Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Tetap Menjadi Nona Kecil Ema


__ADS_3

Kamu tidak akan menyadari apa yang kamu miliki,


Sampai semua itu hilang.


Orang bijak tidak tidak berharap menemukan kehidupan yang berharga,


Tapi orang bijak membuat kehidupannya berharga.


Setelah pesta kemarin, Dira menemukan celah untuk menjalankan rencananya. Sesuai rencana awal, Dira sudah menjalankan lima puluh persen dari semuanya, sisanya dia serahkan pada Kedua omnya, sesekali Dira harus mencari simpati dan terus meningkatkan kepercayaan pak Hamzah padanya, meskipun itu artinya ia akan sering berinteraksi dengan Bagus, papahnya.


Hari ini Dira memutuskan untuk mengunjungi kota B. Di sana Dira mempunyai sebuah Organisasi Rahasia, tentu hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu.


Dira pergi bersama Ema, seperti biasa perusahaan akan di tangani oleh mbak Yuni.



Dira Cantik banget ya...Uuuuy calon bininya siapa sih ini??? hehehe


Dira sudah siap dengan duduk manis di mobilnya, dia menunggu Ema yang sedang mengambil laptop Dira yang tertinggal.


Di perjalanan, Ema terus fokus pada jalanan, sedangkan Dira fokus mengerjakan beberapa desain bangunan yang akan dia serahkan pada Bian sepulang dari kota B nanti.


"Emmm Em.. menurutmu tempat tinggal seperti apa yang membuat orang nyaman?" tanya Dira mencoba mencari tahu sesuatu berdasarkan pendapat orang lain. Selama ini Dira selalu menggunakan intuisinya sendiri dan juga dari keseharianya dulu saat masih aktif mengajar di jalana. Sekarang semua itu sudah ia percaykan pada orang lain, hanya Dira selalu rutin memberikan donasi untuk rumah singgah itu.


Ema melirik Dira yang duduk di sampingnya,lalu fokus kembali pada jalanan depan.


"Tumben nona bertanya seperti itu, biasanya nona selalu..

__ADS_1


"Hanya ingin minta pendapatmu Em, tidak boleh?" Potong Dira cepat melihat ekspresi heran asistennya itu. Dira mengambil kertas putih dan juga pensil dari tasnya siap mendengarkan saran dari Ema dan merealisasikannya di dalam kertas putih itu.


"Jika nona bertanya pada saya...


Ema menjeda kalimatnya seraya berfikir sambil memainkan jari jemarinya di setir mobil.


"Saya ingin rumah seperti rumah ibu anda nona" Jawab Ema kemudian senyuman terbit dari bibir datar yang jarang sekali tersiram senyumannya.


"Rumah itu tidak terlalu besar. Rumah dengan tipe minimalis dengan dua lantai di atur sedemikian rupa oleh ibu Anjani dengan apik, hingga menghasilkan hunian yang nyaman dan membuat kita betah berlama-lama berada di dalamnya" lanjutnya lagi masih dengan senyuman itu bertengger di bibirnya


"Rumah seperti itu membuat kita ingin selalu pulang, dan jika kita berada jauh rasa rindu pada rumah akan selalu tercipta" imbuh Ema lagi terus memuji rumah desain dari ibu Anjani itu. Kekaguman Ema pada Anjani ibu dari nona kecilnya selalu tiada habisnya, padahal Ema sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan Anjani, rasa kekaguman itu muncul hanya dari mendengar cerita dan bukti nyata yang ada.


"Tapi rumah itu membuat kenangan pahit dalam hidupku Em" Jawab Dira lirih menundukkan kepalanya, bayangan masa lalunya yang pahit itu berada di pelupuk matanya. Setetes cairan bening menggenangi sudut matanya segera Dira tepis dengan jarinya. Dira tak mau selalu terkurung dalam masa lalu yang ingin dia hapus dari memorynya,tapi tidak mungkin. Masa lalu itu akan selalu menyertai hidupnya. Biaralah itu akan menjadi pembelajaran ke depannya.


"Maafkan saya nona" Ema berucap lirih melihat nona kecilnya bersedih Ema jadi ikut bersedih. Rasa sayangnya pada Dira sang nona kecil sudah begitu mendarah daging, mungkin jika nyawa di minta nona kecilnya pasti akan di berikanya.


