Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Hidup segan mati tak mau


__ADS_3

Duka masih mendiami hati dan jiwa Bagus selepas kepergian istrinya Anjani,


sudah 40 harian Anjani tapi Bagus masih belum bisa menghilangkan kesedihan di hatinya,


mengabaikan orang tuanya, istri mudanya dan bahkan anaknya,


sepulang dari rumah sakit Nadira di urus dan di rawat oleh ibunya Anjani yang sengaja untuk sementara waktu tinggal bersama Bagus untuk merawat cucunya,


Satya juga sering datang berkunjung jika sedang tidak bekerja atau kuliah,


perekonomian keluarganya sudah semakin membaik, sehingga ia tidak perlu memikirkan masalah biaya lagi.


Ibu Anjani meluhat menantunya duduk di taman belakang dengan tatapannya yang kosong,


menghampiri dan ikut duduk di depan menantunya itu


menepuk pelan bahunya mencoba memberi kekuatan,


karena sebenarnya dirinya pun sangat kehilangan putrinya Anjani tapi ia berusaha untuk mengikhlaskan kepergian putrinya


"kamu yang kuat nak,


lihat ada Nadira menanti perhatian dari mu"


menyodorkan bayi mungil di hadapan Bagus membuat Bagus tersenyum simpul,


entah kenapa melihat Nadira putrinya membuat ia semakin susah mengikhlaskan kepergian istrinya,


"harusnya kamu di sini sayang,


bersama putri kita"


ucapnya dalam hati memalingkan wajahnya dari putrinya,


melihat itu ibu Anjani merasa iba,


menantunya itu membutuhkan seseorang untuk di ajak bicara yang sekiranya bisa sedikit meringankan beban di hatinya,

__ADS_1


ahh ya ia akan mencoba meminta Satya untuk berbicara dengan Bagus, memberikan dukungan untuk kakak iparnya walau ia tau sebenarnya Satya masih memiliki amarah untuk Bagus kakak iparnya itu tapi terlepas dari semua itu ada nadira yang membutuhkan Bagus sebagai sosok ayahnya.


Hari-hari yang di lalui Bagus seperti raga tak bernyawa,


bangun tidur mandi lalu pergi bekerja tanpa sarapan hanya melihat anaknya sekilas lalu pergi begitu saja,


pulang masuk ke kamar dan mandi,


selepas itu jarang sekali Bagus keluar dari kamarnya,


bahkan ketika anaknya menangis ia hanya melihat dari kejauhan tanpa ada niatan ingin menimangnya,


duduk termenung di kamarnya sembari memandangi foto istrinya yang tengah hamil,


kebetulan saat itu sedang ada acara 7 bulanan mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama,


senyum Anjani terukir begitu indah dan Bagus pun memeluk istrinya itu dengan kedua tangannya di letakkan di perut Anjani yang sudah membesar,


sehari-hari itu itu saja kegiatan Bagus,


Hari ini Satya berkunjung ke rumah almarhum Anjani dan Bagus,


tidak ada jadwak kuliah dan sengaja tidak mengambil pekerjaan untuk menengok ibu dan keponakannya Nadira,


dia datang saat hari masih pagi,


masuk kerumah terasa masih sepi,


melangkah menuju kamar Nadira,


melihat ibunya tengah memakaikan baju keponakannya itu,


beruntung Nadira termasuk bayi yang tidak rewel


jadi tidak membuat ibu Anjani kerepotan merawatnya,


justru ia senang bisa merawat dan dekat dengan cucunya Nadira yang mengingatkannya pada putrinya Anjani,

__ADS_1


Nadira benar-benar seperti kopian dri Anjani.


Melihat Satya ibu Anjani tersenyum lalu menggendong Nadira,


Satya menyalami ibunya dan mengambil alih Nadira dari gendongan ibunya


"biar Satya gendong bu" ketika hendak mengambil Nadira ibunya menghentikan gerakan tangan Satya,


Satya heran tidak biasanya ibunya seperti itu,


biasanya ketika ia datang ibunya akan langsung menaruh Nadira di pangkuannya dan ibunya lanjut membuatkan makanan untuknya,


sadar dengan wajah anaknya yang terheran


"lihat kakak iparmu sat" menunjuk Bagus yang tengah melamun di taman belakang


"kasihan dia,


semenjak di tinggal Anjani dia seperti kehilangan arah,


bahkan sudah 40 harian lebih dia hanya seperti itu-itu saja,


menggedong nadira pun jarang Sat,


ibu kasihan sama Bagus dan ibu juga kasihan sama Nadira cucu ibu,


sudahlah di tinggal ibunya,ayahnya pun enggan memperhatikannya" ujar ibu Anjani menjelaskan


"cobalah bicara dengan Bagus Sat,


semangati dia untuk melanjutkan hidupnya lagi,ada Nadira cucu ibu yang membutuhkan perhatian darinya"


Satya sebenarnya masih enggan berbicara dengan Bagus,


namun keadaannya memaksa ia harus berbicara dengan kakak iparnya itu,


ia tak mau Nadira kekurangan kasih sayang seorang ayah.

__ADS_1


__ADS_2