Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Kedatangan pak Bos


__ADS_3

Kemarin adalah hari terindah dalam hidupku selama ini, bisa menghabiskan waktu berdua dengan papah dan yang terpenting adalah mendapatkan kasih sayang dan perhatiannya yang selama ini hilang, tapi kemarin seperti menemukan papah yabg dulu, yang ketika aku terjatuh bisa panik sampai satu rumah kena omel, padahal waktu itu aku tak menangis apalagi terluka.


Hingga kini aku masih bisa merasakan kebahagiaan kemarin. Tersenyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran hehe.


Hari ini ada kunjungan om Bagas,eh pak bos maksudku, karena untuk sekarang dan untuk alasan yang belum ku ketahui mereka berpesan kalau tidak boleh ada yang tahu tentang aku yang ternyata ada keluarga dengan pak bos dan asistennya itu yang tak lain adalah om Satya.


Semua pekerja sibuk menyiapkan ini itu, termasuk mba Yuni, seniorku. Dia sedari pagi mondar-mandir mengurus ini dan itu, apalagi dia bilang ingin terlihat sempurna di depan asisten bos. Gak muluk-muluk, gak usah bosnya asistennya pun jadi katanya haha ada-ada saja. Gak tau saja dia seberapa dinginnya omku yang satu itu, kalau om Bagas ada cair-cairnya, kalau om Satya??? uh kalau bukan om sendiri udah aku transfer ke kutub, sama dinginnya hihi.


Sedangkan aku?


Aku biasa aja gak lebih giat gak males-malesan juga, ya biasa aja gitu seperti hari-hari kerja biasanya. Bukan karena pak bos itu omku sendiri, siapapun bosnya, memang pada dasarnya aku tidak pernah cari muka di manapun ku berada. Aku selalu profesional dalam hal apapun.


Sedang asyik bekerja tiba-tiba saja ada yang melempari kain lap di depanku

__ADS_1


"Heh kamu" katanya, ku angkat kepalaku dan melihat siapa yang sudah berani tidak sopan seperti ini. Oh ternyata senior yang gila di hormati itu sinisku menarik sudut bibirku. Dia satu generasi dengan mba Yuni waktu di terima kerja dulu, cuma mba Yuni mah biasa aja gak kayak dia yang minta ada senior-junior,biar lebih jelas katanya. Jelas apanya, padahal dia itu emang minta di hormati saja dan biar pekerja baru pada takut padanya.


"aku?" menunjuk diriku sendiri dengan malas


"Iyalah,siapa lagi emangnya di situ?" sungutnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Huh dasar, sok bossy banget tuh orang. Orang bosnya biasa aja kok.


"Iya kenapa mbak" tanyaku malas


" Kamu lap tuh meja sebelah sana, masih berdebu" serunya sembari menunjuk meja yang di maksud. Mataku mengikuti arah tangannya, ya robbi itu kan sudah ku bersihkan dari pagi, masa suruh di bersihkan lagi.


"Itu kan tadi pagi,saya mintanya sekarang" ucapnya tak terima dengan Jawabanku.


Ku tarik nafas dalam-dalam,huffft....ku buang perlahan. Harus punya stok Sabar yang ekstra ngadepin orang medel ginian mah.

__ADS_1


"Tapi mba, sebenarnya kan tugas saya itu di kasir bukan sebagai tukang bersih-bersih. Masih untung ini saya mau bantuin mba" jawabku enteng. Saya paling gak suka dengan yang namanya penindasan terhadap yang lemah.


"Kami tuh ya, dari awal masuk sini gak pernah mau nurut. Mau kamu saya pecat hah?" bentaknya layaknya majikan yang menggaji karyawannya.


Ku putar bola mata malas melihat tingkahnya itu, tiba-tiba pundakku di tepuk seseorang


"Kenapa ini kumpul-kumpul di sini?" ternyata mba Yuni yang datang tadi, bikin kaget saja. Tapi syukurlah,aku males ngladenin tuh nenek lampir.


Tanpa ada sepatah katapun pekerja senior yang sok bossy itu berlalu dengan and the genknya. Karena dia tak berani dengan mba Yuni yang notabennya orang kepercayaan pak bos, gimana kalau tih orang tahu kalau aku ini ponakanya bos ya? bisa kebakaran jenggot dia hahaha.


Pukul 12.30 Mobil Lambo hitam keluaran terbaru berhenti di depan cafe, turunlah dua orang lelaki yang gagah dan perlente, siapa lagi kalau bukan pak bos dan asistennya itu. Semua mata tertuju padanya ,( cia kaya iklan aja ya haha). Tapi tidak denganku, mau mobilnya lambo kek, Rolls royce lkek atau apalah itu, bagiku sama saja, yang penting bisa jalan.


Pak bos dan asistennya berjalan melewati banyaknya pengunjung karena kebetulan mereka datang tepat di jam makan siang.

__ADS_1


Tiba-tiba dua lelaki itu berhenti tepat di hadapan mbak Yuni yang tak jauh dariku, lalu menunjuk mba Yuni kemudian di susul menunjuku. Itu artinya aku dan mba Yuni di tunggu di ruangannya. Melihat itu ada beberapa mata yang mentapku tak suka, biarlah itu bukan urusanku.


Ku rapihkan baju dan kerudungku, kemudian mba Yuni segera memintaku membawa beberapa makanan yang sudah di siapkan khusus untuk mereka, itu sudah biasa di lakukan katanya, untuk mengontrol rasa da kualitas makanan yang di jual, karena mereka hanya mau menjual makanan yang berkualitas saja walaupun dengan harga yang terjangkau, dan aku suka itu.


__ADS_2