
Jangan mudah menyimpulkan kepribadian seseorang
hanya dari satu pertemuan
apalagi mendengar kata orang.
Jangan bandingkan kepribadian saya dengan sikap saya,
Kepribadian saya adalah siapa saya,
sedangkan sikap saya tergantung siapa anda.
Ema bangkit dari posisinya dan mendekat me arahku, menatap tajam diri ini seakan elang yang hendak menerkam mangsanya.
"Nona tahu kenapa saya jadi begini?" tanyanya terus menatapku tanpa berkedip
Aku hanya menggelengkan kepala, entah kenapa kadang aura kepemimpinan justru di miliki oleh Ema ketimbang diri sendiri.
__ADS_1
"Nona mau dengar?" Ema memutar badan dan memiringkan kepalanya sambil matanya menerawang jauh ke depan.
"Waktu itu....
Flashback Ema
Aku gadis kampung yang tak berpendidikan,datang ke kota di bawa si mbok yang katanya untuk mengasuh anak majikannya sebab ibunya meninggal tak lama setelah melahirkan anaknya. kasihan sekali, tak berfikir lama tentu saja ku terima tawaran kerjaan itu dan hari itu juga aku berangkat menggunakan travel menggunakan uang Yang sudah di transfer si mbok, katanya uang dari majikannya.
Sampainya di rumah majikanku, aku sungguh takjub. Rumah dua lantai dengan gaya minimalis modern yang sangat mewah tentunya untuk ukuran aku yang orang kampung.
Si mbok menyambutku dan memelukku kemudian aku di perkenalkan dengan majikan laki-laki, namanya pak Bagus dia orangnya baik dan tak banyak bicara. Kata si mbok dia seperti itu setelah di tinggal istrinya meninggal yang tak lain adalah Nyonya Anjani, ibunya nona kecil Putri atau sekarang di panggil nona Dira. Dulu dia orang yang ceria dan ramah tapi setelah kepergian istrinya untuk selamanya dia berubah menjadi seperti itu.
Hingga tak terasa usia nona Putri menginjak sepuluh tahun, sedangkan adiknya nona Mita hampir sembilan tahun. Itu berarti pak Bagus berselingkuh di belakang ibu Anjani yang tengah hamil nona kecil waktu itu, sungguh baj***an sungutku saat menyadari itu. Entah apa yang terjadi pada nona Putri waktu itu, tiba-tiba sikapny berubah. Nona yang periang dan aktif tiba-tiba menjadi pendiam dan tak banyak bicara jika tidak di ajak bicara. Biasanya dia akan menceritakan apa saja yang di lakukan di sekolahnya atau perasaan apapun yang di rasanya akan di curahkan padaku, tapi waktu itu tidak. Dia seperti memendam sesuatu, tapi aku tidak bisa memaksanya, aku hanya bisa mendampinginya saja.
Hingga suatu hari tak sengaja aku yang sedang bercerita dengan mbok Siti mendengar kisah bu Anjani dan pak Bagus, kisah cintanya, perjuangannya hingga terpaksa berkhianat demi ibunya semua ju dengarkan dengan seksama dan mengambil kesimpulan bahwa lelaki tak bisa di percaya. Sekelas pak Bagus yang katanya sangat mencintai ibu Anjani saja mampu menduakan meski dengan alasan baktinya pada sang ibu tapi bisa menghasilkan nona Mita, huh dasar lelaki tak bisa melihat barang nganggur main garap saja, terpaksa katanya tapi ada hasilnya haha lucu sekali tertawa ku dalam hati.
Semenjak itu pula aku menjadi kurang suka dengan laki-laki, apalagi laki-laki hidung belang yang hanya bermodal rayuan. Eiits bukan gak suka laki-laki ya, aku masih normal. Hanya saja sebisa mungkin aku membangun dinding kokoh untuk hatiku agar tidak mudah tergoda oleh laki-laki, hingga saatnya tiba yaitu ketika nona Putri atau sekarang saya panggil nona Dira menemukan kebahagiaan dalam hidupnya barulah aku akan memikirkan untuk hidupku.
__ADS_1
Janjiku untuk melindunginya selesai dan ku serahkan pada orang yang tepat untuk menjaganya.
Hingga keberuntungan mulai di miliki oleh nona Dira ketika bertemu dengan Kedua omnya, Bagas adiknya pak Bagus dan Satya adiknya ibu Anjani.
Kehidupan nona Dira mulai membaik setelah keluar dari rumah itu. Begitupun dengan aku, aku mulai di ajari berbagai hal dari ilmu umum hingga beladiri. Aku di didik keras untuk menjadi pelindung nona Dira, dan dengan senang hati aku melakukannya karena pada dasarnya dalam diri ini sudah tertanam untuk melindungi nona Dira dengan segenap jiwa dan raga ini.
Hingga hari ini aku berada di hadapan nona kecilku,yang kini sudah tak kecil lagi. Bahkan dia sudah bisa berdiri di kakinya sendiri, aku selalu setia mendampinginya melakukan apapun dan pergi kemanapun.
Flashback End
Dira kemudian memeluk Ema begitu erat sambil menangis sesenggukan
"Sudah nona jangan cengeng, Dunia akan lebih kejam pada kita yang lemah" ucap Ema datar walau matanya mulai menggenang.
"Ishh kamu ini gak bisa sedikit melow gituh, aku kan sedang terharu tahu enggak" cemberut Dira sambil melepaskan pelukannya pad Ema.
"Tidak perlu berterima kasih nona, itu sudah tugasku" celetuk Ema membuat Dira mendelikan matanya
__ADS_1
"Kepedean jadi orang kau Ema"
Kemudian keduanya tertawa bersama, menghilangkan rasa sedih mendengar cerita Ema.