
Waktu berjalan begitu lambat malam ini,
Anjani masih terus saja terbayangkan wajah Bagus,ia tidak bisa menghapus wajahnya, senyumnya, tatapannya, aaah membuat hati tak karuan. Ini kali pertama Anjani merasakan rasa yang seperti itu,dulu banyak yang menyukainya tapi ia biasa saja, bahkan cenderung cuek bahkan waktu bertemu Bagas pun ia tak merasakan seperti ini,hanya sekedar kagum dengan ketampanannya saja,
tapi ini berbeda, hatinya berdetak tidak karuan, tapi sepersekian detik ia menggelengkan kepalanya,
"aku gak boleh seperti ini,aku harus buang jauh perasaan ini,sadar diri Jani kamu siapa mas Bagus siapa,kita ini jauh berbeda, bahkan temboknya sangat tinggi dan tak mampu gu gapai huffttt " Anjani menghembuskan nafasnya kasar, ia harus segera tidur karena besok pagi harus mulai bekerja lagi.
Ribuan detik watu terlewati, suara kumandang adzan bergema memanggil hambanya untuk segera menghadap sang pencipta,
Anjani bangun dengan perasaan yang tidak karuan,tapi ia harus seprofesional mungkin,ia tak mau ada masalah kedepanya,ia masih membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi ibu dan adiknya,ia bersyukur bisa memperbaiki perekonomian keluarganya,
dari bekerja di sini ia bisa merenovasi rumahnya yang hampir rubuh,bisa menyekolahkan adiknya, membangun warung kecil di depan rumah untuk kegiatan ibunya agar tak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya, sebenarnya Anjani mampu membiayai hidup ibu dan adiknya tanpa ibunya bekerja sekalipun,tapi ibunya bersikeras untuk tetap bekerja, untuk kegiatan saja katanya jadilah Anjani membuatkan warung kecil itu,semua keperluan Anjani sudah terpenuhi oleh majikannya jadi semua gaji bisa ia kirimkan ke ibunya,ia pulang ketika lebaran saja atau ada keperluan keluarga selebihnya ia memilih untuk bekerja dan menghasilkan banyak uang untuk di tabung guna keperluan masa depannya,itu yang membuat bu Rina Senang dengan pekerjaan Anjani yang rajin dan gesit.
Seperti biasa ia dan bi Siti menyiapkan sarapan untuk majikannya,bedanya porsi sarapannya di tambah karena keluarga bu Rina dan pak Wahyu dalam formasi lengkap kali ini,
__ADS_1
setelah tertata rapih di meja makan satu persatu penghuni rumah berdatangan kemeja makan, Anjani dan bi Siti segera kebelakang setelah majikannya duduk di meja makan.
bu Rina menyedokan nasi untuk suaminya terlebih dahulu baru kemudian untuk Bagus dan Bagas, kemudian mereka mulai makan dengan tenang
"hmm rasa masakannya sedikit berbeda,apa dirumah kita ada Chef baru? atau bi siti menggunakan resep yang berbeda ma?" tanya Bagus ketika ia mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya
"gak kok Gus,ini masih masakannya bi Siti dan pake resep seperti biasanya" ujar bu Rina memberi jawaban pada putranya
"tidak enak ya?" tanyanya kemudian karena melihat ekspresi putranya yang seperti kebingungan
"oh kalu itu biasanya Anjani sering ngasih ide-ide gitu sama bi siti, kayak yang ini ni Anjani menambahkan sosis kedalamnya biar lebih enak katanya dan ya memang lebih enak saja makanya mamah ijinin aja setiap Anjani mau membuat menu baru atau variasi makanan sesuai keinginan dia, selagi masih cocok di kidah kita dan enak seperti ini tentunya " ujar bu Rina sambil tersenyum memandang putranya
Bagus hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti ucapan ibunya
"tak hanya cantik tapi juga pandai memasak,calon istri idaman ini mah" kata Bagus dalam hati
__ADS_1
Anjani yang berada di dapur pun masih bisa mendengar suara Bagus,ia hanya tersenyum mendengar Bagus memuji kreasi masakannya itu
"makanya bang pulang kalau liburan tuh ini mah ogah banget kayaknya pulang, udah punya gebetan lu ya disana" sela Bagas tiba-tiba
Bagus menoyor kepala adiknya itu yang berucap sembarangan,
"gue di sana belajar supaya cepat selesai,gak kaya elu yang banyakan main sama pacaranya ketimbang belajarnya makanya gak selesai - selesai"
"enak aja lu bang,gak mah aku beneran kuliah kok bener gak seperti yang abang bilang tadi " elak Bagas dengan cepat takut mamanya marah mendengar ucapan abangnya tadi
"serius kok gak lulus-lulus gas" celetuk pak Wahyu tiba-tiba
"uhuuuk uhuuuk " Bagas yang disindir sampai tersedak pasalnya kakanya sudah lulus S2'y sedangkan ia S1 pun belum selesai, Bagas hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tak mampu menjawab ucapan papahnya, sedangkan Bagus hanya tersenyum melihat Bagas seperti itu.
kekuarga mereka sangat hangat tak ada paksaan atau otoritas keluarga, semuanya sama semuanya di bebaskan asal masih batas wajar.
__ADS_1