Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Langkah pertama


__ADS_3

Terkadang kita memberi itu bukan karena kita kaya,


Tapi kita tahu dan pernah merasakan rasanya tidak punya apa-apa.


Jika tidak bisa membahagiakan,


Setidaknya jangan membuat terluka.


By. Mamamay


"Nona..nona...Nona Dira" Suara berat membuyarkan lamunan Dira di sertai lambaian tangan di depan wajah dira ke kanan dan ke kiri.


"Ah...iya kenapa?" tanya Dira cepat setelah sadar dari lamunannya.


"Di tanya malah melamun, kenapa? membayangkan wajah tampanku ya hm..hm?" Ucap Bian sambil berpose sok kegantengan di hadapan Dira.


Dira yang melihat itu memutar bola matanya malas,


"Ck.. jangan sok kepedean tuan Bian yang terhormat" sergah Dira cepat


"Saya bukan melamun tentang anda, saya hanya berfikir untuk apa saya di sini menemani anda yang gak jelas" ucap Dira sambil beranjak dari kursinya, namun segera di cegah oleh bian dengan cekalan di tangannya.

__ADS_1


Dira menatap tajam tangan yang di sentuh oleh Bian. Bian yang menyadari hal tersebut segera melepaskan tangannya dari tangan Dira.


"Maaf..maaf..bukan maksud saya.."


"Tidak apa-apa. Tapi tolong jangan di ulangi. Anda memang rekan bisnis saya tapi untuk urusan pribadi tolong jangan ikut campur" potong Dira cepat lalu meninggalkan Bian begitu saja, tapi belum jauh melangkah suara Bian terdengar kembali


"Saya tahu semua tentang kamu Nadira Putri" ucapnya lantang di tengah kesunyian malam


Dira sontak menghentikan langkahnya, Menghembuskan nafasnya lalu memutar tubuhnya melangkah kembali ke tempat semula.


"Apa maksud anda?" sungut Dira tak mau semua orang mendengar pembicaraan mereka.


"Bukan maksud apa-apa. Saya hanya ingin mengenal lebih dekat denganmu. Apakah salah?" tanya Bian


Dira memasuki gedung acara dan kembali menempati tempat duduknya semula. Menyaksikan kebahagiaan di atas sana dengan mata elangnya.


Inti acara sudah selesai,kini semua asik dengan jamuan yang di sediakan. Tak lupa pembicaraan yang tak jauh-jauh mengenai bisnis menjadi topik pembicaraan.


Dira tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memperluas jaringan bisnisnya. Dengan kemampuan bisnis yang di milikinya dan juga tutur lembutnya mampu membuat banyak pebisnis memujinya dan ingin menjalin kerjasama dengannya .


Dira melihat kesempatan untuk ikut bergabung dengan Hamzah dan keluarga,tentu Dira segera mengesampingkan lukanya untuk tujuannya

__ADS_1


"Selamat untuk pestanya yang sangat meriah tuan Hamzah" ucap Dira membuka percakapan di ikuti Ema dan Satya di belakangnya.


Sebenarnya tadi Ema sedikit ragu, takut jika ada yang mengenalinya nanti. Tapi Dira meyakinkan dengan tenang jika itu semua tidak akan terjadi. Karena Ema yang dulu dan sekarang tentu jelas berbeda. Dalam kurun waktu tiga tahun Dira membuat Ema menjadi lebih cantik dan berkelas, Jika Om Satya justru ingin dirinya bisa berhadapan dengan mantan kakak iparnya itu, eh masih ipar atau mantan ipar ya? secara kan mereka berpisah karena Anjani yang meninggal bukan karena bercerai.


Satya pun begitu, sudah banyak berubah. Dulu badannya kurus tak terawat, di tambah kulitnya sedikit gelap akibat terlalu sering terkena panas. Tapi Satya yang sekarang, Dia laki-laki dengan gaya perlente, fashionable dan tampan,di tambah dengan otot-otot yang tercetak jelas di kulit putihnya, memang dengan uang kita bisa merubah segalanya ya.


Mereka menatap Dira dengan seksama, sedang yang di tatap hanya mengatupkan tangan di depan dadanya


"Saya Nadira dari PT. NP corp, senang bisa ikut hadir memeriahkan pesta anda sekeluarga tuan" ucap Dira memperkenalkan dirinya sebagai perwakilan dari NP corp.


"Ini asisiten saya dan ini ...


"Saya pengawal pribadi Nona Nadira" jawab Satya cepat ketika melihat Dira kebingungan.


"Oh dari NP corp, wah perusahaan itu sedang melesat maju ya sekarang. Banyak perusahaan ingin menjalin kerjasama dengannya. Beruntungnya saya sudah menjalin kerjasama dengan NP corp belakangan ini" ucap pak Hamzah memuji perusahaan yang Dira itu. Dalam cadarnya Dira tersenyum smirk.


"Silahkan.. silahkan bergabung dengan kami" ucap nenek eh bu Rina maksudnya memepersilahkan Dira untuk duduk bergabung.


Tentu itu yang Dira mau, tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada segera Dira, Ema dan Satya mengambil kursi kosong yang tersedia.


Selangkah maju untuk tujuanku batin Dira melirik Ema dengan elegannya...

__ADS_1


Kira-kira apa ya tujuan Dira?


ikuti terus ceritanya ya...


__ADS_2