
Ada yang berlari, lalu terhenti
Ada yang ramai, lalu datang sunyi
Ada yang peduli, lalu kemudian acuh
Ada yang percaya,lalu berlalu
Ada yang datang, lalu kemudian dia pergi.
POV NADIRA
Di kamar ini, ku duduk menyendiri. Mendengar nyanyian kucau burung yang biasanya merdu,kini terasa parau. Setelah pemakaman kakek tadi yang di temani rintik gerimis, seperti hatiku yang tengah terkikis.
Ku tatap jendela, di luar masih banyak orang tengah mengobrol. Banyak sanak saudara yang datang melawat, tetangga dekat juga silih berganti berdatangan, Karena pada dasarnya kakek adalah orang yang baik dan mau berbaur dengan tetangga, hingga banyak yang merasa kehilangan kakek.
Di keramaian ini aku memilih mengurung diri. Di luar pun toh percuma, hanya akan ada caci makian oma untukku, entah aku ini cucunya atau bukan.
Mengenang masa-masa indah bersama kakek, Waktu itu wisuda SMA ku. Setelah semua acara selesai,kakek mengajaku berkeliling kota, hanya kami berdua. Puas berkeliling kakek mengajaku nonton bioskop, seperti anak muda sedang kencan, Saat kakek membeli tiket dan aku membeli popcorn dan juga minuman untukku dan juga kakek.
Selepas menonton,kami makan di restoran. Aku bebas memilih menu apapun yang ku mau. Hingga pesanan kami datang, ku habiskan makanan yang ku pesan tidak tersisa. Waktu sudah hampir sore kala itu, kakek memutuskan untuk mengajakku pulang,takut nenek sihir marah katanya. Dasar kakek ini, masa istri sendiri di bilangin nenek sihir haha.
__ADS_1
Seharian itu aku di buat bahagia sekali, bisa di hitung dengan jari berapa kali aku merasakan kebahagiaan seperti itu, sangking jarangnya. Hingga kini itu bisa menjadi memori yang terukir jelas di benakku.
Saat tengah asyik bernostalgia gawaiku bergetar, sengaja aku silent dari kemarin setelah sempat mengabari om Bagas tentang kakek. Katanya om Bagas akan datang, tapi entah sedari tadi tidak ku lihat batang hidungnya. Biarlah,yang penting aku sudah mengabarinya.
Tertera bama on Satya di layar handphone ku. Sebenarnya sedang malas, tapi tidak mungkin juga ku abaikan telpon dari om ku ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menggeser ke warna hijau.
"Assalamualaikum" ucapku saat pertama kali telpon ku angkat
Hening...Tak ada suara. Ku lihat lagi layar handphone ku, benar om Satya yang menelpon , tapi kenapa diam saja, Aneh.
"Assalamualaikum om.. haloo" masih tidak ada sautan dari seberang sana. Tidak tau apa kalau aku ini sedang berduka kehilangan malah di jailin kayak gini, menyebalkan. Membuat moodku semakin memburuk.
"Oke kalau gak mau bicara maaf ya om, Dira matiin temponya" ucapku dengan sedikit ketus.
" Kamj baik-baik saja?" Tanyanya. Aku hanya melongo saja, sedari tadi diam hanya ingin bertanya seperti itu?? huuuuft... tarik nafas dalam-dalam. Sabar Dira...sabar..ku elus dadaku menahan emosi. Bagaimana aku baik-baik saja kalau satu-satunya orang yang selama ini menganggapku ada telah meninggalkanku selamanya. Pertanyaan konyol pikirku.
"Dira" ucapnya lagi, Kutrik nafasku dalam, mengontrol emosi yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ya" jawabku
" Apakah om bisa memelukmu, memberikan dukungan terhadapmu?" Kali ini pertanyaannya membut pipiku basah dengan air mata yang entah bagaimana keluar begitu saja.
__ADS_1
"hiks...hiks..." mencoba menekan segala beban yang ada dengan tangis tertahan.
"Om tau kalau Dira pasti saat ini butuh om, Om mengerti betul bagaimana rasanya di tinggal oleh orang yang kita sayangi. Seperti om dulu saat di tinggal ibumu dan nenekmu. Sakit" tuturnya, membuat tangisku pecah seketika.
" Dira ....Dira...hiks..hiks.." tak mampu ku berkata-kata.
"Im mengerti sayang, om mengerti"
"Om akan datang sayang, tunggulah"
klik.
sambungan telepon terputus begitu saja.
Apa katanya tadi?
Akan datang?
Om Satya akan datang kesini?
Katanya harus di rahasiakan, tapi kalau om Satya kesini jadi bukan rahasia lagi dong.
__ADS_1
Aduuh...aku garus bagaimana ini??
Rasa sedihku kini bercampur dengan rasa takut, cemas dan ahhh..entahlah. Kok jadi dag-dig-dug.