Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Ungkapan Hati Bagas


__ADS_3

Jika tidak bisa berbuat baik,


setidaknya jagalah lisanmu dalam berbicara,


Karena lisanmu bisa jadi lebih tajam


Dan dapat memecah belah sebuah hubungan.


@MamaMay


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Appah... Gila lo. Ya enggak lah. Gue masih waras dan enggak akan mungkin gue ngelakuin itu" jawab Bagas begitu lantang hingga satu ruangan itu begitu menggema, Dira dan Ema hanya saling tatap tak tahu apa yang di bisikan Satya pada Bagas hingga membuat Bagas sampai terkejut sebegitunya.


"Syukur deh kalau enggak" Timpal Satya dengan santainya menyilangkan kaki dan meminum kopi latte kesukaannya yang tadi dia pesan pada Office boy sebelum masuk ke ruangan Dira.


Sebenarnya Satya juga tidak percaya jika Bagas bisa melakukan apa yang dia pikirkan,tapi dia iseng saja mengerjai Bagas dan membuatnya hingga terkejut begitu. Satya begitu mempercayai Bagas karena di saat terpuruknya hanya dialah yang menjadi tumpuan dalam hidupnya hingga dia rela mengabdikan dirinya untuk bekerja pada Bagas. Terlepas dari itu semua ada Nadira keponakannya dan juga keponakan Bagas yang harus mereka jaga bersama-sama.


Canda tawa begitu tercipta dengan indah di ruangan itu tatkala mereka semua melepas masalah dalam hidupnya,begitulah mereka. Mereka akan terasa hangat jika bersama keluarganya tapi jika dengan musuh? Jangan Ditanya betapa garangnya mereka demi membela keluarganya.


Tiba-tiba pintu di buka paksa dari luar dan munculah empat orang yang tadi membuat gaduh di ruang rapat.


"Oh Kita kedatangan tamu nona" ujar Ema menyambut tamu itu dengan sinisnya. Betapa terkejutnya mereka di sana ada Satya dan juga Bagas, terutama untuk bu Rina dan Bagus.


"Bagas, ya tuhan Bagas nak. Kamu Bagas anakku" Ujar bu Rina melangkah mendekat dan memeluk Bagas, tapi bukannya membalas pelukan ibunya malah dia hanya diam dan tak merespon apa-apa membuat bu Rina mengurai pelukannya dan menatap anak bungsunya itu


"Kenapa nak? kamu tidak rindu pada mamahmu ini?" tanya bu Rina lirih, di buat wajahnya sesedih mungkin. Entah itu sedih beneran atau bohongan hanya dia dan tuhan yang maha tahu.


Bagas hanya memicingkan matanya, menatap ibunya intens dan mundur sedikit dari tempat berdirinya tadi

__ADS_1


" Saya selalu rindu pada mamah dan untuk itu selalu ku kirimkan doa pada_Nya agar dia mau membuka hati dan pikiran mamah ke jalan yang benar" jawaban Bagas sontak membuat ibu dari dua anak itu membulatkan matanya lebar-lebar.


"Apa maksudmu membuka hati dan pikiran mamah? memangnya selama ini mamahmu kenapa?" tanya bu Rina sedikit emosi dan penasaran


"Tapi sayangnya hingga detik ini doa itu belum menembus langit hingga mamah masih saja seperti ini" hardik Bagas pada mamahnya namun suaranya terdengar lirih, perasaan rindu,sedih dn kecewa berkecamuk menjadi satu dalam hati dan pikirannya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu pada mamah kita?" Kini beralih Bagas, sang kakak yang ikutan emosi.


"Ckk..Rupanya kau pun sama bang, mana abang yang dulu yang selalu ku banggakan. Bahkan hatimu sudah mati bang dengan tega mengusir anakmu sendiri dari rumahmu dan membiarkan dia hidup di luar tanpa bekal apa pun" emmosi sedikit naik ketika membicarakan kebodohan Bagus sang kakak yang tega pada anaknya sendiri. Membiarkannya ketidak adilan terjadi di depan matanya, dan mirisnya itu adalah anaknya sendiri yang tak lain adalah keponakannya Dira.


