Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Transfer Energi


__ADS_3

Panik....aku dan om Satya panik. Om Satya langsung membereskan semuanya.


Om Satya langsung berlari dan bersembunyi di dalam lemari pakaianku.


Sementara aku menetralkan tubuh dulu akibat terkejut tadi setelahnya lekas ku buka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk.


"Mbok Siti" ucapku lega, huuuuh bikin spot jantung aja ini.


"Iya maaf mengganggu neng,ini si mbok mau nganterin makanan. Dari pagi non belum makan kan?" Ujar mbok Siti, ku lihat di tanganya ada nampan berisi makanan dan minuman. Tapi sayangnya perutku sudah kenyang tadi menghabiskan makanan yang di bawa oleh om Satya. Tapi kalau tidak ku terima nanti mbok Siti akan terus-menerus membujukku.


"Ya, makasih mbok" Ku ambil nampan dari tangan mbok Siti dan membawa masuk setelah mengucapkan terimakasih.


Ku ketuk pintu lemari, memberikan kode bahwa situasi sudah aman.


"Sudah aman om" ucapku berbisik.

__ADS_1


Om Satya keluar, keringatnya bercucuran hingga membasahi kemeja yang di pakainya. Hahaha lucu sekali, eh tapi kasihan juga sih sebenarnya.


"Siapa?" tanya om Satya


" Mbok Siti, om" jawabku


" Tuh bawa makanan, soalnya dari kemarin aku belum makan om"


Bukanya kasihan padaku, om Satya malah menoyor kepalaku. Asem banget emang tuh orang.


"Apaan sih om, kepala nih bukan balon" sungutku


"Iya om" jawabku menundukan kepala,


Om Satya mendekat dan memeluku, ku tumpahkan segala rasa sesak yang masih tersisa. Mempunyai tempat untuk menumpahkan segala keluh kesah ternyata senang juga. Ada tempat untukku bersandar kini.

__ADS_1


"Terimakasih sudah hadir di hidupku om hiks..hiks.."


ucapku di iringi isakan yang sudah sedikit serak.


"Om yang berterima kasih sayang, kamu sudah kuat bertahan selama ini. Kamu wanita yang tangguh sayang. Kamu pantas menjadi anaknya mbak Anjani" tutur om Satya mengelus puncak kepalaku penuh kasih sayang. Sungguh mengharukan mempunyai keluarga yang yang menerima kita dengan sepenuh hati.


"Ceritakan tentang ibu Anjani om" pintaku, karena sejujurnya aku tidak mempunyai banyak cerita dari papah maupun kakek, apalagi nenek, hampir sama sekali tidak pernah menceritakan tentang ibu Anjani. Sepertinya nenek memang kurang suka dengan ibu Anjani.


Lalu om Satya menceritakan semuanya, dari masa kecilnya, sekolahnya, hingga ibu merantau ke kota ini. Semua peristiwa di ceritakan dengan sedetail mungkin. Sungguh , ibu Anjani adalah perempuan yang tangguh. Dia rela membiayai kehidupan nenek dan om Satya hingga perekonomiannya berubah menjadi lebih baik.


"Aku kagum om sama ibu, dia sangat tangguh. Aku akan menjadi seperti ibu yang tangguh dan kuat" ucapku penuh semangat


Lalu melanjutkan kisah kehidupan om Satya dan nenek di kampung pun tak luput di ceritakan hingga tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Mentari tenggelam, jingga keemasan sudah menampakkan dirinya.


"Om pulang dulu ya sayang, kamu jaga diri baik-baik ya di sini. Kalau ada apa-apa kabari om. oke" ku jawab degan anggukan mantap. Kehadiran om Satya seperti mentransfer energi positif untuk tubuh ini.

__ADS_1


Hari ini seperti mendapat kekuatan baru. Semangat dari om Satya membuatku lebih bersemangat dan mempunyai tujuan kedepannya.


Tunggulah di saat waktu yang tepat nanti ...


__ADS_2