Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Dia cucuku


__ADS_3

Kata maaf tidak bisa mengembalikan yang telah pergi


menghapus salah menjadi benar


mengubah yang rusak menjadi baik


TIDAK BISA.


Bagus dan mamahnya beserta istrinya masuk ke kamar inap pak Wahyu.


"Tuh kan bener kata aku kek kalau mereka ada di luar,kakek sih suka su'uzon hehe" ucapku dengan senyum di wajahku setelah papah dan yang lainnya sudah mendekat. Oma Rina menatapku tidak suka, aku sadar diri dan sudah terbiasa juga jadi aku memutuskan untuk keluar.


"Mau kemana Put?" tanya kakek ketika aku melangkahkan kakiku


"Emm.. itu kek, aku mau cari udara segar di luar dulu sebentar" jawabku


"Kamu tetap di sini, mendekatlah" Tegas kakek. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, jadi aku memutuskan untuk mendekat sesuai perintah kakek.


"Dari mana kalian baru datang?" Tanya kakek menatap wajah istri dan menantunya,


"Kemarin kami habis merayakan Mita yang berhasil masuk agensi model ternama pah" jawab oma tanpa rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


"Jadi itu semua lebih penting dari nyawaku?" kini tatapan kakek berubah, menatap istrinya dengan tajam,


"Bukan begitu pah, kan gk enak kalu lagi ngadain acara tapi Yang punya acara malah pergi. Makanya ini mamah baru sempet kesini soalnya baru selesai, ini juga mamah belum istirahat tau" jawab oma tak mau di salahkan.


"Kalau begitu pulanglah, istirahat dan tidur yang nyenyak" jawab kakek dingin, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"iiih papah tuh bukanya bersyukur aku langsung kesini karena khawatir sama papah malah di begini" ucap oma merengut. Sedangkan kakek tak menanggapi ocehan istrinya itu,lagi pun menurutku mereka memang keterlaluan juga sih, masa memilih mementingkan pesta dari pada kesehatan kakek, ada-ada saja.


"Maafkan kami pah, kami mengaku bersalah kemarin sudah mementingkan acara itu ketimbang kesehatan papah" Devi mencoba menengahi perdebatan antara kedua mertuanya itu. Tapi kakek mengacuhkannya. Sedangkan papah, dia sedari tadi hanya diam tak bersuara.


Oma menatapku dengan tidak suka, entah sebenarnya apa salahku aku pun tak mengerti.


"Kamu hasut apa suamiku hah wanita murahan? hingga suamiku menolak kehadiranku?" perkataan oma sontak membuat aku terkejut bukan main,


"APa maksud oma mengataiku murahan?" tanyaku


"Iya lah, apa namanya kalau buka. murahan tapi sering di antar jemput oleh om-om hah?" jawabnya seraya melempar Poto. Ya Poto yang sama saat papahku sendiri mengataiku murahan.


"Apa maksudmu Rina?" tanya kakek murka, wajahnya tak berbeda jauh dengan ku merah padam menahan emosi.


"Nih papah lihat sendiri kelakuan gadis murahan itu" jawab oma lalu memberikan beberapa foto pada kakek.

__ADS_1


Kakek melihat foto -foto itu, diam dan tanpa ekspresi. Di remasnya foto yang berada di tanganya itu lalu melempar jauh ke belakangku


"Jangan pernah menyebutnya murahan kau mengerti" tunjuk kakek pada oma dengan tegas dia membelaku, sebenarnya di satu sisi sungguh senang ada yang memebelaku, tapi di sisi lain aku kasihan pada kondisi kakek yang baru stabil.


"Sudah kek biarkan saja mereka berkata apa, yag terpenting kakek percaya padaku kan?" ku dekati kakek lalu ku peluk tubuh ringkihnya,mencoba saling menyalurkan kekuatan.


"Tentu kakek percaya padamu princess, kau adalah kebanggaanku" menpuk bahuku dua kali lalu mengelus puncak kepalaku.Hingga ada yang menarikku dari tubuh kakek hingga tersungkur ke belakang.


"Jangan kau sentuh suamiku dengan tangan kotormu itu" ucap oma Rina sengit, mentapku penuh kebencian. Terlihat jelas di matanya, tak ada sedikitpun rasa sayang ataupun hanya sekedar kasihan padaku sebagai cucunya juga.


"Keterlaluan kamu Rina..Dia cucuku, berarti cucumu juga kau sadar itu hah" ucap kakek lantang sambil memegangi dadanya.


"Dan cucuku tidak mura...han" ucapnya tersengal lalu ambruk di atas kasur Semua orang jadi panik, aku segera berlari keluar memanggil dokter.


Semua orang kini menunggu di luar ruangan, sedangkan kakek harus berjuang lagi di dalam di temani beberapa dokter dan suster.


"Puas kamu membuat suami saya seperti itu hah" ucap oma sengit kepadaku. Aku memilih diam, menjawab pun pasti nanti di salahkan juga ujung-ujungnya.


"Sudahlah mah, lebih biak sekarang kita berdoa untuk papah" tutur mamah Devi. Sebenarnya mamah sambungku itu tidak terlalu jahat kepadaku, hanya saja memang dia seperti tidak terlalu perduli padaku, bahakn mungkin di matanya aku ini hanya seonggok batu yang tak berarti.


"Lebih baik kamu pergi dulu, kondisinya tidak memungkinkan untuk kamu berada di sini" ucap mamah Devi padaku, aku mendongakkan kepala menatapnya tak percaya, aku tahu bahasa halusnya adalah dia mengusirku dari tempat ini.

__ADS_1


Sedangkan papah, dia hanya diam. melirikku sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi. Aku pun tak banyak berharap padanya. Bagiku, tidak di anggap di antara mereka sudah biasa.


Ku langkahkan kaki ku keluar gedung rumah sakit menuju masjid terdekat. Memilih bermunajat pada sang khalik, memohon segalanya hanya padanya.


__ADS_2