
Seusai itu, senja menjadi sendu
Awan pun menjadi kelabu
Kepergianmu menyisakan luka dalam hidupku
Ku meminta rindu sampaikan salamku untukmu
yang terkasih yang selalu ku rindu.
Setelah papah melengkapi dokumen persetujuan itu, dokter segera melakukan tindakan lanjutan terhadap kakek dan kini sudah berada di kamar inap. Papah memilih kamar VIP untuk perawatan papah, agar lebih nyaman saja dan pemulihan kakek lebih cepat katanya.
Tidak ada percakapan yang berarti antara aku dan papah, hanya sekedar menjawab jika aku bertanya, sepertinya ia masih marah akan foto itu, padahal sudah ku jelaskan, rupanya itu tak berarti baginya.
Sedangkan Oma rina, Mamah Devi dan Mita sedang liburan, tadi aku dengar waktu papah menelpon oma dan bilang akan segera pulang, tapi sampai sekarang, entah belum juga kelihatan batang hidung mereka. Aku pun sebenarnya tak begitu peduli, hanya saja tak habis fikirku, lebih mementingkan jalan-jalan dari pada kondisi kakek, ya meskipun ada papah yang mengurus semuanya, tapi setidaknya bisa menemani dan meringankan beban pikiran papah ada tempat untuk berbagi.
"Enghhhh... Terdengar lenguhan suara seseorang,
__ADS_1
"A....ir.." ucapnya tergagap lirih
Sontak lamunanku buyar dan mencari sumber suara.
"Kakek" seruku. Senyumku mengembang, ku lepaskan pegangan tanganku dan mendekati wajahnya
"A..ir.." Terdengar semakin jelas, lekas ju ambilkan air di atas meja yang memang di sediakan untuk pasien jika Sudah sadar kata suster tadi saat mengantarkan air tersebut.
"Glek.glek.." Di kembalikannya gelas itu dan ku taruh lagi di tempat semula.
"Putri seneng kakek sudah sadar" ucapku bersemangat, Kakek hanya tersenyum tapi menyipitkan matanya seperti menahan sesuatu.
"Tidak usah sayang, kakek baik-baik saja" ucapnya masih terdengar lirih, tapi lebih jelas dari yang pertama tadi ku dengar.
ku dudukan kembali tubuhku di kursi sebelah kakek,
"Kamu sendiri? mana yang lain?" kakek terlihat mengedarkan pandangannya, ahh harus berkata apa diri ini y Allah jika istrinya tidak ada di saat dia seperti ini.
__ADS_1
"Ah ..emm..itu...anu kek
"Mereka tidak datang?" tepat seratus persen tebakan kakek betul, tapi aku tak mau membuatnya sedih dalam kondisi seperti ini.
"Enggak kok kek, mereka ada di luar bersama papah" Akhirnya keluar juga kebohongan dari mulutku. Selama ini aku tak pernah menutupi apa pun dari kakek, hingga hal- hal kecil pun aku selalu bercerita pada kakek atau mbok Siti, hanya mereka temanku di rumah. Berkat semua perlakuan keluarga ku yang lainnya berhasil membuatku menjadi orang yang cukup introvert, levih senang menyendiri atau melakukan hal-hal positif dari pada harus menghabiskan waktu bersama teman-teman nongkrong-nongkrong gak jelas di luar sana.
"em kamu yakin? dari wajahmu seperti tidak meyakinkan" lagi-lagi tebakan kakekku ini betul sekali,
"Kamu tak pandai berbohong Princessku" lanjutnya lagi di selingi senyum yang ku rindukan.
aku pun ikut tersenyum, tapi tak kuasa jika harus jujur. Kasihan kakek.
"Kamu tidak usah menyembunyikan fakta nak, lagi pula kakek sudah biasa dengan sifat omamu yang seperti itu" kakek mencoba menjelaskan
"Lagipun ada kamu yang selalu ada untukku kan princess " ucap kakek menaik turunkan alisnya di tambah dengan senyuman teduhnya, Ahhh hatiku bebunga di goda oleh kakek-kakek hehe. Andai bisa selalu sedekat ini denganya tanpa terhalang oma atau siapapun, atau andai bisa sedekat ini dengan papah, Aahhhh... terlalu banyak berandai-andai aku ini haha. Tertawa sendiri dalam hati.
"Pasti itu kek" jawabku seraya memluk tubuh lemahnya yang masih terbaring di atas brangkar.
__ADS_1
Saat kami sedang asyik mengobrol tiba-tiba pintu di buka dari luar, dan ternyata yang datang adalah....