ku yakin dia pasti sudah faham. Terbukti setelah itu papah datang dengan seorang dokter.
"Baik pak Bagus, kami akan melakukan yang terbaik untuk ayah anda" ucap dokter tadi,
"Bapak dan mbaknya banyak-banyak berdoa saja ya, semoga ada keajaiban untuk pak wahyu" lanjutnya lagi.
Deg ..
Keajaiban? Sebegitu parah kah kondisi kakek di dalam?
__ADS_1
Tubuhku merosot, terduduk lemah tak bertenaga.
Ya Allah tolong selamatkanlah kakek Wahyu y Allah...