"Tidak apa Em, hanya saja kenangan itu terkadang membuat luka itu menganga lagi. Sakitnya masih terasa, tapi hanya kadang-kadang saja, kamu tak perlu khawatir berlebih. I'm oke. aku baik -baik saja Em" jawab Dira sedikit bergetar bahunya. Jatuh sudah air mata yang ia tahan sedari tadi.


"Sudah Em, terimakasih" Dira melepaskan pelukannya. Merasa perasaanya sudah baik-baik saja Dira merapihkan baju dan kerudung yang berantakan.


"Masa lalu mungkin tidak akan pernah bisa betul-betul kita lupakan nona. Tapi simpan saja semua itu di sudut yang paling dalam" ucap Ema menyemangati Nona kecilnya.


"Saya yakin nona adalah wanita yang kuat. Terbukti kan nona bisa berdiri sendiri. Sekarang nona adalah bos sebuah perusahaan besar, bukan lagi seseorang yang di lupakan. Nona adalah bos perusahaan besar yang di cari-cari oleh pengusaha lainya untuk bisa bertemu langsung dengan nona, tapi sayang nona kecilku ini mahal sekali"


"Aku sudah tidak kecil Em..." Rajuk Dira mendengar Ema memanggilnya dengan sebutan nona kecil.


"Anda akan selalu menjadi nona kecil saya nona" jawab Ema datar tanpa menoleh pada Dira, sontak membuat Dira gemas dan mencubit lengan Ema sedikit kuat. Tapi bukannya merasa sakit justru Ema malah tersenyum di buatnya.

__ADS_1


"Teruslah bahagia nona" ucap Ema lalu di angguki oleh Dira dan mereka tertawa bersama di dalam mobil.


"Saya yakin jika nona muncul di khalayak umum dengan wajah cantik nona, semua pria akan mengantri untuk bisa dekat dengan nona" ucap Ema memuji kecantikan nona kecilnya.


"Kamu berlebihan Em. Kamu pun tak kalah cantiknya, hanya saja kami ini terlalu kaku Em" jawab Dira meledek sifat kaku dari sang asisten yang berhasil membuat Ema mendelikan matanya,


"Saya nyaman seperti ini nona" jawab Ema kemudian


"Kamu tidak ingin berkeluarga Em? Umurmu sekarang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga " Tanya Dira, mengkhawatirkan kehidupan pribadi asisitennya


"Entahlah. Mungkin setelah nona bahagia baru saya akan memikirkan untuk itu nanti " jawab Ema kembali dengan wajah datarnya.


"Aku sudah bahagia Em" jawab Dira, namun mendapat gelengan kepala cepat dari Ema.


"Jika nona sudah bahagia tentu air mata itu tidak akan ada. Anda belum bahagia nona. Anda belum terbebas dari semua itu. Lepaskan nona, lepaskan segala rasa sakit itu dan gantilah dengan kebahagiaan nona" jawab Ema dan Dira hanya menundukkan kepalanya tanpa niat ingin menjawab atau menimpali ucapan Ema.


Mungkin memang Ema benar, tapi itu Sulit. Buka. tak mau melepaskan, Dira sudah mencobanya tapi selalu gagal. Luka itu masih dengan setia menemani harinya.


"Kamu benar Em, mungkin suatu saat nanti" Jawab Dira kemudian memasang kembali shift belt dan duduk sempurna di kursinya.


"Sudah cukup Em. Ayo kita kembali melanjutkan perjalanan kita, sudah lumayan dekat sepertinya. Saya sudah rindu dengan mereka semua" putus Dira kemudian Ema kembali menyalakan mesin mobilnya lalu melanjutkan perjalanan yang seharusnya sudah sampai mungkin jika tak terhenti tadi akibat Dira yang bersedih.


Ema memang asisten yang kompeten, bukan hanya sebagai asisten tapi bisa jadi teman, sahabat, kaka bahkan bisa jadi musuh jika Ema terus saja membuat Dira kesal dengan gaya datarnya hehe ...


Ikuti terus ceritanya ya 😊🤗


__ADS_1


Bonus si tomboi Ema sang asisten nona kecil,


Keceeee kaaaan.....


__ADS_2