
Orang bilang jika darah itu lebih kental dari pada air,
Namun sering kali hanya air yang ada ketika aku butuh,
Sedangkan darah entah berada dimana.
Bersabarlah,
Sakit adalah cara Tuhan menghapus dosa-dosamu,
Sebentar lagi kamu pasti akan menemukan pelangimu.
Dari sudut ku berdiri,jelas ku lihat tawa bahagia mereka begitu nyaring hingga melupakan sesuatu bahwa aku adalah bagian dari mereka.
Ah tidak, aku salah. Aku tak pernah menjadi bagian dari mereka, aku adalah orang yang kebetulan menumpang saja pada mereka jadi sewaktu-waktu bisa mereka depak kapanpun mereka mau.
Ya Allah ya robb.. Aku hanya manusia biasa yang mempunyai rasa sakit. Jelas rasa sakit itu menumpuk dalam hati ini, jadi jauhkanlah aku dari segala rasa sakit ini ya Allah,aku tak mau semakin terus membenci mereka.
"Nona...Nona Dira" asyik melamunkan masa lalu yang menyakitkan membuatku tak sadar berada dimana hingga sebuah tangan berkibas - kibas tepat di depan wajah ini.
__ADS_1
"Ah iya pak" jawabku segera
"Nona tidak apa-apa?" tanyanya dengan raut wajah khawatirnya.
"Ah tidak apa-apa pak, it's oke. Jadi dimana meja kita?" tanyaku mengalihkan perhatian pak Bian
"Mari ikuti saya, saya memesan ruang VIP agar nona tidak merasa terganggu nantinya" jawabnya dengan gaya pedenya. Sumpah demi apa, ingin rasanya aku tendang ini orang hingga terpental jauh ke Antartika sana. Huftt sabar...sabar Dira ucapku dalam hati.
Akhirnya aku mengikuti langkah sang Casanova kadal yang sok kecakepan itu menuju ruang yang di pesannya sambil sesekali mata ini melirik meja itu, meski sakit mata ini tak bisa menolak untuk melihatnya. Saat memasuki ruang VIP beberapa pelayan ikut berdatangan dengan membawa meja sudah penuh dengan makanan sepertinya karena meja itu penuh dengan piring-piring yang masih di tutup.
Dan benar saja, begitu dudukku sempurna di kursi yang tadi di persilahkan oleh pak Bian para pelayan tadi mulai menghidangkan semua menu yang di bawanya tadi. Rupanya pak bian sudah melakukan reservasi dahulu sebelumnya, benar-benar sudah mempersiapkan rupanya nih Casanova kadal.
"Ah iya pak. Tapi maaf, apa semua makanan inj di pesan hanya untuk kita berempat?" Tanyaku. Bukannya norak atau tidak pernah melihat makanan enak sebanyak ini, hanya saja terlihat mubazir jika makan berempat tapi yang tersaji di meja ini bahkan bisa untuk lebih dari sepuluh orang.
"Ah tentu saja nona, kenapa? apa anda mau memesan yang lain? silahkan pesan saja apa yang nona mau kalau begitu" jawabnya dengan entengnya
"Bukan begitu pak. Kita makan di sini hanya berempat, saya rasa beberapa menu saja sudah cukup untuk kita. Tapi melihat semua makanan yang tersaji di atas meja ini sepertinya ini cukup untuk sepuluh orang lebih. Bukankah itu akan menghadirkan mudharatnya. Lebih baik kita makan secukupnya jika ada rezeki berlebih lebih baik kita bagikan saja kepada yang membutuhkan" jawabku memaparkan pendapat seperti sedang seminar saja.
" Ah.. maaf jika saya terlalu banyak bicara. Bukan maksud saya menggurui pak Bian. Lupakan saja, mari kita makan" ucapku lagi kemudian mengajak makan.
__ADS_1
Sedangkan pak Bian?
Dia hanya diam menganga dan tak merespon segala ucapanku yang seperti kereta api mungkin menurutnya. Sedangkan Ema dan asistennya hanya diam dan tak merespon. Mungkin Ema sudah biasa, tapi entah dengan yang lainnya.
"Prok...prok...prok
"Luar biasa sekali nona Dira ini" Di luar dugaan, pak Bian malah bertepuk tangan dan memujiku, itu berlebihan meurutku.
"Di antara banyaknya wanita yang saya ajak kesini, hanya anda satu-satunya yang bisa menolak segala kemewahan ini. Malah masih mengingatkan saya untuk berbagi. Sungguh luar biasa" lanjutnya terus memujiku
"Itu biasa saja pak. Siapapun bisa melakukannya, saya hanya sebagian kecil dari mereka yang peduli." jawabku tak mau merasa jumawa.
" Mari dimakan pak" ajakku lalu menyuapkan makanan ke dalam mulut setelah berdoa dulu sebelumnya, agar makanan yang masuk ke dalam mulut ini menjadi berkah dan bermanfaat untuk tubuh.
Dan mereka bertiga akhirnya mengikuti ku menyuapkan makanan Mereka. Dan pak Bian memutuskan untuk mengikuti saranku untuk membungkus sisa makanannya untuk di bagikan pada yang membutuhkan.
pelajaran hidup yang dapat ketika di jalanan adalah hidup itu seperlunya, bukan semaunya. jika seperlunya maka semua akan terasa cukup, sedangkan jika semaunya maka apapun yang kita punya tidak akan pernah cukup untuk kita dan akan terus merasa terus kekurangan.
teruslah bersyukur untuk segala yang kita miliki saat ini, insya Allah dengan bersyukur dan di tambah usaha Allah akan menambah lagi nikmatnya untuk kita.
__ADS_1