"Kamu tidak tahu apa-apa, jadi lebih baik diam saja" jawab Bagus tak terima di sudutkan oleh Bagas.


"Iya, aku memang tidak tahu apa-apa. Atau mungkin memang aku ini bukan siapa-siapa untukmu yang bahkan diri ini rela membiarkan wanita pujaannya di nikahi oleh ba**ngan spertimu. Aku yang terus membujuknya untuk terus terus percaya padamu, asal kau tahu itu" ucapnya nyalang di depan kakaknya dengan mata memerah menahan gejolak amarah dirinya.


"Dan bahkan dengan bodohnya aku meninggalkan kalian dan mempercayakan dia padamu. Tapi apa? Tapi apa bang? kau membuatnya pergi dari dunia ini untuk selamanya dan membuat seorang anak kehilangan ibunya" kini suaranya terdengar semakin lirih, memang bila membiarkan Anjani Bagas akan terlihat sedih


"Jadi kamu mencintai Anjani? kenapa tidak bilang pada abang? abang pasti akan mengalah untukmu?" ujar Bagus mendekati adiknya, namun sayang Bagas memilih untuk mundur dan itu sukses membuat Bagus menghentikan langkahnya.


"Abang yakin?" tanya Bagas menatap wajah kakaknya


"I...iya tentu saja" jawab Bagus sedikit ragu.


"Tapi aku yang tidak yakin. Karena semua kemauan Abang harus selalu kau dapatkan, dan beruntungnya Anjani menaruh rasa padamu, bukan padaku. Jadi kau dengan mudah mendapatkan dia tanpa banyak usaha. Tapi malah kau menyakitinya dan menduakannya. Apa itu yang namanya cinta bang?" ujar Bagas mencengkeram jas yang di pakai Bagus.


"Kamu salah paham, abang


"Sudah cukup dramanya, Membosankan. Harusnya kalian saling baku hantam dan salah satunya harus mati, Atau setidaknya masuk rumah sakit dalam keadaan kritis" ujar pak Hamzah masih dengan wajah pongahnya. Sudah Begini saja masih saja sombong, dasar pak Hamzah ini ck ck ck.


ucapan Pak Hamzah sontak langsung mendapat tatapan tajam dari Bu Rina

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Jika masih membutuhkan uangku lebih baik diam saja" ujarnya selalu menyombongkan kekayaannya ,bahkan dia baru saja gagal mempertahankan perusahaannya.


"Tapi kau baru saja menyumpahi anak-anakku" jawab bu Rina tak mau kalah


Ck...decak pak Hamzah tak mau di bantah seperti biasa.


"Saya kesini hanya mau mengambil barang-barang saya" ujar pak Hamzah menatap Dira yang duduk dengan santainya di kursinya.


"Tidak perlu repot-repot, semua barang pribadi anda sudah di bereskan oleh Ema" jawab Dira santai


"Tapi berkas-berkas itu


" Itu berkas-berkas perusahaan pak Hamzah yang terhormat, jadi saya akan memilah dulu nanti. Jika itu memang berkaitan dengan proyek yang anda tangani tentu saya akan memberikannya pada anda" jawab Dira cepat memotong ucapan pak Hamzah.


"Lancang kamu melakukan itu semua pada barang -barang saya" sungut pak Hamzah tak terima dengan yang Dira lakukan


"Saya hanya melakukan tugas pak Hamzah " jawab Ema memberikan pembelaan


"Lebih baik anda lihat markas anda, Jangan mudah terlena" ujar Ema lagi,membuat pak Hamzah memicingkan matanya.


"Mau saya jelaskan di sini tuan Hamzah?"


"Tidak perlu' Lalu melangkah pergi dari ruangan itu yah di ikuti oleh Devi, Mita kebetulan sudah pergi dari tadi. Sedangkan Bagus dan bu Rina masih berdiri di tempatnya.


Ada rahasia apa ya tentang pak Hamzah???


ikuti terus ceritanya ya,


saran dan kritik akan membangun cerita ini menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2