
"Kalian??" ujar Dira lantang saat memasuki ruangannya melihat sudah ada tiga orang di dalamnya, tengah asyik ngobrol dan bercanda ria pula.
Dira melirik Ema, dan anehnya Ema justru malah tersenyum tipis dan terlihat Santai saja. Melihat ekspresi mereka dan juga Ema, Dira memicingkan matanya dan memutar bola matanya mengabsen setiap orang di depannya satu persatu.
Dira menghembuskan nafasnya
"Ngapain?" Tanya Dira akhirnya pasrah dan melangkah menuju kursinya, mendorong paksa orang yang tengah duduk di kursinya. Walaupun Dira seorang wanita tapi jangan di tanya masalah tenaganya.
"Kasar amat neng, Lagi Pms ya" ujar seseorang yang di dorong tadi sambil mengelus tangannya berpura -pura kesakitan dengan wajah cemebrutnya.
"Gak pantes pasang wajah kayak gitu, udah tua om" ujar Dira malah meledek Omnya yang justru membuat bibirnya lebih maju dan di tertawakan oleh semuanya.
"Kamu ini, jadi cewek tuh yang kalem sedikit kenapa. Biar ada laki-laki yang mau sama kamu. Ini mah barbar banget, siapa coba yang mau sama kamu" Bagas terus saja ngedumel pada ponakanya itu tanpa melihat ekspresi wajah Dira, tiba-tiba sebuah map melayang mendarat tepat di wajahnya.
"Iiiih siapa inih?" ujar Bagas seraya mengangkat map dari wajahnya dan tepat saat map di angkat wajah garang Dira yang di lihatnya. Bagas menelan salivanya, kerongkonganya terasa kering di buatnya.
"Hehehe" Bagas hanya nyengir kuda sambil mengangkat jari telunjuk dan tegahnya membuat lambang peace.
" Kalian ngapain pagi-pagi sekali sudah di sini?" Tanya Dira tanpa melihat mereka dan malah membuka tumpukan map-map yang harus di baca sebelum acara nanti.
"Kami juga ingin melihat kesuksesan mu Dira, kami bangga kamu bisa sampai di titik ini" bukan Bagas yang menjawab melainkan suara Satya yang terdengar.
__ADS_1
" Hm..."
" Lalu dia ngapain di sini? Urusan pekerjaan kita dengan NP corp bukan di sini" Tanya Dira mempertanyakan kehadiran seseorang di samping Satya.
"Oh, kalau itu tanyakan pada om Bagas yang ngajak. Om sampai sini udah ada dia sama Bagas" Jawab Satya jujur, karena memang dia datang sendiri dan pas sampai kebetulan Bagas juga sampai sama dia.
"Om" ujar Dira memutar kepalanya pada objeknya, yaitu om Bagas.
"Eh ...itu..kan Dia temen om, dan kebetulan dia juga lagi gak ada kerjaan jadi om ajak aja kesini kan. Ya gak Bian?" jawab Bagas menatap Bian dengan wjah memohon agar dia bisa selamat dari ponakannya, dan memang yang sebenarnya juga Bian yang ngebet pengen ikut bersamanya, katanya biar semakin dekat dengan keponakannya itu.
"Betul nona, saya tidak ada kerjaan dan kebetulan tadi lagi telponan sama pak Bagas yang bilang ingin ke kantor mu jadi saya putuskan untuk ikut saja kesini, dari pada gabut kan?" jawab Bian memberi alasan.
"Seorang Direktur? kekurangan pekerjaan? yang benar saja" ucapan Dira sedikit sinis masih dengan mata yang fokus pada berkas di depannya. Dia mau saat acara penyambutan nanti dia bisa mengenal atau setidaknya tahu dengan baik situasi dan kondisi perusahaan.
"Ah..bukan begitu nona. Tapi memang pekerjaan saya sudah mulai senggang jadi tidak perlu datang pagi-pagi ke kantor. Begitulah iya begitu" Jawab Bian sedikit kikuk, padahal dia biasanya akan dengan santai mengahadapi seorang yang namanya perempuan, tapi jika berhadapan dengan Dira dia merasa berbeda dan selalu kehabisan kata-kata menghadapi wanitanya yang satu ini. Ya, Bian sudah mengklaim Dira sebagai wanitanya tanpa meminta persetujuan dari Dira sendiri.
Lagi-lagi memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari seorang Biantara sang Casanova kadal, pemain ulung dalam hatinya tapi mata dan pikirannya terus fokus pada berkas yang tinggal beberapa lembar lagi.
"Yang ini sudah nona baca tadi di mobil" ujar Ema memberikan map dan langsung di terima oleh Dira dan menaruhnya di bagian paling bawah.
"Dira, kamu sudah siap. Sepuluh menit lagi waktunya" tanya Satya pada Dira.
__ADS_1
Dira melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya perlahan menenangkan semua pikiran dan hatinya.
"Siap om" jawab Dira kemudian.
Mereka semua bangkit tak terkecuali Biantara membuat Dira bingung,
"Dia juga ikut om, tapi kan
" Dia juga berjasa padamu Dir, saham 13 persen yang om berikan itu dari dia loh gak mungkin bisa sampai di sini kalau bukan karena bntuan sahamnya kan?" jawab Bagas memberi tahu asal saham yang di berikannya.
"Bantuan saham konon, Itu juga di beli kan bukan cuma-cuma" ucap dira lirih tapi masih dapat di dengar oleh orang di sampingnya
"Jika anda mau jdi kekasih saya tetu akan berbeda nona" jawabnya dengan tak tahu malunya langsung tembak langsung di hadapan semua orang, bukanya meleleh justru Dira bergidik di buatnya.
"Jangan ngimpi, setidaknya saya mau imam saya nanti adalah orang baik bukan seperti anda" jawab Dira kemudian
"Saya? kenapa memangnya? saya tampan, mapan dan satu lagi saya sangat
" Sudah-sudah, kita sudah sampai di depan ruangan. Nanti jika mau bi di lanjutkan lagi" ujar Satya dan Ema membuka pintu itu perlahan...
Terimakasih untuk yang sudah mampir 🙏🙏
__ADS_1