Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Anjani sadar


__ADS_3

Bukankah setiap pilihan pasti akan ada konsekuensinya,


entah itu langsung ata lambat laun.


Jadi setiap tindakan kita,


alangkah baiknya pikirkanlah masak-masak,


baikah untuk sekarang hingga nanti.


Bagus kini tengah berada di depan ruangan bayi,


memandangi anaknya dari kaca pembatas,


untuk sementara waktu belum bisa di temui terlebih dahulu untuk memastikan jika semuanya baik dan normal,


air ketubannya pecah sebelum waktunya,


jadi memastikan jika anak Anjani tidak keracunan air ketubannya.


"Alkhamdulillah ya Allah" ucap syukur Bagus selalu tatkala memandang wajah bayinya,


yang bisa lahir dengan selamat walaupun ia belum bisa langsung menimangnya setidaknya ia sudah terlahir dengan selamat ke dunia ini,


air matanya menetes membayangkan Anjaninya berjuang sendirian di dalam meja operasi.


Sedangkan Satya dan ibunya dengan sabar menunggu di depan ruang kakaknya,menanti sang kakak keluar dari icu dan bisa segera di bawa ke kamar rawat inap,


paj Wahyu tadi pamit pulang dulu ke rumah katanya.


Tiba-tiba tenggorokan Satya terasa kering,


ia pamit pada ibunya untuk ke kantin rumah sakit sekalian membeli makanan,


ketika Satya baru saja mau masuk lift dari belakang seorang perempuan berlari dan masuk mendahuluinya dan menenggor bahu Satya,


merasa terganggu Satya hanya mendelikan matanya,


perempuan itu membungkuk dan meminta maaf tapi Satya tidak menanggapinya membuatnya mencebikan bibirnya.


"jangan galak-galak mas nanti gak laku loh" goda perempuan tadi dengan wajah di imut-imutkan


Satya melirik sekilas dan segera berpaling kembali


"dari pada kamu,


jadi perempuan kok pecicilan

__ADS_1


seperti anak kecil" ucapnya judes tanpa menengoknya lagi


"biar kaya anak kecil gini tapi bisa bikin anak kecil loh mas"


Satya kini tak menanggapi lagi ucapan perempuan itu,


sepertinya akan panjang kalau terus meladeninya,


tak lama pintu lift terbuka dan Satya melangkah tanpa mengindahkan perempuan di sampingnya,


"mas hati-hati kalau jalan,


liat ke bawah jangan lempeng aja kayak mukanya haha " teriak perempuan lift tadi.


Satya menghentikan langkahnya dan membuang nafas kasar,


sedangkan perempuan tadi sudah lari setelah mengucapkan kalimat tadi.


Sudah seharian Anjani belum juga sadarkan diri, Bagus dan yang lainnya menjadi khawatir tapi dokter mengatakan kondisi Anjani semuanya stabil tidak ada yang perlu di khawatirkan jadi mereka hanya bisa menunggu sesekali melihat bayi mungil di inkubator,


tepat pukul 10 malam ruangan Anjani di buka dan suster yang mendorong brangkar mengatakan "ibu Anjani sudah sadar dan akan di bawa ke ruang rawat inap" lalu kembali mendorong brangkarnya menuju kamar yang sudah di pesan suaminya,


kamar VIP di pilih Bagus untuk kenyamanan istri tercintanya,


Bagus dan ibu Anjani mengikuti suster sedangkan Satya memilih menemani keponakannya,


dari luar pembatas kaca ia melihat rupa ponakannya yang sperti titisan Anjani kakaknya,


"kasihan sekali kamu sayang,


kamu lahir dalam situasi yang seperti ini,


tapi berbanggalah karena kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang tangguh nak,


seorang ibu bernama Anjani"


Satya bermonolog melihat ponakannya tertidur lelap sekali.


Sedangkan di ruangan Anjani ia mula membuka matanya, melihat sekitar mencari wajah yang di rindunya sekaligus di bencinya,


entah perasaan seperti apa yang Anjani rasakan kini untuk suaminya,


menatap wajah suaminya yang sedang berbicara dengan dokter,


entah membicarakan apa Anjani tak mendengarnya,


sadar istrinya melihatnya Bagus dengan senyum menghiasi wajahnya menghampiri istrinya

__ADS_1


"Kamu sudah bangun sayang?


"kenapa tidurmu lama sekali hm?


"gak rindu sama suamimu yang tampan ini hm?" Bagus mencium seluruh wajah Anjani dengan penuh cinta,


Biasanya dia suka di perlakukan seperti itu,


tapi kini entah rasa itu seperti hampa,


tak di pungkiri memang,


Anjani juga merasakan cinta suaminya yang begitu besar padanya,


tapi setelah mengetahui suaminya menduakannya tembok cintanya mulai goyah,


apakah suaminya tulus selama ini?


atau hanya kasihan padanya?


beribu pertanyaan di kepala Anjani kini bermunculan,


entahlah ia merasa Lelah saat ini,


tak merespon ucapan dan gombalan suaminya tadi dan memilih untuk memejamkan mata kembali,


Bagus kemudian mengecup kening Anjani lama


"kamu pasti lelah sayang,


beristirahatlah, tidur yang nyenyak ya,


aku mencintaimu Anjaniku.


Anjani mendengar semua yang suaminya ucapkan,


membuat sesak di dadanya menjadi tidak karuan,


apakah benar suaminya yang begitu mencintainya tega menduakan cintanya.


maaf ya guys jarang update,


soalnya adik bungsu mau kawinan jadi othornya sibuk-sibuk dulu,


tungguin terus ya kelanjutannya.


dukung karyaku dengan like and vote,

__ADS_1


terimakasih 🙏.


salam sejahtera untuk kalian semua 🤗🤗


__ADS_2