
Luka seorang anak ketika ia tak di anggap berharga oleh orang tuanya,
Duka orang tua ketika di tinggalkan anaknya.
Kita perlu kecewa untuk tahu bahagia,
Bukankah luka menjadikan kita semakin kuat?
Belajarlah dari sebuah proses,
Patah bukan akhir dari segalanya bukan??
by. Mamamay
"Astaghfirullah...." Dira mengelus dadanya, mencoba mengontrol emosi dalam dirinya yang ingin meledak.
Ema dan Satya hanya memperhatikan saja, Mereka tahu Dira bisa melewatinya.
__ADS_1
"Ini dia para hadirin yang terhormat, keluarga besar bapak Hamzah beserta anak cucunya" mc acara mulai suaranya ketika mereka semua berjalan beriringan di atas panggung.
Acara pun di muali dari kata sambutan hingga peniupan lilin serta potong kue, semua tertawa bahagia di atas luka Dira.
"Cek..cek.. hehe maaf saya hanya mengetes mikrofon ini berfungsi atau tidak" suara pak Hamzah mengalihkan fokus semua tamu tertuju padanya.
"Terimakasih untuk semua tamu undangan yang sudah berkenan hadir di acara ini, sekali lagi saya ucapkan terimakasih"
"Di hari yang spesial ini saya akan memperkenalkan calon cucu menantu saya alias calon suami untuk Mita cucu saya, mohon kesediaannya untuk pak Rahaja dan nak Biantara untuk meluangkan waktunya sebentar menemani kami di atas panggung ini" pintanya dengan hormat sambil membungkukkan sedikit badannya. Sontak mataku melirik yang bersangkutan, alias si Biantara si Casanova kadal itu, Mata kami saling bertemu pandang untuk beberapa saat dan dengan segera Dira mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ternyata dunia ini begitu sempit ya,hingga tak terduga jika orang di sekitar kita saling sangkut berpautan satu sama lain.
"Terimakasih atas kehormatan ini, bisa di undang ke pesta semegah ini dan di ajak pula kita ke atas panggung ya nak" ucap pak Rahaja dengan sopan, sedangkan Bian hanya diam dan tersenyum kecil seperti tak nyaman berada di atas panggung itu.
Mata Dira tak bisa lepas dari pemandangan kehangatan sebuah keluarga bahagia di depannya. Dia dulu pernah membayangkan hal seperti ini, hidupnya akan penuh kasih sayang dan canda tawa bahagia bersama keluarganya, tapi nyatanya semua hanya angan yang berlalu yang sudah terhapus oleh luka yang menyayat hatinya. Mata nanarnya menatap wajah sang ayah yang tertawa lepas seperti tanpa beban, huhhh tentu tak punya beban karena beban itu sudah dia lepaskan dan membiarkankannya pergi begitu saja, dan beban itu adalah dirinya, Dira.
Setetes air menggenangi pucuk matanya segera ia hapus dengan tangannya dengan elegan, ia tak mau kelihatan lemah di sini.
__ADS_1
"Tapi saya kurang mengerti tentang kalimat tuan Hamzah mengenai Bian yang menjadi calon menantu,haha... apakah anak kita terlibat hubungan tuan? karena jujur saja saya tidak pernah mengetahui hal itu" Lamunan Dira buyar ketika pak senggolan dari Ema tepat sebelum pak Rahaja berbicara tadi.
"Aahh begini sebenarnya pak, cucu saya ini Mita. Dia menaruh hati pada Bian, untuk itu di acara ulang tahunnya saya ingin memberikan kejutan untuknya. Untuk itu saya mengundang anda secara khusus untuk pesta ini. Bagaimana pak apa kita bisa besanan? Tentu itu juga bisa untuk mempererat bisnis kita kan.." ujar pak Hamzah di depan semua tamu undangan yang hadir.
"Bukankah seharusnya hal seperti itu lebih baik di bicarakan secara pribadi, ini malah di pertontonkan di hadapan banyak orang" Lamat Dira mendengar bisikan dari meja sebelah, ada pula yang mendukung pak Hamzah.
"Rupanya begitu pak Hamzah, kalau masalah asmara saya tidak pernah ikut campur pak, semuanya terserah Bian saja. Toh dia yang akan menjalaninya nanti. Lebih baik bapak tanyakan langsung saja pada anaknya langsung" jawab pak Rahaja bijak sambil melirik anaknya yang dia sadari sedari tadi hanya diam.
"Bagaimana nak Bian, apa nak Bian menerima perasaan Mita, cucu saya yang cantik jelita ini?" kini pertanyaan pak Hamzah tertuju pada Bian.
Bian memang Casanova, Casanova kadal kalau kata Dira mah hehe. Tapi di tembak dengan pertanyaan seperti itu langsung oleh kakeknya tentu ia bingung, biasanya ia akan mengeluarkan jurus kadalnya (Biasanya kalau playboy kan di bilangnya buaya, kenapa si Bian malah kadal ya wkwk).
Byang mendapat pertanyaan seperti itu di atas panggung di hadapan tamu undangan yang begitu banyak merasa kikuk, bingung harus menjawab apa....
"Saya.....
Jeng-jeng-jeng....
__ADS_1
kira-kira apa yq jawaban bang Bian alias si Casanova kadal?