Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Papah sungguh menyayangimu nak


__ADS_3

POV BAGUS


Hari ini aku sengaja meminta ijin kepada kantor untuk tidak masuk kerja, aku ingin mengantar putriku berangkat kerja, karena dia berangkat lebih siang dariku dan biasanya aku sudah berangkat dahulu sebelum dia berangkat. Makanya, lebih baik aku meminta ijin tidak masuk kantor guna memberikan segenap kasih sayang yang seharusnya selalu di dapatkannya, tapi karena satu dan lain hal aku tidak bisa selalu memberikan perhatian dan kasih sayang padanya, hanya mampu mencuri waktu, misalnya tengah malam saat dia tertidur pulas. Aku akan masuk ke kamarnya dan menatap wajah ayu gadisku, putriku. Setelah puas menatapnya, ku kecup keningnya, meminta maaf untuk kesalahan hari ini. Selalu begitu, hampir di setiap ada kesempatan aku akan mencuri waktu dari tidur lelapnya. Karena hanya itu waktu yabg ku punya. Sisanya, hanya sebuah waktu yang harus berjalan sesuai keinginannya.


Saat melihat Putri hendak mengeluarkan skuter miliknya,di mekihatku sekilas dan itu sudah biasa terjadi selama ini. Sebelum skuter miliknya benar-benar keluar dari garasi segera ku mendekatinya


" Mari papah antar nak" ucapku saat itu, sedikit canggung karena memang aku tak pernah sekalipun mengantarnya kemanapun, bahkan ke sekolahnya sekalipun.


Dia menatapku heran, aku sudah bisa menebaknya, pasti aakn seperti itu responya, tapi tak apalah memang semua ini salahku yang tak pernah ada untuknya, lalu tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba ku mengajaknya untuk semobil bareng, biarlah dia berpikir apa.


Akhirnya dengan banyak pertimbangan Putri mau ku antar. Katanya dia tidak langsung ke tempat kerjaannya melainkan ke rumah singgah terlebih dahulu. Sebenarnya aku heran, kenapa Putri bisa mempunyai pergaulan hingga ke rumah singgah yang notabenenya adalah tempat kumuh dan kotor dan benar saja sesuai dugaan ku. Tempatnya sedikit kumuh tapi di sini bersih, ad bak sampah dan kamar mandi umum yang terbilang bersih untuk ukuran permukiman padat penduduk.. Sampainya di rumah singgah, Putri di sambut oleh orang sekitar lalu anak- anak berlarian berkumpul mengerumuni Putri, sepertinya Putri sangat akrab dan di kenal di lingkungan sini. Sejak kapan Putri kenal dengan orang -orang seperti mereka?? Entahlah aku tak tahu karena semenjak pembicaraan dengan papah Hamzah waktu itu, aku tidak dekat dengan putriku yang satu ini dan kerap menjaga jarak dengannya.


Ku ikuti Putri yang sudah masuk ke rumah kecil itu, di sekeliling ada taman bermain yang kreatif di tengah pemukiman padat penduduk ini, bisa jadi alternatif liburan untuk mereka yang kurang mampu.

__ADS_1


Saat memasuki rumah, ku lihat Putri sedang berbicara dengan seorang wanita lumayan berumur, mungkin pengurus di sini. Tapi ada satu hal yang mengusik hatiku, Putriku di panggil Dira olehnya. Sontak ada yang berdenyut di sini,menekan dada yang terasa ada yang mengganjal.


"Dira?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku begitu saja.


Mereka menoleh, ku lihat Putri sedikit terkejut tapi tidak dengan orang yang di panggil Amak oleh Putri. Dia justru mendekat dan menanyaiku dengan senyumannya, ramah sekali. Tapi tak ku jawab pertanyaannya, justru ku lihat Putriku yang dari tadi hanya diam di tempatnya.


"Siapa Dira?" tayaku lagi. Justru kali ini Amak melihat ke arah Putriku.


"Aku" katanya. Dadaku semakin sesak, Dira?


"Kenapa dengan nama Dira?" Tanyanya lagi. Dia tidak tahu bahwa nama itu adalah kesukaan Anjaniku, mengingatkan aku dengan dia yang telah berada di surga.


Pertanyaan demi pertanyaan di utarakannya, semua uneg-unegnya di sampaikannya. Kenapa selama ini aku tak menganggapnya? kenapa selama ini aku tak pernah ada untuknya? Aku tak mampu menjawabnya, aku hanya mampu mengucapkan bahwa aku menyayanginya, sungguh aku menyanginya.

__ADS_1


Berbicara dari hati ke hati dengannya ternyata tak buruk, semua keadaan mencair seketika dan aku bersyukur, setidaknya aku bisa sedikit Memberikan hari bahagia untuknya. Anjaniku, aku menyangi Putri kita, sungguh ucapku dalam hati.


Aku memutuskan untuk mengajaknya untuk menghabiskan waktu berdua hari ini. Ku berikan kebahagiaan untuk Putriku yang selama ini di harapkanya. Biarlah urusan lain ku pikirkan nanti, yang penting putriku bahagia.


Putriku tertidur di mobil karena kelelahan seharian berjalan -jalan.


Ku tatap wajah ayunya, bak titisan Anjaniku.


Ku tersenyum sendiri. Air mata Tiba -tiba terjun begitu saja mengalir di pipi ini,


ku elus kepalanya,


Papah sungguh menyayangimu nak.

__ADS_1


__ADS_2