
Hari sudah mulai gelap, senja menyapa di balik cakrawala dari ujung barat namun tak nampak satupun yang mencurigakan atau tanda-tanda akan ada penyerangan, di setiap titik penjagaan pun berkata demikian, apakah The Don sudah lari ketakutan atau kah mereka sedang mengatur strategi. Entah apa pun itu yang pasti Dira dan Daraa Putih sudah siap dengan serangan apapun.
Hingga adzan Maghrib berkumandang saling bersahutan satu sama lain dari setiap penjuru arah, membuat Dira memutuskan untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim dulu.
"Saya mau shalat dulu, bagi yang berhalangan silahkan istirahat tapi bergantian" ujar Dira seraya merapihkan bajunya dan mengambil tas punggung di belakang kursi kayu itu.
"Sandra, kamu bisa berjaga di sini sebentar saja. bergantian lah beristirahat dengan yang lain. Jangan tinggalkan posmu terlalu lama, mengerti?"
"Mengerti Lady" jawab Sandra
__ADS_1
Sandra berbeda dengan Dira, dia dari kr**ten tapi Dira tak pernah membeda-bedakan entah itu dari suku, ras, agama atau pun warna kulitnya, bagi Dira semuanya sama, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan_Nya, banyak yang seperti sandra dan merasa nyaman saja bersama Dira dan Dara Putih, di sana mereka lebih di manusia kan dan bahkan di sudah seperti keluarga sendiri, itu yang membuat hubungan mereka menjadi erat, karena mereka keluarga.
Dira melangkahkan kakinya menuju saung kecil, saung itu buatan Dira dan yang lainnya. Sengaja di buat untuk tempat beristirahat dan juga menjadi tempat penjagaan titik perbatasan kekuasaan itu.
Setelah selesai dengan tiga rakaatnya, Dira menyempatkan diri untuk berdoa kepada Allah SWT semoga tidak terjadi pertumpahan darah, jikapun terjadi maka berilah kelancaran dan kemenangan untuknya dan seluruh anggotanya. Dia hanya ingin menumpas kedzaliman di muka bumi ini, dia hanya ingin keadilan di tegakkan, itu saja. Dira tidak menginginkan kekuasaan yang berlebihan, dia tidak silau akan harta dan tahta karena semua itu hanya titipan Allah SWT saja yang sewaktu-waktu bisa di ambilnya kapan saja.
Saat sedang dalam kondisi tenang Dira menangkap suara-suara seseorang, laki-laki lebih tepatnya. Dira merasa ada yang salah, segera Dira mengkode pada Bela dan segera di mengerti oleh Bela dan segera keluar menghampiri Sandra dan yang lainnya dan memberikan instruksi sesuai permintaan Dira.
Dan benar saja, tak lama setelah itu ada sebuah bola asap di lempar ke arah kerumunan mereka yang sedang berkumpul membuat mereka semua terbatuk-batuk dan pandangan menjadi tidak jelas sama sekali dan suara derap langkah kaki, bukan seorang dua orang tapi suara segerombolan orang meyerbu tempat itu. Namun siapa sangka, Ema dan yang lainnya sudah bersiap dengan posisinya masing-masing dan siap dengan serangan yang datang.
__ADS_1
Pertempuran pun tak bisa di hindari, anggota The Don tidak menyangka persiapan Dara Putih bisa sedemikian rupa, tapi sudah terlanjur masuk kandang lawan mundur pun sudah tak bisa.
Sementara Dira, sudah ada yang mengincarnya sendiri, wakil dari Hamzah sendiri yang turun tangan. Tapi tunggu dulu? Dimana Hamza sendiri?
"Sraaataaakkk" suara benda melesat terdengar di telinga Dira
"Stap" pisau kecil itu berhasil di tangkap dengan tangan dingin Dira.
"Heh.. pecundang. Hanya pengecut yang menyerang lawannya dari belakang. Yang di serang perempuan pula ckkk....memalukan" cibir Dira bermonolog sendiri
__ADS_1
"Prok..prok..prok" suara tepuk tangan di sertai langkah kaki yang semakin mendekat