
...****************...
"SSssttt" instruksi dari Dira dengan jari telunjuknya ia letakkan di bibirnya,sontak Bela dan yang lainnya diam seribu bahasa. Dira seperti menangkap sesuatu yang ganjil. Felling berburu Dira sangat kuat, Dira terus menajamkan pendengarannya.
Sementara Di luar pintu besar itu, benar. Ya Dira sangat benar jika ada sesuatu di sana, ada seseorang yang sedari tadi mendengar percakapan di antara mereka karena pintu sedikit terbuka tadi. Merasa di dalam sangat hening membuat kerutan di dahinya, heran. Sadar, mungkin di dalam sudah mengetahui keberadaannya segera dia melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu namun belum sempat menjauh sudah di kagetkan dengan bunyi sesuatu tepat di hadapannya.
Dira mengambil Vas bunga di atas meja dan melemparkannya pada daun pintu yang sedikit bergerak,
"Braaaghkkkk... Pyarrrrrrr" suara vas beradu dengan pintu kokoh di depannya, segera Bela dan yang lain segera menuju arah Dira melempar vas bunga tadi, dan karena terkejut, Bian belum sempat menjauh dari pintu itu dan saat hendak berlari ternyata pintu sudah di buka dan segera di bekuk lah dirinya seperti seorang maling yang ketangkap basah.
Ya, Tadi saat Bian akan masuk dan mengetuk pintu ruangan Dira tangannya mengambang di udara karena mendengar percakapan yang cukup menarik menurutnya, tapi malang tak bisa di tolak ternyata Dira mengetahui keberadaannya yang bahkan berada di balik pintu dan mencoba tak memberikan suara atau gerakan apa pun, itulah hebatnya sang Lady "Dira".
__ADS_1
Bela membawa masuk Bian dan membawanya di hadapan Dira, Dira memicingkan matanya melihat orang yang ada di depannya.
"Pak Bian" ujarnya sedikit terkejut, apakah dia mata-mata mafia lain atau dia mata-mata dari lawan bisnisnya, tapi harusnya tidak mungkin karena perusahaan Bian termasuk perusahaan yang sangat besar, jadi untuk apa dia memata-matai perusahaannya.
"Ternyata anda pengintainya dari tadi?" lanjut Dira
"Eh enggak dari tadi ko" kilah Bian yang langsung mendapat tatapan Dira
"Hehe...Aduh nona tolong saya, bisa lepaskan tangan saya dulu, sakit banget ini" ujar Bian sambil meringis kesakitan sepertinya.
"Jangan terus menatap saya seperti itu nona, nanti lama-lama naksir looo hehe" celetuk Bian di tengah ketakutannya di tatap se intens itu oleh Dira. Tatapannya seperti elang yang hendak menerkam mangsanya.
__ADS_1
Bukanya berhenti menatap mendengar celetukan Bian, tapi justru semakin tajam saja tatapannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak nona" ujar Bian lagi melihat Dira dan yang lainnya terus menatapnya membuat dia semakin gugup saja.
"Oke..oke..Fine" ujarnya akhirnya pasrah saja bagaimana nanti reaksi Dira
"Tadi saat di rumah singgah saya melihat nona Dira mendapat telepon dan tak lama setelah itu wajah nona yang tadinya ceria tiba-tiba menjadi datar kembali dan langsung pamit, dan saat saya manggil-manggil nona tidak mendengar saya seperti terburu-buru dan karena saya khawatir pada nona jadi saya memutuskan untuk mengikuti nona, dan sampailah saya di sini. Dan saat tadi saya mau ngetuk pintu gak sengaja saya mendengar sedikit percakapan kalian yang sepertinya sedikit serius, jadi saya urungkan mengetuk pintu dan menunggu di depan pintu saja, hingga akhirnya saya mendengar suara barang di lempar dan itu membuat saya terkejut" ujar Bian memaparkan dari awal hingga akhir bagaimana bisa dirinya bisa berada di situ.
"Trus karena saya takut jadi saya mau lari tapi malah di tangkap sama mereka" lanjut Bian lagi sambil menunjuk Bela dan kawan-kawan.
"Eh ... tapi nona jangan berpikir saya pengecut ya. Saya gak mau memukul apalagi berkelahi dengan cewek seperti mereka. Gak gentle aja tau" lanjut Bian lagi takut di kira Cemen sama Dira.
__ADS_1
Sedangkan dira menarik sudut bibirnya,
"Ck".......