Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Handphone dari kakek


__ADS_3

"Emmm jadi gini om" ku jelaskan semuanya pada om Bagas dan meminta bantuan padanya, bersyukur om Bagas mau membantuku menyelesaikan semuanya. Rasanya senang ada seseorang yang bisa di andalkan, walaupun diri ini terbiasa sendiri.


Ku lanjutkan langkah kakiku menuju ruangan kakek, semoga keadaannya sudah membaik. Om Bagas bilang ia akan menemui kakek di waktu yang tepat.


Ku menunggu tak jauh dari ruang rawat kakek, ku lihat papah dan yang lainnya masih ada di sana, berarti dokter belum selesai memeriksa keadaan kakek. Untuk menghindari perdebatan aku memilih sedikit menjaga jarak dari mereka.


Tak lama setelah kedatanganku, pintu ruang kakek terbuka. Seorang dokter laki-laki keluar, mereka semua berdiri, begitupun aku yang ikut berdiri namun tak berani mendekat.


"Bagaimana suami saya dok?" Tanya oma Rina begitu melihat dokter itu keluar.


"Pak Wahyu ingin bertemu dengan cucunya" jawab sang dokter


"Tapi Mita, cucu saya sedang tidak di sini dok" jawab nenek lagi,


" Maaf bu, bukan Mita namanya melainkan saudari Putri, apa dia ada di sini?" begitu mendengar namaku di sebut, segera ku hampiri mereka semua


" Saya Putri dok" ucapku di depan mereka semua yang sontak mendapat tatapan tidak suka dari Oma Rina.


"Kenapa suami saya ingin bertemu dengannya bukan dengan saya?" tak terima jika yang di cari suaminya adalah aku, bukan dirinya. Tak sadar diri pun, dia lebih mementingkan pesta ketimbang kesehatan suaminya sendiri.


"Saya tidak tahu bu, itu murni keinginan dari pasien. Dan lebih baik segera di pertemukan mengingat kondisi pasien yang...

__ADS_1


Dokter menggantung kalimatnya membuatnya menjadi ambigu


"Memangnya kondisi mertua saya kenapa dok?" tanya Devi


"Kondisi pasien memburuk bu, dan beliau meminta bertemu dengan nona Putri segera. Lebih baik nona segera masuk sebelum terlambat" ucap dokter


Tanpa menunggu lagi ku ikuti dokter itu masuk dan tanpa ada halangan lagi dari mereka.


sampai di dalam, ku lihat tubuh kakek terbaring lemah.


"Kek" Sapaku ketika sudah berada di dekatnya, Senyuman hangat kakek berikan untukku meski tubuhnya lemah.


Ku ciumi tanganya, keningnya, sungguh aku menyayanginya, tangisku pecah di pelukannya. Takut membuat tubuh lemahnya semakin sakit, ku tarik tubuhku sedikit menjauh.


"Kakek cepet sehat ya biar bisa selalu jadi pahlawanku hu..hu.."


"Kakek akan selalu ada sayang, di sini" jarinya menunjuk dadaku, tepatnya di hatiku. apa maksudnya? mungkinkah?? tidak..tidak. Aku tidak siap membayangkannya.


"Putri, tolong ambilkan handphone kakek sayang" pintanya, ku tatap jarinya menunjuk laci kecil di samping. Segera ku ambil handphone sesuai permintaannya lalu ki berikan pada kakek.


"Bawalah handphone itu, di situ hanya ada tiga nama kontak yang tersimpan. Nanti mereka akan menjelaskan jika waktunya sudah tiba" jelasnya padaku, ku mengerutkan dahi

__ADS_1


"Nanti kamu akan mengerti jika sudah waktunya sayang. Pasti akan ada yang menelpon nomor itu suatu saat nanti. Jadi jangan biarkan handphone itu jatuh pada siapapun. Kamu mengerti?"


Meski masih tak paham, aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban atas permintaan kakek.


"Nak jadilah wanita yang tangguh, jangan mudah di tindas orang lain meskipun itu keluargamu sendiri uhuk...uhuk...


Segera Ku ambilkan minum untuk kake, ku bantu tubuhnya untuk sedikit tegak dan memberikannya minum..


Glek...


"Terimakasih nak sudah cukup" ucapnya


ku bantu kakek untuk tiduran kembali,


"Sekarang kakek tenang sudah memberikan itu padamu" tuturnya dengan wajah tenangnya.


Entah apa maksudnya aku hanya mengganggukan kepala saja.


"Kejarlah cita-citamu, kakek akan selalu mendoakanmu meski nanti raga kita tak lagi berada di tempat yang sama" ku gelengkan kepalaku, tak menerima kalimatnya kali ini


"Enggak kek, kakek akan selalu menemani Putri meraih mimpi-mimpi Putri" Jatuh sudah deraian air mata membasahi pipiku, tak kuasa ku tahan lagi. Ini seperti firasat yang tidak orang inginkan. Semoga saja tidak...

__ADS_1


__ADS_2