Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Markas di Serang ( Ada apa dengan Dira?)


__ADS_3

Sialnya,


cinta itu tak dapat di cegah kehadirannya


Tak dapat disangkal rasanya.


Cinta oh Cinta...


Hadirlah laksana bintang yang setia menemani bulan,


seperti Romeo dan Juliet


yang saling setia hingga akhir hayatnya


kisah mereka abadi dalam setiap cerita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ya" jawab Dira mengangkat panggilannya


"xxxxxxx"


"Ya baiklah" jawab Dira lagi


"xxxxxx"

__ADS_1


"Ya" Jawab Dira singkat- singkat


" xxxxxx"


"Hm" Lalu Panggilan pun di tutup oleh Dira,Semua jawaban Dira semakin sulit di mengerti oleh Bian. Ya, Baiklah,Ya,Hm Aaah wanitanya ini sungguh sangat sulit di mengerti membuat Bian semakin penasaran di buatnya. Sementara Dira sedang berpikir keras bagaimana dua harus menyelesaikan yang satu ini sementara jarak rumah singgah ke Rumah kita. ya, telepon tadi berasal dari markas besar rumah kita yang mengabarkan bahwa markas besar telah diserang oleh The Don,namun beruntungnya karena pengamanan yang ketat di markas besar hingga markas besar mampu diselamatkan. Kini pikiran Dira justru mengarah kepada dua perusahaan yang tengah dipimpinnya, Dira harus bergerak cepat dan tak boleh lengah sedikitpun. Rupanya si tua Hamzah hanya berpura pura menerima kenyataan tapi Justru malah melakukan penyerangan secara diam-diam,


"Oke, akan aku ikuti maumu pak tua" ujar Dira sengit, tentunya hanya mampu di ucapkan dalam hati karena sekarang dia sedang bersama orang lain.


Dira beranjak dari tempatnya membuat Bian bertanya -tanya, mau kemana Dira? Telpon dari siapa kira-kira tadi hingga yang tadi wajahnya penuh keceriaan bisa jadi datar lagi, tapi secepat kilat wajah datarnya kembali ceria di hadapan mak Ulam dan anak-anak.


"Mak" panggil Dira ketika mak Ulam sedang berada di tengah anak-anak, Dira tak bisa menunda lagi, waktunya terbatas, Dira harus segera menyelesaikan semuanya dengan sigap.


Mak Ulam melihat Dira dengan senyumannya lalu menganggukan kepala seperti mengerti maksud dan tujuan Dira. Mak Ulam tak tahu atau belum tahu siapa Dira sebenarnya, yang dia tahu hanyalah Dira seorang pengusaha dan menjadi donatur tetap di rumah singgah ini sejak awal di dirikannya rumah singgah ini, bahkan tanah dan bangunan ini pun Dira yang mengusahakannya sewaktu belum sesukses sekarang. Tapi ketika Dira sudah menetap dirinya dengan diam seperti ini mak Ulam seakan-akan mengerti jika Dira harus pergi. Bukan apa-apa, karena ini bukan hanya sekali atau dua kali, hingga mak Ulam sudah terbiasa dengan gelagat Dira.


Dira segera melangkahkan kakinya ke luar dari rumah singgah itu tanpa menghiraukan Bian yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Baru saja dia bisa se akrab dan sikap Dira yang muali hangat padanya mendadak menjadi datar lagi padanya, "sebenarnya tdi itu telepon dari siapa sih?" rajuk Bian dalam hatinya.


"Bu saya juga ikut pamitan ya" ujar Bian pada mak Ulam.


Mak Ulam pun bangkit dari duduknya berjalan mendekati Bian


"Kok buru-buru nak" tanya Mak Ulam pada Bian


"Iya mak, saya mau ikut sekalian dengan Dira tadi. Kan mobil saya di bawa sama supir saya tadi hehe" jawab Bian

__ADS_1


" Eh...ta..tapi...


" Bye-bye anak-anak" ujar Bian sambil berlari tanpa mendengar ucapan dari mak Ulam.


"Bye om" jawab anak-anak serempak .


Mak ulam hanya bisa menghembuskan nafasnya, entah apa yang terjadi nanti, karena setahunya Dira tidak akan pernah mau satu mobil dengan laki-laki jika bukan keluarga atau jika sedang urgent saja. Aaah... biarlah itu urusan Biantara nantinya. Lalu mak Ulam kembali dengan aktifitasnya bersama anak-anak.


"Nona..nona Dira...tunggu" ujar Bian ketika mobil Dira mulai melaju namun sayang Dira tak mendengar atau pura-pura tak mendengar karena sedang terburu-buru.


Mobil Dira pun terus melaju tanpa menghiraukan panggilan dari Bian.


Bian yang melihat itu kesal sendiri karena tak bisa mengejar Dira, tapi aneh juga kenapa Dira sampai terburu-buru seperti itu.


"Ada apa sebenarnya dengan Dira?" tanya Bian berperang dalam fikirnya.


Karena khawatir pada wanitanya, jadi Bian segera memutuskan untuk membuntuti Dira yang kebetulan ada orang naik motor langsung saja dia setop dan menyuruhnya mengikuti mobil Dira yang sudah lumayan jauh namun masih bisa terlihat. Awalnya pengemudi motor heran tiba-tiba saja di hentikan, namun karena Bian menyodorkan uang merahan yang banyak tentu pengendara itu tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung tancap gas mengikuti mobil seperti instruksi Bian tadi


"Bremmmmm....Ngeeeeng...Cusssss" motor melaju cepat sesuai perintah Bian yang tak ingin kehilangan jejak mobil Dira.


Bayangin motornya kaya iklan yang semakin di depan ya guys...hehe


kira-kira Dira mau kemana ya???


ikuti terus ceritanya ya 😊🤗

__ADS_1


__ADS_2