Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Pilihan sulit


__ADS_3

Jiwaku hampa tanpa hadirmu


Rasaku tawar tanpa cintamu


Meski raga ini tak bersamamu


Cintaku selamanya hanya untuk dirimu.


by: Anjani


Tempat ini menjadi lebih dingin dari biasanya. Entah ini hanya perasaanku atau karena aura papah Hamzah yang berbeda. Dia terlihat seperti mafia yang akan menghukum musuhnya, sungguh membuat nyaliku menciut. Di tambah, ternyata selama ini papah mengetahui semua yang ku lakukan pada Devi, anaknya.


"Saya mau kamu memperlakukan Devi sebagaimana mestinya seorang suami memperlakukan istrinya dengan baik" Ucapnya lembut kemudian, berbeda seperti tadi yang seperti ingin memakanku hidup-hidup.


"Saya hanya mau anak dan cucuku bahagia" lanjutnya lagi, papah mendekatiku dan memelukku. Ku rasakan bahunya sedikit berguncang, apa papah menangis pikirku. Papah menarik tubuhnya dan tatapanya kini kembali dingin, setelah tadi dia berucap tenang sekarang bisa seperti ini lagi.


"Tapi saya harus memastikan hidup anak dan cucuku bahagia selamanya" kemudian dia mendekatkan bibirnya dan membisikkan sesuatu.


Aku terbelalak, sungguh tak mengira jika dia menginginkan hal segila itu. Tidak mungkin ku lakukan itu pada anaku,tidak.. tidak mungkin. Aku sungguh menyayangi anaku, bahkan nyawa pun akan ku berikan untuknya. Ku gelengkan kepalaku menyadarkan diri ini

__ADS_1


"Aku gak mungkin melakukan hal itu pah, anak-anakku adalah hidupku. Jadi akan ku lakukan yang terbaik untuk mereka bukan malah seperti itu. Itu sama sekali tidak adil untuknya" ucapku lantang memberanikan diri demi membela hak anakku.


"Papah tertawa sinis,membawa kedua tangannya dan melipanya di depan dadanya.


"Semua terserah padamu menantuku"


"Tapi satu yang harus kau pikirkan jika kau tak menerima syaratku tadi"


Ku meliriknya malas, bagaimana pun aku tak akan melakukannya.


"Jika kau tak menerima syaratku kau akan kehilangan pekerjaan,dan setelah kau bebas ku pastikan kau tak akan mudah mendapatkan pekerjaan dan tentu itu berpengaruh pada masa depannya bukan?" ucapnya, membuat otakku ku berpikir .


Aku tidak mungkin membuat Mereka masuk dalam situasi seperti itu. Jika kerjaan mungkin aku bisa berusaha dari nol lagi kedepannya. Tapi jika sanksi sosial itu? Mungkin benar, mereka akan menerima itu seumur hidup. Label mantan narapidana akan melekat pada diri ini.


Tapi apa aku harus melakukan semua yang papah Hamzah minta?


Apa aku sanggup melakukan itu?


Ku tertunduk lesu, menjambak rambutku sangking frustasinya.

__ADS_1


"Hahaha... jangan terlalu banyak berpikir anak muda" tawanya membuyarkan segala pikiran ku.


"Lagi pula Ingat, saya bisa melakukan APAPUN sesuai kemauanku" sengaja ia menekankan kata apapun karena ia benar-benar bisa melakukannya walaupun menggunakan cara kotornya.


"Apa tidak ada syarat lain selain mengorbankan anakku pah" ku beranikan diri menatapnya.


"Papah kan juga orang tua, tentu ingin anak-anaknya bahagia bukan pah?" Mencoba bernegosiasi, siapa tahu hatinya sedikit melunak.


"Tidak bisa" Teriaknya lantang sambil menggebrak meja di depannya. Aura kemarahannya jelas terlihat.


"Kamu benar, anaku tentu harus bahagia tapi terserah dengan anakmu, Itu urusanmu. Mengerti??" Lanjutnya lagi.


" Jadi bagaimana? apa keputusanmu menantuku?" Tanyanya dengan seringai di wajahnya.


Aku tak bisa berfikir dengan baik kali ini,semua hal-hal buruk melintas di pikiranku. Mamah,papah, anak-anakku,masa depan mereka,semuanya melintas berputar begitu saja.


Apa aku harus menerima syarat dari papah Hamzah?


kira-kira keputusan apa yang akan di ambil oleh Bagus???

__ADS_1


__ADS_2