
*Setiap jalan hidup yang kita lalui *
Harus bisa mendatangkan pelajaran
Untuk terus menapaki jalan itu.
Karena jalan kehidupan begitu panjang
Dan Bermakna.
Ku pikir aku sudah lewat, alias metong. Tapi ternyata Allah masih memberikan waktu ku di muka bumi ini. Ku terbangun dengan rasa menggelayar di tubuh,entah rasa apa ini. Langsung ku ingat ibuku,ku tengok dia ke ranjangnya, masih sama, setia memejamkan matanya dan selang infus masih menempel di tangganya. Ku lihat wajahnya semakin pucat saja.
Ku hampiri dia dan duduk di sampingnya, memeluknya, menumpahkan segala perasaan di dada ini dengan menangis seorang diri. Kapan ini semua akan berakhir ?
Ku memandang sekitar,ada hordeng pembatas di belakang,entah pembatas apa. Penasaran, ku dekati hordeng itu mencari tahu ada apa di baliknya. Ternyata ada dapur kecil dan kamar mandi. Kebetulan tubuhku sudah sangat lengket, segera ku bersihkan seluruh tubuh, mengguyurnya dengan air dingin. Kini tubuhku sedikit lebih segar, ku bawa kain basah dan air di mangkuk kecil untuk membersihkan tubuh ibu. Ku lap-lap seluruh tubuhnya, berharap ibunya merasakan kesegarannya sama seperti dirinya.
Entah sudah berapa lama kami di sini, aku tak tahu. Perut terasa amat lapar, butuh sesuatu untuk di makan. Ku tengok di pintu depan ada bungkusan hitam, ku dekati dan lihat isinya. Ternyata makanan, terimakasih ya Allah atas segala nikmatmu. Segera ku buka bungkusannya dan melahap habis semuanya, karena memang terasa lapar sekali. Entah sudah berapa perut ini tak mendapatkan haknya untuk di isi.
Hari mulai gelap, terlihat dari cahaya matahari yang sudah tidak terlihat di celah-celah genting. Aku masih terduduk di samping ibuku. Samar ku dengar ada langkah kaki seseorang, ku intip dari lubang pintu, ternyata mereka. Aku harus berlari ke ranjang ku lagi sama seperti kemarin. Bukannya aku takut, jika satu lawan satu sih oke-oke saja,lah ini mereka berempat, bisa mati aku di keroyok mereka.
Belum sempat ku berlari,ku hentikan langkah ketika mereka memilih mengobrol di luar.
"Eh jadi gimana bro tawaran orang tadi?" kata si A
"Tawaran apa?" tanya si B
__ADS_1
"Itu loh yang tadi ada laki-laki yang nawarin kita buat bawa tuh dua orang di dalam,kan lumayan jadi ringan tugas kita bro,gak perlu lagi jagain tuh mereka" jawab si A
"Lagian kan uang sisa bayaran dari bu Rina udah masuk, jadi nanti kita tinggal nikmatin uangnya aja,birlah laki-laki tadi yang urusin tuh tawanan kita" jawab si D
"Iya bro, udah terima aja sih. Bu Rina juga mintanya kan yang penting mereka jauh dari kehidupanya dan juga anaknya" Timpal si C
Tubuhku menegang, shock, hampir linglung di buatnya. Jadi semua ini ulah bu Rina, kenapa dia bisa Setega ini padanya dan juga ibunya? bahkan ia tak pernah merasa membuat masalah dengan mertua kakaknya itu. Ketika Anjani meninggal dulu akibat ulah dia, dia hanya diam karena ibunya tidak mau memperpanjang masalah lagi katanya. Tapi kini, dengan teganya ia berbuat sekeji ini pada ku dan juga ibu.
Ku tahan segala rasa sesak di dada, takut ketahuan oleh mereka ber empat. Tapi sepertinya mereka sudah tidak ada di luar, karena tak terdengar suara lagi dari luar.
Tak berapa lama,pintu di buka. Aku tengah duduk menggenggam tangan ibu. Aku tak mau bersembunyi lagi kali ini, entah bagaimana akhirnya nanti biarlah menjadi urusan tuhanku.
"Oh kamu sudah bangun ternyata, bagus lah kalau begitu" Ucap si A, yang masih ku hafal betul suara-suara mereka.
Aku hanya melirik sekilas pada orang-orang itu, ku tandai mereka. Jika masih ada umur dan kesempatan, aku akan membalas semuanya.
"Mulai hari ini kami akan ikut orang ini, dia akan mwmbawamu keluar dari sini, ikuti perintahnya, mengerti" ucap si A dengan lantang, mungkin si A ini ketua komplotan ini.
Dengan malas ku gerakan kepalaku menghadap mereka, aku seperti pernah melihatnya, orang yang baru datang bersama mereka, tapi siapa ya??
Ah iya aku ingat, kalau tidak salah dia Bagas,adik dari mas Bagus, sumi mbak Anjani yang sudah lama tidak pulang-pulang kata mbak Anjani waktu itu. Aku pernah melihat fotonya di di album milik mbak Anjani. Dari cerita kakaku itu, Bagas adalah orang baik, semoga ini adalah jalan yang di tunjukkan Allah untukku dan ibuku.
Tak ada penolakan saat mereka membawaku dan ibuku keluar. Ku dorong kursi roda di mana ibu di dudukan. Saat pintu di buka, pemandangan yang sungguh indah tersuguh kan di depan mata. Hamparan pasir putih dan deburan ombak yang selalu ku dengar. Tapi di sini sangat sepi, tak ada orang. Sunggun surga yang tersembunyi ku sematkan untuk tempat ini.
Aku tak banyak bicara, hanya mengikuti langkah mereka hingga memasuki mobil hitam. Ku lihat mas Bagas memberi mereka uang, entah uang apa dan apa tujuannya membawaku dan ibuku pergi, sungguh aku tak tahu. Terserah ke depannya,yang penting aku keluar dulu dri tempat ini.
__ADS_1
Di perjalanan tak ada percakapan di antara kami. Ku mengalihkan pandangku ke luar sambil mengelus kepala ibu.
"Kita akan ke rumah sakit terdekat" ucapnya memecah keheningan
Ku lirik dia, sepertinya tulus saat berucap. Tapi entah mengapa aku masih ragu. Melihatku yang hanya diam, dia kembali berujar
"Kenapa menatapku seperti itu?
"Aku tulus menolongmu, dan juga ibu"
Ya aku memang melihat ketulusan itu di matanya.
"Dengan membeli kami? apa itu tulus namanya? Sebenarnya apa tujuanmu dan ibumu melakukan ini semua pada kami?" tanyaku dengan nada ketus
"Jangan samakan aku dengan keluarga ku, kami berbeda"
"Dan untuk uang itu, aku hanya ingin berterima kasih karena mereka telah merawat mu dan ibu, walaupun kondisi ibu seperti ini yang terpenting kalian madih hidup. Aku bersyukur kalian selamat dari kecelakaan itu" jelasnya padaku
"Jadi kau tahu tentang kecelakaan itu?"
"Ya aku tahu, tapi aku terlambat menyelamatkan klaian hingga kecelakaan itu terjadi. Jadi aku hanya bisa mengikuti kemana mereka membawa kalian, aku tak mamahku sampai curiga jika aku yang menyelamatkan kalian"
"Kita mulai lembaran baru hidup kita. Kau ikutlah denganku, suatu saat nanti kita akan balas mereka jika waktunya sudah tepat"
Ku angguki dengan yakin ajakannya. Tunggu saja kalian semua.
__ADS_1
Flashback end.