
Hari ini Satya berangkat langsung menuju rumah kakaknya karena kemarin ibunya bilang akan berangkat menggunakan travel,
jadi dia menyusul langsung dari tempat kerjaannya,
karena sebenarnya semua pekerjaannya sudah selesai dari kemarin.
Di kediaman Anjani ternyata ibunya sudah sampai karena tadi berangkat setelah subuh sekalian mengantarkan orang yang hendak berangkat ke kota,
Anjani menyalami dan memeluk ibu yang telah melahirkannya 24 tahun yang lalu
"sehat bu?"
ibunya menyambut Anjani dengan hangat
"alkhamdulillah sehat nak,
bagaimana kamu dan calon cucu ibu ini hm?"
tanyanya sambil mengelus perut anaknya
"Alkhamdulillah kami juga baik bu" Ucap Anjani lalu membawa ibunya masuk kedalam rumahnya,
"Bagus belum pulang nak?" tanya ibunya sambil duduk di ruang tamu
"belum bu,
kemungkinan 2 hari lagi baru pulang" tuturnya sambil membawa nampan berisi cemilan dan minuman untuk ibunya,
"kamu gak usah repot-repot Jan,
nanti juga kalau ibu lapar atau haus ibu bisa ambil sendiri"
"gak apa-apa bu cuma ngamb ginian aja masa gak bisa"
melepas rindu dengan ngobrol ngalor ngidul apa saja bisa menjadi topik pembicaraan oleh ibu dan anak itu.
Tak terasa adzan dzuhur berkumandang,
Anjani mengajak ibunya shalat berjamaah di mushalla kecil di dalam rumahnya,
bermunajat kepada Allah SWT,
memohon untuk kesehatan dan keselamatan dunia akhirat,
dan kelancaran untuk persalinannya.
Saat sedang menyiapkan makan siang bersama ibunya Anjani mendengar pintu rumahnya di ketuk
Tok.tok.tok
"Assalamualaikum"
__ADS_1
Anjani yang mendengar suaranya pun sudah mengenal siapa yang datang,
ibunya pun tersenyum dan berjalan kedepan untuk membukakan pintu
"Waalaikumsalam"
"kamu sudah sampai saja nak, cepat sekali"
lalu menyuruh Satya anaknya masuk,
ya yang datang adalah Satya,
ia tadi sedikit mengebut agar cepat sampai kerumah kakaknya itu,
"ini termasuknya lama bu,
harusnya paling satu jam lebih saja kalau menggunakan motor,
ini karena pakai mobil jadi agak susah buat sat sit set' y hehe" ujarnya sambil menyomot bakwan jagung yang di buat ibunya tadi,
"kamu ini,
yang penting sampai dengan selamat gak usah ngebut-ngebutan" ujar Anjani sambil menoyor kepala adinya itu gemas karena menyepelekan keamanan berkendara,
"haha santai mba,
aku juga nasih sayang nyawa,
jadi pasti aku hati-hati,
"kamu itu baru sampai,
mbok ya cuci tangan dulu Sat,
dari tadi main camat-comot aja makanan,
tuh kasian mbakmu sedang hamil nanti tertular virus dari luar" Satya hanya nyengir saja mendapat ceramahan daru ibunya sedangkan Anjani tersenyum menang sambil menjulurkan lidahnya mengejek adiknya itu,
ya hal konyol seperti itu kadang membuat kita jadi lebih dekat dengan keluarga,
Satya berjalan menuju westafel untuk mencuci tangannya,
mencari aman dari ceramahan panjang ibunya,
tiba -tiba hp Satya di atas meja jatuh dan Anjani mengambilnya,
iseng membuka dan memainkan hp adiknya,
barang kali menemukan foto Satya dan pacarnya biar bisa ngecengin adiknya sepertinya seru pikirannya hihi
namun apa yang ia temukan membuatnya diam membeku,
__ADS_1
foto dan video di dalamnya membuat Anjani memegang perutnya,
ibunya melihat itu dan kaget kenapa tiba-tiba anaknya memegang perutnya
"kamu kenapa Jan?"
menghampiri Anjani yang masih memegang gawai adiknya,
Satya yang mendengar suara ibunya pun melirik dan berlari menghampiri kakaknya,
"kenapa mba?" Satya khawatir karena dari tadi Anjani meringis seperti menahan sakit,
tiba-tiba hp yang di pegang Anjani jatuh dan membuat Satya menerka apakah kakaknya sudah membuka hp'y dan membuat ia kesakitan seperti itu
"Mba buka hp Satya?" raut muka tegang tak bisa Satya sembunyikan
"apa itu benar Sat?" suara Anjani terdengar lirih menahan sakit
"gak usah pikirkan itu mba sebaiknya kita ke rumah sakit dulu" ucap Satya hendak membopong kakaknya namun di tahan
"mbak gak apa-apa Sat,
mba mau kamu jujur,
apa foto dan video di hp kamu itu beneran dia?"
Satya yang di tanya menatap kakaknya yang dengan wajah seperti memohon kejujuran dirinya bingung,
kalau dia jujur takut kondisi kakak dan anaknya kalau tidak jujur...
ah entahlah..
Satya hanya menjawab dengan anggukan kepala membuat Anjani menangis tertahan menahan sesak di dadanya,
ibunya menatap Satya tapi satya hanya menundukkan kepalanya.
Anjani merasakan perutnya semakin kencang dan berteriak kesakitan membuat mereka semua panik,
pak supir yang mendengar teriakkan majikannya segera masuk dan kaget melihat majikannya sudah pucat dan seperti kesakitan memegang perutnya,
dengan sigap Satya membopong kakanya membawanya ke mobil dan pak supir membukakan pintunya,
ibunya mengambil perkembangan persalinan yang sudah Anjani siapkan dan segera masuk ke mobil,
pak supir segera melajukan ke rumah sakit terdekat.
Dalam hati Satya merutuk kebodohannya yang tidak hati-hati menaruh gawainya,
tapi semua sudah terjadi,
kini ia hanya bisa mendoakan semoga kakak dan calon anaknya tidak kenapa - kenapa,
__ADS_1
Anjani di pangku ibunya terus menerus merintih kesakitan membuat semua orang khawatir,
semoga tidak terjadi apa-apa pada Anjani dan anaknya.