
Jika rasaku tertuju padamu,
kenapa harus ku labuhkan perasaanku di pelabuhan lain?
Harusnya kamu tahu itu,
Perasaan ku sedalam itu padamu.
EKkheem...
"Boleh saya duduk di sini?" Suara bariton memecah lamunan Dira yang tengah asik menikmati hembusan angin malam.
Dira mengangkat kepalanya, wajahnya tak terlihat karena terhalang cahaya hanya seperti siluet gambaran seorang laki-laki.
"Boleh?" Tanyanya lagi
ckk.. mengganggu keasyikan orang aja nih orang,kan bangku di taman ini bukan cuma ini. Tapi sayangnya itu hanya terucap dalam hati saja tak mampu lisan ini berkata.
Dira menggeser tubuhnya hingga menyentuh tepian kursi panjang itu dan sang pria langsung duduk begitu melihat Dira menggeser tubuhnya, senyum terbit dari bibirnya terlihat dari pipinya yang mengembang.
"Kenapa menyendiri nona?" si pria kembali bertanya pada Dira.
Dira yang ingin sendiri sebenarnya sedikit terganggu dengan hadirnya pria itu, di tambah lagi si pria banyak bertanya membuatnya semakin jengkel saja id buatnya.
Dira menatap pria itu, dan betapa terkejutnya melihat pria itu adalah Biantara, Laki-laki yang di lamarkan langsung oleh pak Hamzah untuk Mita adik tirinya. Dira mengernyitkan dahinya,heran kenapa Bian bisa berada di sini padahal jelas tadi dia berada di atas panggung dan sedang berbahagia dengan keluarga harmonis itu.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Sedang puasa bicara nona?" Bian menaik turunkan alisnya seperti sengaja menggoda.
Sudah tahu malam masih saja bilang puasa, adapula puasa bicara katanya hmmm aneh.
"Untuk apa tuan Bian yang terhormat berada di tempat seperti ini?" Tanyaku tak ada niatan membalas semua pertanyaannya tadi.
"Nyamperin bidadari nyasar di sini" jawabnya enteng sambil melihat hamparan langit luas.
"Ck... gak lucu tuan Bian. Maksudku bukankah tadi anda sedang di daulat menjadi calon suami dari Mita yang seorang model dan cucu dari pak Hamzah pengusaha ternama itu. kenapa jadi tiba-tiba muncul di sini begitu saja?" Tanyaku menjabarkan dengan sedetail mungkin agar tidak ada alasan untuknya mengeles jawaban lagi.
"Sebentar -sebentar... apakah pertanyaan itu menandakan bahwa anda tengah cemburu nona Dira?" Bian menatap Dira dan menaik-turunkan alisnya,ck menyebalkan batin Dira.
"Ck...maaf jika mengecewakan anda tuan Bian yang terhormat. Sayangnya saya tidak merasa cemburu sama sekali tuh" ucap Dira pasti, dengan penuh keyakinan.
"Lantas kenapa nona meninggalkan kursi nona tadi saat saya hendak menjawab lamaran langsung pak Hamzah padaku?" Tanya Bian dengan wajah penuh harap. Berharap bahwa Dira benar merasa cemburu padanya.
Flashback
pov Dira
Aku tidak ingin lemah, sungguh tak ingin. Namun sungguh diri ini hanyalah manusia biasa yang mempunyai titik lemah.
Aku tidak iri sama sekali dengan Mita, adik tiriku itu,tidak. Aku hanya merasa jika diri ini benar-benar tiada arti, bahkan oleh orang yang membuatku berada di dunia ini. Ketiadaan diri ini dalam hidupnya tak berpengaruh sama sekali.
Adegan menyakitkan ketika bapak Bagus sahputra menggandeng terua tangan putrinya itu dengan erat, seakan takut putrinya terluka sedikitpun, menciumnya penuh kasih sayang dan tawanya yang tak pernah pudar dari lekukan bibirnya. Sungguh pemandangan yang menggores hati. Mungkin mata ini sudah memerah di buatnya karena tak tahan menahan bendungan air mata yang tertahan sedari tadi. Tak tahan diri ini ingin segera meninggalkan tempat ini
__ADS_1
"Em, aku ke toilet sebentar" ucapku memberitahu Ema, takutnya ia nanti bingung jika tiba-tiba saja aku pergi.
"Mari saya temani" jawabnya,
"Tidak usah, kayak anak kecil saja ke toilet minta di antar" sergahku segera,ingin menyendiri tapi malah di temenin kan gak lucu.
"Tapi.." ucapannya berhenti ketika ku lihat Ema melirik tangannya yang di pegang om Satya, Aaah om ku ini emang paling ngerti banget.
Segera ku tinggalkan gedung acara itu. Menyusuri malam dengan langkah tak menentu di tambah perasaan ini, aku benci diri ini yang begitu lemah. Bukankah aku sudah bertekad untuk menjadi kuat? kenapa malah jadi begini. Tidak, tidak bisa aku terus begini.
Ku edarkan pandanganku dan melihat ada taman di depan hotel ini, ku putuskan untuk mencari udara segar di sana saja.
Duduk di bangku dan melihta hamparan langit malam yang luas, di penuhi bintang-bintang dan bulan yang masih berbentuk sabit. Ku hirup udara dalam-dalam,ku hembuskan kasar menumpahkan segala sesak di dalam dada.
"Tuhan, kenapa engkau ciptakan sakit ini?? jangan jadikan aku rapuh tuhan" ucapku lirih sambil menepuk dada ini.
Puas menumpahkan segala sesak di dada, ku memilih tetap di sini, sunyi, sepi, damai terasa. Ku tutup mata ini dan menikmati kesunyian malam di tengah hingar-bingar pesta tadi.
Tapi tiba-tiba sebuah suara mengusik ketenangan ini,
"Ekhemmm.."
Ku angkat kepalaku dan mendongakkannya, melihat gerangan siapa yang mengganggu diri ini
dan ternyata tak lain dan tak bukan, dia adalah Biantara si Casanova kadal itu.
__ADS_1
Hufff...Ujian datang batin Dira.
Flashback End