
"apa-apaan kamu Bagus,
mamah memang membebaskan kamu dan adikmu memilih pasangan tapi kenapa harus dengan dia" menunjukan Anjani yang sedari tadi menundukkan wajahnya,ia tak menyangka jika respon bu Rina sampai seperti itu,ia pikir dengan kebaikan bu Rina bisa menerima ia sebagai kekasih anaknya.
"memang nya kenapa dengan Anjani mah?
aku sangat mencintainya" ujar Bagus penuh keyakinan mengahampiri Anjani dan menggenggam tangannya memberikan kekuatan pada Anjani,
"kenapa kamu bilang? dia itu pembantu di rumah kita Gus apa tidak ada wanita lain selain dia yang bisa kamu cintai, setidaknya carilah yang sederajat dengan keluarga kita,bukan pembantu seperti dia" terus menunjuk wajah Anjani membuat Anjani tak berani menegakkan kepalanya,
"memang nya kenapa kalau Anjani pembantu?
aku tak masalah, dia cantik, baik, dan aku sudah jatuh hati padanya semenjak pertemuan kita bertemu" penuturan Bagus membuat bu Rina semakin murka dan tak percaya
"jadi selama itu kami sudah menjalin hubungan dengan dia?
ya ampun Bagus...di pakai dong otakmu,
kamu tampan, berpendidikan dan mapan, banyak gadis di luaran sana yang ingin menjadi pacarmu, malah memilih dia yang jelas-jelas pembantu di rumah kita" sungut bu Rina masih dengan emosi yang membara
"tapi aku hanya tertarik dengan Anjani mah bukan wanita lain,dia segalanya bagiku"
pernyataan Bagus membuat bu Rina semakin murka,dia memandang wajah Anjani lalu mendekatinya tapi dengan segera Bagus menarik tubuh Anjani kebelakang nya, Bagus takut ibunya akan menyerang Anjani
"heh.. sampai segitunya kamu melindungi pembantu itu" ujar bu Rina marah
__ADS_1
"Kenapa dari tadi mamah terus menerus menyebut kata pembantu? pembantu juga manusi mah dia sama dengan kita" ujar bagus sedikit meninggikan suaranya,ia tak suka mendengar Anjani di rendahkan terus menerus oleh mamahnya sendiri, Anjani mengelus lembut tangan Bagus agar tidak terbawa emosi,ia tak mau membuat bu Rina semakin marah kepada nya,
"pakai sihir apa kamu bisa membuat anaku jatuh cinta padamu gadis kampung"
"mah..." sela Bagus semakin meninggikan suaranya
"apa? kamu sudah berani sama mama hah?
cuma gara-gara pembantu sialan itu kamu sudah berani meninggikan suaramu Di depan mamah?" ujar bu Rina emosi
"mah sudah mah,nanti kita selesaikan di rumah"
" Bagus, kamu juga segera berkemas kita kembali kerumah dan tidak ada penolakan"
Sesampainya Bagus dan Anjani dirumah, di ruang tengah sudah ada orang tuanya menunggu dengan sorot mata yang tajam,
"duduk Gus, Jani" titah pak Wahyu
mereka hanya menuruti saja
"apa yang mau kalian sampaikan?" pak wahyu memulai percakapan ini dengan tenang
"aku mau menikah dengan Anjani pah" jawab Bagus penuh keyakinan,
bu Rina hendak bicara tapi pak Wahyu menahannya
__ADS_1
"kamu yakin?" tanya pak Wahyu lagi memastikan keputusan ankanya
"sangat yakin pah"
lalu pak wahyu melirik ke Anjani
"kalau jamu Jani,kamu mau menikah dengan Bagus anakku?" kini Anjani memandang pak wahyu lalu ke bu Rina yag terlihat tidak suka dengan pertanyaan suaminya itu
"saya mau pak" jawab Anjani pasti lalu menundukan wajahnya lagi menggenggam tangan Bagus begitu erat,
"apa-apaan papah ini malah bertanya seperti itu" sungut bu Rina kemudian melirik ke Anjani dengan kemarahan
" loh kenapa mah? anak kita sudah punya pacar dan may menikahinya, masalahnya dimana?" tanya pak wahyu masih dengan wajah tenang
"iya tapi tidak dengan dia" jawab bu Rina menunjuk wajah Anjani membuat suaminya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
"kamu mempermasalahkan setatus ekonomi?
kamu gak inget kamu juga dulu cuma orang biasa mah yang aku persunting dan orang tuaku tak mempermasalahkan itu, tapi kenapa jadi sekarang kamu seperti itu mah?" ujar pak Wahyu menegaskan bahwa bu Rina juga Awalnya hanya orang biasa
"ya tapi beda dong pah, mamah dulu gak jadi pembantu" ucap bu Rina Masih membela diri
"sama saja mah,kita di mata tuhan ini sama tak ada yang berbeda jadi jangan menghalangi Bagus jika ingin menikahi Anjani " ucap pak Wahyu penuh penekanan lalu beranjak dari kursinya,
bu Rina hanya mampu terdiam sambil melirik Anjani penuh kebencian sedangkan ada sedikit kelegaan di wajah Bagus dan Anjani mendengar ucapan pak Wahyu tadi.
__ADS_1