
Setelah mengetahui kehamilan Devi tak membuat Bagus lebih memperhatikan istrinya itu,ia tetap fokus pada kehidupan Putri dan pekerjaan saja, selebihnya ia hanya mengikuti alur saja.
Kandungan Devi kini sudah memasuki usia 7 bulan dan rencananya minggu besok ibu Rina akan melangsungkan acara syukuran 7 bulanan kehamilan Devi dengan mewah,sebenarnya Bagus kurang setuju karena ini anak kedua baginya jadi tak perlu lah mengadakan acara mewah seperti itu tapi bu Rina tetep kekeh dengan keinginannya di tambah dukungan dari papah Hamzah ayah Devi,aku tak berkutik lagi hanya mengikuti arusnya saja.
Acara berjalan dengan lancar tak ada kendala berarti, Putri juga selama ini tidak pernah rewel selama Ema berada di dekatnya.
Entah karena memang belum ada rasa cinta untuk Devi di hati ini acara ini tidak ada kesan tersendiri, tidak seperti waktu tujuh bulanan Anjani saat mengandung Putri, rasanya sangat senang,haru dan sangat bahagia.
Dua bulan berlalu
"kring... kring..."
handphone ku berdering di tengah pekerjaan ku yang menumpuk, tertera nama mamah di layar hp, ku ambil gawaiku dan segera mengangkatnya
"Assalamualaikum mah"
"Waalaikumsalam, Gus cepetan ke rumah sakit" suara di seberang sana terdengar khawatir
"Rumah sakit? siapa yang sakit mah?" tanya ku pada mamah
__ADS_1
"Devi Gus, Devi mau melahirkan cepetan ke rumah sakit sekarang ya" aku seperti Dejavu, dulu saat Anjani melahirkan aku bahkan sedang berlibur di luar kota bersama Devi, sekarang Devi melahirkan dan itu membuat jantungku berdetak lebih cepat tapi entak kenapa hatiku tak tergerak untuk segera ke rumah sakit.
"Bagus banyak kerjaan mah, nanti kalau pekerjaan Bagus sudah selesai Bagus nysusul ke rumah sakit mah" tutur ku pada mamah, karena memang pekerjaan ku sedang banyak-banyaknya.
"Kamu itu ya Gus, istri mau melahirkan malah mikirin kerjaan, pokoknya mamah gak mau tau, kamu cepetan kesini sekarang atau putrimu yang jadi taruhannya" kini suara mamah membuat jantungku benar-benar hampir berhenti,kenapa putriku yang jadi taruhan?
"Apa maksud mamah Putriku taruhannya?" tanyaku marah meminta penjelasan atas ucapan mamah.
"Jika kamu tidak datang sekarang lihat saja apa yang akan aku lakukan pada putrimu itu"
Klik, mamah langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dariku.
Karena takut terjadi apa-apa pada putriku aku pun segera bergegas meminta ijin, beruntung pimpinan memberikan ku ijin di tengah pekerjaan yang tengah menumpuk.
Segera ku melajukan mobilku menuju rumah sakit tempat Devi melahirkan, sesampainya di rumah sakit ku parkirkan mobil ku dan langsung menuju lobby rumah sakit untuk menanyakan kamar bersalin Devi. Setelah mendapat informasi segera ku melangkahkan kakiku ke kamar Devi, dari jauh ku lihat mamah tengah jalan mondar-mandir seperti ketakutan.
"Mah"
mamah menoleh dan segera memelukku,
__ADS_1
"Syukurlah kamu segera datang nak, tadi Devi baru saja masuk ruang bersalin, tadi kata dokter Devi harus segera di lakukan tindakan operasi karena air ketubannya sudah pecah tapi pembukaannya tidak bertambah" jelas mamah kepadaku.
Aku terpaku mendengar penjelasan mamah, aku memang tidak memiliki perasaan apa-apa pada Devi tapi anak yang ada dalam kandungannya adalah tetap anakku tentu aku merasa khawatir terjadi apa-apa padanya.
"Ya Allah berikanlah kelancaran untuk persalinan Devi, selamatkan ibu dan anakku ya Allah" doaku lirih masih memeluk mamah yang sepertinya sangat khawatir terhadap menantu dan cucunya.
"Kenapa saat Anjani melahirkan mamah tidak khawatir seperti ini mah? jangankan khawatir bahkan mamah datang pun tidak" sudut hatiku ngilu mengingat perlakuan mamah terhadap Anjani.
Akankah Devu dan anaknya selamat??
ikuti terus ceritanya ya..
like komen and vote terus Karyaku,
jika ada bisa kasih gift seikhlasnya 😊
terimakasih 🙏
salam sejahtera untuk kalian semua 🤗🤗
__ADS_1