
Terdengar berat hembusan nafas Satya tatkala menceritakan kembali kisah yang membuat lukanya kembali terbuka.
"Begitulah ceritanya, hingga sampai saat ini om masih setia ikut pak bos" Satya mengakhiri ceritanya.
Ku tatap wajahnya, terlihat semburat kesedihan terlihat jelas di matanya yang sedikit menggenang.
"Tapi kenapa om tidak pernah mencariku? Setidaknya menemui aku yang terbelenggu dengan keluarga papah yang bahkan tak pernah menyukaiku?" protesku pada om Satya, karena merasa tidak di pedulikan oleh keluargaku.
"Butuh waktu yang lama bagi ok untuk memulihkan keadaan om, terutama mental dan hati om" tuturnya,
"Tapi pak bos kita itu tak putus asa, dia selalu menyemangati om Hingga akhirnya om bisa kembali menjalani hidup om. Dan setelah semua terkendali, Om mencarimu, om lihat hidupmu bahagia bersama keluarga papahmu, jadi om fikir kamu tak butuh om yang terpenting kamu bahagia"
kalimat terakhirnya sukses membuat darahku mendidih, bahagia katanya?
"Tapi om..
"Tpi ternyata om salah" potong om satya memangkas ucapanku.
"Setelah om memutuskan untuk mencari tahu seluruh kehidupanmu, Om menyewa detektif handal dan ternyata hidupmu tak seindah dalam bayangan om, Kamu seperti tawanan di rumah papahmu itu. Jadi om memutuskan untuk mengambilmu. Siapa sangka kamu malah datang sendiri kesini"
"Maafkan aku yang sudah berburuk sangka pada om ya" ku menundukkan kepala, menyesal karena yadi sedikit emosi padanya.
"Ekhemmm.."
__ADS_1
"Sudah kangen-kangenannya?" suara baritonnya terdengar tegas.
Kami menoleh serempak ke arah suara. Ah iya, sampai lupa jika di sini ada pak bos hehe.
"Maaf pak bos, saya lupa jika di sini tak hanya berdua" ucapku menampilkan deretan gigi putihku.
Tak ada jawaban dari pak bos, malah aku di tatap tanpa kedip olehny. Melihat ku dari atas hingga bawah hingga atas lagi. Ya Allah kok jadi gini ya. Ku menelan saliva ku.
"Hahahaha" Tiba -tiba pak bos tertawa keras di ikuti om Satya yang juga ikut tertawa.
Ku lirik sekilas om satya lalu memalingkan wajah pada pak bos. Ada apa ini? Kenapa semua tertawa? Apa ini hanya prank semata. Kalau iya... kurang a**r mereka.
"Lihat wajah ponakan mu Sat hahaha" suara pak bos kepayahan saking enaknya ketawa. Sukses membuatku semakin memajukan bibirku, yang tadinya 5 senti sekarang jadi 10 senti.
"Maksud om?" tanyaku penasaran pada om satya.
Lalu om Satya berdiri dan menghampiri pak bos
"Perkenalkan, pak bos kita ini namanya Bagas Sahputra"
"Namanya kayak nama papah, Beda satu huruf saja Sama papah" ujarku mendengar nama pak bos.
"Yap,kamu betul. Karena dia memang adik dari papahmu" lalu merangkul pak bos seperti seorang sahabat.
__ADS_1
Eh.. apa tadi katanya? adik papah? Aku baru ngeh dengan ucapan om Satya.
" Iya, saya adik dari Bagus Sahputra, papahmu" ujar pak bos seperti mengerti dengan kebingunganku.
"Iya kah?? tapi kenapa selama ini saya gak pernah ketemu sama pak bos?" tanyaku memicingkan mata.
"Ya, memang kamu betul. Om memang hampir tidak pernah pulang setelah papahmu memutuskan menikah dengan ibumu, terlebih sejak kejadian kecelakaan Satya. Om tidak pernah pulang sama sekali" penjelasan darinya membuatku semakin bingung,
"Om berbeda prinsip dengan keluarga om yang memandang semuanya dari harta dan tahta, bagi om semuanya sama saja. Di tambah ibumu memilih menikah dengan kakak om, ya sudahlah tak ada yang om pertahankan di rumah itu lagi, jadilah om memilih untuk mandiri" aku menganggukkan kepala.
"Jadi pak bos sama ibu itu cinta tak sampai ceritanya " ucapakan mendapatkan sentilan di dahiku hingga terasa sakit.
Hingga semua terasa melebur begitu saja. Mereka menceritakan semua kisah hidup mereka, dan kisah-kisah mereka bersama ibuku.
"Lalu nenek di mana om?" pertanyaan ku membuat mereka terdiam seketika. Malah slaing pandang tak jelas.
"Nenek sudah di surga bersama ibumu sayang" ucap om Satya seraya mengelus puncak kepalaku.
"Semoga nenek dan ibu di tempatkan di sisimu ya Allah" doa ku panjatkan tulus untuk mereka.
"Terimakasih sudah membuatku banyak tertawa hari ini om" Memandang wajah tampan om-om ku yang sudah tua tapi tetap berkharisma.
"iya sama-sama sayang, kita kan keluarga. Jadi kita akan terus membuat kamu bahagia selamanya. oke Sat?" om Bagas mengacungkan jempol pada om Satya dan di balas jempol juga oleh om Satya.
__ADS_1
Kami berpelukan bertiga. Baru kali ini aku merasakan benar-benar memiliki keluarga, bahkan kakek Wahyu terkadang seperti takut-takut pada oma Rina jika ingin memelukku erat.