Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Bertemu big boss


__ADS_3

Itu bukan hak kita untuk menghakimi ,


Bila Allah saja bisa menerima taubat dari dosa-dosa besar hambanya.


Apakah manusia yang merupakan ciptaan_Nya punya pilihan untuk angkuh???


Tiba di sebuah pintu besar berukiran khas jawa pak Satya berhenti, tentu aku pun ikut berhenti di belakangnya, untung gak sampai nabrak tuh batu berjalan hehe.


"Tok.tok.tok" pintu di ketuk oleh pak Satya. Dari tadi aku hanya diam memperhatikan saja, daripada ngomong ujung -ujungnya di cuekin juga kan, mending diam sekalian.


Tak lama pintu terbuka sendiri tanpa ada orang yang membukanya,


"Wa gila sih ini mah lebih canggih dari rumah gue,eh rumah bokao gue maksudnya" suara hatiku bergemuruh dengan segala kecanggihan rumah ini.


"Gak usah kebanyakan bengong, masuk!" perintah pak Satya seraya memberikan map kepadaku,


"Map apa ini pak?" tanyaku heran.


"Itu, sekalian minta tanda tanganya" jawabnya tanpa menatap ku.


"Lah kenapa gak bapak sendiri aja sih yang minta" tolakku terang-terangan,kan dia yang sudah lama bekerja di sini kenapa gak minta langsung saja sih malah menyuruhku.


"Gak usah banyak tanya,tinggak lakukan saja tugasmu, sudah selesai kan"


Aku tak banyak protes lagi tapi memajukan bibirku lima senti dan menatapnya sekilas.

__ADS_1


Memasuki ruangan ini, aroma vanila tercium oleh indera penciuman ku. Menenangkan, aku suka aroma ini, makannya minyak wangiku pun selalu beraroma vanila.


"Permisi pak,saya Dira utusan kafe cabang tiga ingin menyerahkan berkas ini" Ku lihat laki-laki paruh baya,mungkin seumuran sama papah. Dia menatapku tanpa berkedip,melihat dari atas hingga bawah. Hingga aku berpikir apa ada yang salah pada pakaian ku.


"Yuni kemana?" tanyanya to the poin


"Oh itu mba Yuni katanya mendadak ada keperluan keluarga jadi tidak bisa menemui bapak, makanya saya yang di utus beliau untuk menemui bapak" jelasku kemudian dan di angguki oleh pak bos yang masih terus mentapku, membuat aku jadi takut sendiri.


"Silahkan duduk " katanya memepersilahkan, aku pun segera duduk karena kaki ini emang udah pegel dari tadi mengejar pak Satya biar gak di tinggal.


"Namamu siapa tadi?" tanyanya tiba-tiba.


"Oh saya Dira pak' jawabku


"Nama lengkapmu?" tanyanya lagi,eh buset kaya orang mau di sensus aja pake nama lengkap.


"Anaknya Anjani dan Bagus?" menaikan sedikit nada bicaranya, pertanyaannya kali ini membuatku sedikit tidak nyaman. Ku coba memberanikan diri menatap intens wajahnya, sepertinya tidak asing dengan wajahnya,tapi entah siapa aku ingat-ingat lupa.


"Dari mana bapak tahu nama orang tuaku?" tanyaku penasaran


"Ternyata sudah besar ya kamu,dan sangat cantik seperti ibumu Anjani" bukanya menjawab pertanyaanku,dia malah memuji kecantikanku yang katanya sama seperti ibu. Ya memang ku akui jika Wajakhu memang sebelas dua belas cantiknya seperti ibu, sama-sama cantik khas jawa tentunya.


"Bapak siapa? kenapa bisa tahu nama kedua orang tuaku" tanyaku lagi penasaran karena dari tadi tidak mendapatkan jawaban


"Kamu memang tidak pernah tahu saya,tapi saya tahu kamu. Apalagi orang tuamu" ujarnya membuatku menaikan satu alisku, menatapnya dengan tatapan elangku.

__ADS_1


"Haha tidak usah menatapku seperti itu nak, gak sopan loh kamu" tartawa terbahak seperti orang yang sudah saling kenal, dia berdiri lalu sedikit mendekat padaku dan menyenderkan badanya pada meja.


"Gak usah bertele-tele tuan, saya dari tadi sudah bersabar tapi anda malah semakin menguji kesabaran saya" aku pun ikut berdiri dari kursiku


" Ini titipan dari mba Yuni,saya tidak harus menjelaskan isinya kan, Karena mba Yuni hanya menyuruku memberikan inj kepada anda" meletakkan map yang sudah tersusun rapih itu di hadapan pria itu.


"Permisi" ucapku lalu berlalu meninggalkannya sendirian.


Saat hendak memegang gagang pintu langkahku terhenti


"Si"l berkas pak satya" teringat titipan pak satya tadi,ku berbalik dan kembali menghampiri pak bos


"Map hijau itu titipan dari pak Satya, beliau meminta anda menandatanganinya" ucapku kemudian,


map itu di bukanya, entah apa isinya tiba-tiba dia memebulatkan matanaya.


Dan anehnya dia malah menyerahkan map yang belum di tandatangannya itu kepadaku.


"Itu belum di tandatangani pak" tolakku karena memang pak Satya tadi meminta tanda tangan sedangkan itu belum di tandatangani.


"Bacalah lebih dulu!" titahnya tegas,kali ini auranya sedikit berbeda.


Dengan terpaksa aku mengambil map itu dan membacanya.


Betapa terkejutnya aku melihat isi map itu, apakah ini benar? Ku tatap pria di hadapanku memastikan bahwa ini nyata bukan hanya halusinasi ku saja dan di jawab dengan anggukan kepala olehnya.

__ADS_1


Ku terduduk lesu, Ya Allah benarkah ini..


aku menangis terharu..


__ADS_2