
Angin pantai bersemilir,
hamparan ombak menabrak batu karang,
suaranya meneduhkan hati,
hembusan angin menerpa tubuh tinggi tegap yang sedang berdiri di atas bebatuan,
menatap hamparan laut luas,
andai dia di sini bersama dengannya pasti akan menjadi lebih indah,
tapi naasnya dia berdiri di tempat ini justru untuk sedikit menenangkan hatinya,
sedari tadi ibu dan Devi terus memaksa Bagus ini dan itu membuatnya jengah dan ingin segera lari dari tempat itu,
entah mengapa tak sedikitpun ia menikmati liburan ini,
"Maafkan aku Anjaniku" kalimat itu yang selalu terucap dari bibir pria berwajah tegas itu, rasa bersalah itu selalu menggerogoti hatinya, begitu ia mencintai Anjaninya hingga tak sanggup berpaling darinya dan tak sanggup jika Anjaninya tau bahwa ia telah menduakannya walaupun itu adalah syarat demi bisa bersamanya.
Sedangkan dirumahnya Anjani sedang berbincang dengan ibunya lewat telepon genggamnya,
"besok insya Allah ibu berangkat dari sini nak,biar bisa nemenin kamu yang sudah dekat waktu lahiran kamu" ujar ibunya membuat Anjani tersenyum,
betapa ia bersyukur dalam hidupnya
mempunyai keluarga yang begitu peduli terhadapnya di tambah suami yang begitu menyayangi dan mencintainya,
Anjani tak tau jika badai rumah tangga sedang di buat oleh suaminya dengan kebohongan suaminya itu,
"iya bu aku tunggu,apa tidak lebih baik nungguin Satya pulang dulu bu nanti biar ibu kesini bareng sama Satya,
atau ibu mau aku kirim supir kesitu saja buat jemput ibu" Anjani khawatir jika ibunya berangkat sendirian,
"enggak perlu nak biar ibu sendiri saja, nanti Satya biar menyusul kalau pekerjaannya sudah selesai dan lagi lebih dekat dengan tempatmu"
"ibu juga naik travel dari sini,
__ADS_1
kebetulan tetangga kita ada yang bekerja di teavel jadi kamu gak perlu risau ya,ibu aman ko di jalan dan ibu juga sudah hapal rumah kamu jadi gak akan nyasar hehe" ucapan ibunya sontak membuat Anjani tertawa
lega rasanya bisa melepas rindu dengan ibu dan berbagi cerita sedikit mengurangi perasaan tidak enaknya itu.
Di tempat lain tepatnya di lobi hotel Satya dan temannya masih setia menunggu Bagus,
ia ingin memastikan jika benar kakak iparnya itu sudah bermain api dan menduakan kakaknya,
ia tak akan bisa memaafkan itu.
Waktu sudah menunjukkan makan siang,
Satya dan temannya memilih makan di restoran hotel,
saat tengah asyik makan temannya Satya menyenggol kaki Satya dan menunjukkan arah dengan dagunya,
Satya menolehkan kepalanya dan betapa kagetnya dia melihat Bagus Kakak iparnya di gandeng oleh wanita dan bu Rina di sampingnya,
Satya sebenarnya sudah menduga tapi tetap saja kaget saat melihat itu di depan matanya sendiri,
Satya segera mengambil hp'y dan merekam semua adegan itu,
karena marah pun butuh energi.
Kini Satya sudah berada di depan kamar hotel yang Bagus tempati,
meminta bantuan temannya untuk merekam semuanya dari belakang dengan kamera tersembunyi biar bisa ia tunjukkan kepada kakaknya,
Tok..tok.tok
"room servis" Satya sengaja menyamar agar Bagus tidak curiga
pintu di buka dan ternyata Devi yang keluar menemuinya,
sungguh ingin Satya marah saat ini tapi sebisa mungkin ia menahannya untuk mengumpulkan bukti yang kuat
"makanan pesanan ibu sudah kami siapkan bu,mau di letakkan di mana?" tanyanya mencoba seramah mungkin,
__ADS_1
Satya tau tadi bu Rina pesan makanan dan sengana menyamar menjadi room servis agar ia bisa mengantarkan makanan dan masuk ke kamar Bagus,
"iya mas tadi mertua saya yang pesan,
masuk kedalam saja, dan tolong sekalian di tata di meja y mas,
biar suami saya bisa langsung makan setelah mandi nanti" ucapan perempuan itu membuat Satya tercekat,
"mertua" dan "suami" jadi benar Bagus kakak iparnya telah menduakan kakaknya,
"brengsek" ucap bagus dengan wajah merah padam
"ya kenapa mas?
tadi mas ngomong sesuatu?" tanya Devi karena dia seperti mendengar room servis itu mengumpatnya
"oh tidak apa-apa bu,
biar saya dan teman saya menyiapkannya di meja" mencoba seramah mungkin menekan segala amarah dalam hatinya,
tak lama Bagus keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan bajunya dengan wajah yang lebih fresh,
Satya sudah tidak tahan melihat itu dan segera menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar,
Tega-teganya Bagus menduakan kakaknya,
berbohong dengan kata seminar tapi di sini dia mala berdua dengan selingkuhannya,
bahkan tadi perempuan itu bilang suami, berarti mereka sudah menikah,
sungguh biadab kakaknya di bohongi mentah-mentah
"Aaaaarrrghhh" Satya meninju tembok hotel meluapkan emosinya,
ia tak bisa membiarkan kakaknya terus-menerus di bodohi oleh lelaki bernama Bagus,
ia akan membuat perhitungan nanti pada kakak iparnya,
__ADS_1
biarlah sekarang dia memikirkan kesehatan dan keselamatan kakak serta calon keponakannya,
biarlah nanti jika waktunya sudah tepat ia akan mengungkap kelakuan kakak iparnya.