
Waktu berlalu begitu lambat, udara terasa sesak,entah apa yang sedang dirasakan, skenario tuhan seakan mempermainkan hidupnya tapi ia sadar ini di luar kendalinya,
kamar ini adalah tempat ternyamannya untuk saat ini,rindu dengan ibu dan adiknya di kampung sudah terobati dengan panggilan video yang baru saja di matikan, sedikit bisa bernafas lega karena mereka disana hidup berkecukupan,tak ada lagi cerita kekurangan gizi atau ngutang kewarung untuk sekedar makan, semua terpenuhi dengan gaji anjani dan penghasilan warung ibunya yang semakin ramai pembelinya bahkan mereka bisa sedikit menabung, Anjani bersyukur atas nikmat tuhan yang satu itu tapi entah dengan cerita cintanya akan di bawa kemana,ia masih menunggu kepastian dari kekasihnya itu,merasa ragu dengan hasil pembicaraanya dengan majikannya,
ya kemarin Bagas datang ke paviliunnya untuk berbicara, mengenai hubungan Anjani dengan kakaknya, Bagus.
Bagas menceritakan keadaan kakaknya yang kacau karena Anjani terus menghindar dan semua niat Bagus yang akan mencoba bicara lagi dengan ibunya,
semoga mendapatkan hasil yang di inginkan, membuat Anjani sedikit mempunyai semangat lagi, biarlah dia memasrahkan segala urusannya kepada Allah.
Hari ini Anjani ijin kepada bi Siti untuk keluar sebentar dan tanpa banyak tanya bi Siti mengijinkan asal jangan sampai ketahuan bu Rina,takut katauan dan Anjani akan di marahi lagi seperti beberapa hari yang lalu saat ia menyuruh Anjani untuk berbelanja sayuran tapi bu Rina mengira Anjani keluar untuk bertemu dengan Bagus ankanya, Anjani di marahi habis-habisan dan berjanji tidak akan keluar lagi.
Kemarin Bagas memberikan secarik surat untuk Anjani, tentu surat itu dari Bagus kakaknya, tulisan surat itu mengatakan Anjani harus ke alamat tersebut, berbekal alamat itu Anjani memesan ojek online dari pagar belakang agar tidak di ketahui majikannya.
Sesampainya di alamat yang tertulis Anjani membayar ongkos ojek dan turun, terlihat Bagus menyambut Anjani dengan senyum terbingkai di wajahnya Anjani pun membalas senyuman kekasihnya itu, Bagus mengajak Anjani masuk kerumah tersebut,rumah minimalis dengan halaman sedikit luas cukup , terdapat taman kecil dan air mancur membuat rumah terlihat semakin asri.
Mereka duduk di ruang tamu dengan pintu di biarkan terbuka, takut ada fitnah kata Anjani jadi bagus membiarkan pintu itu terbuka.
"rumah siapa ini mas?" tanya Anjani melihat-lihat sekeliling
"ini akan menjadi rumah kita sayang, setelah kita menikah kita akan tinggal di sini" jelasnya membawa anjani duduk di dekatnya
mendengar jawaban sang kekasih Anjani menatapnya, mencari kebohongan di matanya namun tak menemukannya
__ADS_1
"maksud mas menikah? kita akan menikah mas? bu Rina sudah merestui kita mas?" tanya Anjani beruntun penasaran dengan ucapan sang kekasih, pasalnya bu Rina sangat menentang hubungannya dengan anaknya,
"iya sayang kita akan menikah" ucap Bagus tersenyum memandang wajah sang kekasih.
"aku membamu kesini untuk membicarakan rencanaku"
"rencana apa mas?" tanya Anjani penasaran
"aku berencana menghamilimu sayang...
"apa mas? kamu bilang apa barusan?" tanya Anjani seraya berdiri menatapnya tak percaya dengan rencananya itu.. Bagus menghampiri Anjani dan membawanya kedalam pelukannya tapi Anjani menolak dan segera menghindar,
"kamu jangan salah paham sayang,
"aku frustasi sayang,mamah tidak mau memberikan restu untuk kita" Bagus menyugar rambutnya pasrah,
melihat kekasihnya seperti itu membuat hati Anjani lemah,ia mendekati dan memeluknya memberikan kekuatan untuk kekasihnya.
"apa kamu yakin akan mempertanggungjawabkan semuanya?" tanya Anjani kemudian,
Bagus mendongakan kepala melihat wajah gadisnya itu,lalu tersenyum dan berdiri
"aku bersungguh-sungguh yang,ini semua aku lakukan agar mamah memberikan restunya"
__ADS_1
"jika kamu mengandung anakku tentu mamah tidak bisa menolak bukan" katanya dengan yakin
"bu Rina tentu menerima Cucunnya tapi apa beliau akan menerimaku sebagai menantunya mas?" tanya Anjani lirih
"tentu sayang,kamu kan ibu dari cucunya tentu mamah juga akan menerimamu sayang" ucapnya lagi meyakinkan Anjani untuk mempercayainya,
Anjani pun luluh dan hanya menganggukkan kepalanya, Bagus langsung membawa Anjani ke pelukannya mendekap erat sang kekasih dan membawanya ke kamar,
siang itu terjadilah yang tidak seharusnya terjadi,
dua insan yang tengah di mabuk asmara itu bergemul di satu selimut yang sama dan berbagi peluh di rumah itu.
Entah bagaimana kedepannya Anjani pasrah dan percaya kepada kekasihnya tak akan meninggalkannya.
note; bagian wikwiknya aku sensor ya say 😅
bayangin aja sendiri-sendiri.
terimakasih sudah membaca karyaku,
dukung dengan like and vote ya
salam sejahtera untuk kalian semua 🤗
__ADS_1