
Hari ini Devi dan Mita Saputri anakku sudah di ijinkan untuk pulang karena kondisi mereka di nyatakan sudah normal semua oleh dokter hanya perlu melakukan kontrol rutin saja.
Aku menyelesaikan urusan administrasi dan mamah membantu Devi berkemas di dalam kamar, sementara papah dan papah Hamzah mengambil mobil dari parkiran.
Setelah semuanya siap aku menggendong putriku yang mungil sementara mamah mendorong kursi roda Devi, sebenarnya Devi sudah bisa berjalan tapi mamah memaksa untuk menggunakan kursi roda biar aman dan biar tidak capek katanya.
Mobil sudah siap di depan lobi rumah sakit, mamah mengambil Mita dari gendongan ku dan masuk kedalam mobil,kalau sudah begini harus aku yang membantu Devi masuk ke mobil, daripada nantinya panjang lebih baik segera ku papah Devi masuk ke mobil ayahnya dan aku pun ikut masuk duduk di sebelah Devi kalau tidak sudah pastilah mamah akan mengeluarkan ancamannya.
Semenjak ancaman mamah waktu itu terhadap Putri waktu itu, beliau selalu menggunakan itu sebagai senjata untuk memaksaku melakukan apapun sesuai kemauannya dan bodohnya aku selalu menuruti kemauan mamah,takut mamah benar-benar nekat dan melakukan sesuatu pada Putri, sebisa mungkin aku melindungi Putri dari apapun yang bisa membahayakannya termasuk dari neneknya sendiri. Aku selalu berpesan pada Ema untuk selalu di samping Putri apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan dia sendirian,aku terlalu takut terjadi sesuatu pada Putri.
Mobil sudah sampai di pelataran rumah mamah, ku menuntun Devi turun dari mobil dan memapahnya masuk kedalam rumah di ikuti mamah menggendong Mita serta papah dan papah Hamzah di belakangnya.
"Bawa masuk ke kamar saja Gus, kasihan Devi pasti lelah di perjalanan tadi" ucap mamah yang kemudian di jawab senyuman oleh Devi yang kemudian melirikku, seakan mengerti aku langsung membawa Devi me kamarnya, ku rebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur dengan berhati -hati setelah itu aku beranjak meninggalkan kamar, ketika hendak menggapai gagang pintu langkah ku di hentikan oleh Ucap Devi
"Terimakasih mas" ku lirik Devi sekilas dan mengangguk memberikan jawaban atas ucapan terimakasihnya lalu segera keluar menemui yang lainnya.
Di ruang tamu papah dan papah Hamzah tengah mengobrol, sedangkan mamah tidak terlihat mungkin sedang menidurkan Mita di kamarnya. Ku berlalu melangkahkan kakiku ke kamar Putri, semenjak Devi masuk rumah sakit Bagus jadi kurang waktu bersama putrinya itu.
__ADS_1
Memasuki kamar Putri dan Ema, sengaja ku tempatkan Ema sekamar dengan Putri agar dia bisa menjaganya 24 jam dan itu membuatku merasa tenang,ku lihat putri kecilku yang bahkan kini sudah punya adik itu tengah tertidur di ranjangnya dengan boneka kuning kesayangannya itu.Duduk di tepi ranjang anaknya,Bagus terus memperhatikan wajah putrinya, sementara Ema memilih keluar memberikan ruang untuk ayah dan anak itu untuk melepas rindu. Sebenarnya sejak ancaman mamahnya ia jadi tidak bisa bebas mendekati Putri,ia tahu mamahnya adalah orang yang nekat jika sudah kemauannya ia akan melakukan apapun untuk tujuannya. Lebih baik sekarang seperti ini dulu, dia menurut lebih dulu untuk keamanan putrinya itu. Setelah puas memandangi wajah anaknya,Bagus mencium pipi anaknya dan berbisik " Papah sangat menyayangi mu nak" kemudian berlalu dari kamar anaknya.
Ku langkahkan kaki menuju dapur karena hendaj mengambil minum,ku dengar papah masih mengobrol dengan mertua
"Bagaimana kalau kamu pindah kesini saja Ham biar bisa terus dekat dengan anak dan cucumu" terdengar suara papah tengah berbincang dengan papah Hamzah
"Mauku juga begitu Yu,cuma bagaimana dengan perusahaan di sana, aku belum menemukan orang yang bisa aku percaya" jawab mertua
"Ya memang tidak mudah jaman sekarang mempercayai orang, salah-salah nanti malah kita di tusuknya dari belakang " papah menimpali jawaban mertua
Papah terdiam mendengar ucapan papah Hamzah, meliriknya tajam....papah Hamzah pun tak kalah tajam tatapannya
"Hahaha" tiba-tiba mereka tertawa bersama, ah entahlah hanya mereka yang mengerti tentang becandaan mereka.
sebenarnya Bagus sendiri kurang setuju jika mertuanya itu ikut tinggal di sini,bukan karena masalah biaya tapi jika mertuanya itu tinggal di sini ia tidak bisa bebas menemui Putri dan juga tidak bisa bebas melakukan hari-hari seperti biasanya.
Saat menuju kamar terdengar suara mamah seperti sedang marah-marah
__ADS_1
"Kamu itu mau memeras saya ya, terus-terusan minta uang,di kira aku ini atm berjalan apa" suara mamah terdengar berbisik seperti tidak ingin orang lain mendengar
"......."
"Si***n..baiklah aku kirim, tapi ini yang terakhir, mengerti kamu!" nada bicara mamah mengancam lawan telepon di sana lalu tidak terdengar lagi suara, hanya terdengar suara hembusan nafas kasar.
Entah dengan siapa dia mengobrol??
kira-kira siapa yang telepon sama bu Rina yah?
Ikuti terus Karyaku ya,
like,komen,and vote ya,
terimakasih 🙏🙏
salam sejahtera untuk kalian semua 🤗😊
__ADS_1