Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Tujuh bulanan


__ADS_3

"KAMUUU...."


Bagus berdiri dan menunjuk wajah Devi dengan marah,


"apa maksudmu melakukannya tadi hem?" ucap bagus penuh amarah di wajahnya,


Devi yang di tatap seperti itu sedikit takut tapi dengan tenang menjawab


"tidak ada maksud apa-apa mas Bagus sayang, hanya mau menyapa maduku saja" ucapnya enteng, dia merasa di atas angin karena mendapat dukungan dari ibu mertuanya,


"madu?"


"kamu hanya istri di atas kertas tidak lebih,


dan ingat jangan harapkan apapun dari pernikahan ini mengerti" Bagus berlalu setelah mengucapkan itu,


Devi menahan sesak di dalam hatinya,


ini pilihannya jadi dia harus menerima konsekuensinya,


yang terpenting dia bisa mendapatkan Bagus menjadi suaminya, berharap lambat laun bisa meluluhkan hati suaminya itu.


Hari sudah berganti, tak terasa kandungan Anjani sudah memasuki usi 7 bulan dan besok akan di adakan acara tujuh bulanan dirumahnya,


ibu dan adiknya Satya sudah berada di rumahnya,


aura kebahagiaan terpancar dari sajah semua orang di rumah itu,


"semua sudah selesai di persiapkan nak" tanya ibu mengelus perut anaknya yang terlihat menonjol "seperti balon mau meletus" kata Satya waktu melihatnya lewat video call,


haha ada-ada saja Satya itu,


tapi memang perut Anjani terlihat lebih menonjol dari ibu-ibu di klinik waktu kontrol yang terakhir kemarin,


tapi bersyukurnya bayi dalam kandungannya sehat dan normal, tidak ada yang di khawatirkan.


Mereka semua mengobrol hingga larut malam dan masuk satu persatu ke kamarnya masing-masing.

__ADS_1


Pagi sudah tiba,


pengajian sedang di gelar di kediaman Bagus dan Anjani,


syukuran tujuh bulanannya mengundang tetangga sekitar dan keluarga dekat saja,


bu Rina tidak hadir, hanya ada pak Wahyu dan bi Siti datang untuk ikut mendoakan,


ibu Anjani pun tak banyak bertanya,


ia maklum karena besannya orang kaya mungkin banyak kegiatan yang tidak bisa di tinggal,


tapi berbeda dengan Satya,


dia melihat ada yang janggal dengan itu semua,


biarlah nanti ia tanyakan kepada kakaknya setelah acaranya selesai,


Acaranya berjalan lancar, Bagus dan Anjani pun sudah di mandikan sesuai tradisi tujuh bulanan di kampungnya,


Sebenarnya Anjani sedikit sedih karena ibu mertuanya tidak hadir, ada acara keluarga kata Bagus suaminya dan dia tak banyak bertanya lagi,


memang hingga sampai saat ini hubungannya dengan ibu mertuanya belum juga membaik,


entahlah Anjani sudah mencoba mendekati ibu mertuanya tapi selalu di tanggapi acuh tak acuh, walaupun ia sedang mengandung cucunya tak membuat mertuanya itu meluluhkan hati untuknya.


Setelah pernikahan dengan Devi waktu itu, Bagus jarang sekali menemui istri keduanya itu,


hanya sesekali datang berkunjung itupun atas desakan ibunya dengan ancaman terlebih dulu, tentulah dengan senjata andalannya yaitu istri pertamanya tercinta,


ia takut ibunya akan memberitahukan pernikahan keduanya kepada Anjani,


walaupun pernikahan itu terpaksa ia lakukan tapi pasti tetap akan menyakiti hati istrinya Anjani,


ia hanya datang tanpa melakukan apa pun,


bahkan menanyakan kabar istri mudanya pun tidak,apa lagi berhubungan suami istri pada umumnya, Bagus sangat menjaga yang satu itu untuk istri tercintanya,

__ADS_1


maka dari itu ia tak pernah menyentuh makanan ataupun minuman yang di suguhkan di rumah istri mudanya itu,


ia takut makanan ataupun minuman itu sudah di campur dengan sesuatu yang membuatnya hilang kendali.


Kembali lagi ke rumah Bagus dan Anjani,


semua sudah rapi seperti semula,


Bagus dan pak Wahyu duduk di ruang tamu


"selamat ya nak kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, jadilah ayah yang terbaik untuk anakmu kelak " ucap pak Wahyu pada Bagus sambil memegang bahunya


"iya pah pasti,


pasti Bagus akan menjadi ayah yang terbaik untuk anak Bagus nanti" ucapnya penuh keyakinan


"jangan pernah menyakiti hati istrimu, karena dia lah yang akan menjadi jantung di rumah tanggamu,jika jantungya hilang entah akan menjadi apa rumah tangga itu nak" ucap pak Wahyu menepuk -nepuk bahu anaknya itu,


Bagus merasa ucapan ayahnya bagai belati yang menyayat hati,


sedangkan yang lain berada di kamar Anjani.


setelah hari sudah sore pak Wahyu dan bi Siti pun ijin untuk pulang,


tetapi ibu dan adiknya Anjani akan menginap malam ini karena besok mereka akan berbelanja kebutuhan melahirkan nanti.


hi guys....


gimana ceritanya???


dukung terus Karyaku ya 😊


dengan like and vote terus Karyaku


terimakasih 🙏


salam sejahtera untuk kalian semua

__ADS_1


__ADS_2