
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut mobil papah, toh sudah sangat lama sekali aku tidak pernah merasakan semobil lagi dengan papah. Mungkin sejak saat itu, bisa di hitung menggunakan jari berapa kali aku bisa semobil dengan keluargaku, jika ada acara -acara penting saja mereka akan mengajakku satu mobil jika tidak, jangan harap mereka sudi mengajakku.
Hening.
Tak ada percakapan antara aku dan papah selama perjalanan. Kami saling diam tapi sesekali dapat ku lihat jika papah melirikku, tapi tak ku hiraukan. Entahlah, perasaan ku seperti sudah terbiasa tanpa dirinya. Jadi rasanya aneh jika tiba-tiba mendapat perhatian lebih darinya.
Asyik melihat jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan, ada ikon kota yang sengaja di taruh di taman kota,di satu sudut terlihat seorang kakek-kakek yang sedang mengayuh becanya dengan peluh bercucuran di dahinya, sungguh kasihan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan yang ramai lancar, tadi sudah ku katakan tujuanku pada papah.
"Ini sudah sampai di jalan xy Put, kita kemana sekarang?" Tanyanya membuyarkan lamunanku yang tengah asyik berkhayal jauh.
"Emm lurus sedikit pah, nanti di depan ada pertigaan belok kiri" Jawabku menunjukkan jalan di depan sana.
__ADS_1
"Kalau tidak salah itu perkampungan kumuh kan Put?" Tanyanya dengan menaikkan salah satu alisnya. Heran mungkin, anak orang kaya pergi ke tempat seperti itu.
Tak mau kalah,ku tatap wajah papah dengan dingin. Sungguh tak pernah berubah, selalu menilai orang dari materinya, menyebalkan.
"Kenapa?" tanyaku sedikit jutek
"Kalau papah gak mau ya udah turunin Putri di sini saja" lanjutku. Melihatku seperti itu papah langsung gelagapan, mungkin dia merasa bersalah.
"Enggak kok Put, gak gituh maksud papah. Emm... ya sudah kita lanjut lagi yah" jawabnya dengan senyuman terlukis di wajahnya. Sungguh senyuman yang indah, pantaslah jika ibu mencintai ayah dan aku pun mewarisi rupa cantik seperti ibu dn senyuman ayah melengkapi ku.
Mobil kembali jalan mengikuti arahanku. Sampai tepat di rumah kecil dengan cat dinding yang sudah memudar ku instruksikan papah untuk berhenti.
"Terimakasih" ucapku pada papah lalu menyalami tangannya. Biasanya dia akan segera menarik kembali tangannya jika aku meminta salim padanya, seperti jijik jika bersentuhan dengan ku.
__ADS_1
Ku turun dari mobil dan di sambut anak-anak yang berlarian menghampiriku. Tawa mereka menjadi obat dari setiap kesedihanku. Meskipun rumahnya sudah hampir tak layak huni tapi kami membuat tama kecil di lahan kosong samping rumah, katanya milik orang jauh dan jarang di kunjungi, jadi aku meminta ijin untuk membangun taman kecil di atas tanahnya, dan beruntunnya sang pemilik tanah mengijinkannya.
Aku mengajak anak-anak untuk masuk menemui amak, yang biasa mengurus anak-anak di sini, beliau yang meminta untuk di panggil amak.
Setiap bulanya aku mengalokasikan uang gajiku untuk rumah singgah ini, untuk keperluan anak-anak dan untuk kebutuhan amak. Kadang aku dan teman-teman menggalang dana untuk rumah singgah ini.
"Assalamualaikum Amak" Sapaku saat melihat amak di dapur, sedang mencuci alat masak, mungkin bekas membuat sarapan untuk anak -anak.
"Waalaikumsalam salam, Eh Dira udah datang. Mau sarapan sayang? masih ada dua telur di atas meja jika mau" ucapnya dengan senyum di wajahnya. Walaupun amak dan aku memiliki agama yang berbeda tapi toleransi antara kami sangatlah tinggi, kami tidak membeda-bedakan agama, kasta atau apapun itulah.
" Enggak Amak,tadi Dira udah sarapan di rumah" jawabku sopan
" Dira?" suara bariton yang ku kenal terdengar.
__ADS_1
Ku balikan badan dan alangkah terkejutnya,
ternyata.....