Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Sosok Tak Asing di ujung pertempuran


__ADS_3

Sedangkan di satu sisi Dira masih terus menyerang Hamzah tanpa ampun, dia bahkan tidak menyadari bahaya pada anggotanya ketika sedang di kuasai amarahnya.


Ema sudah berhasil melepaskan diri dari semua ikatannya, segera dia berdiri dan hendak membantu Dira namun di satu sisi ada anggotanya yang sedang dalam bahaya, karena yakin jika Dira tidak akan kepayahan melawan Hamzah Ema memilih menghampiri Bela, ya anggota Dara Putih yang menginjak ranjau tadi.


"Maaf mba" ujar Bela dengan wajah penuh penyesalan


"Hem..tidak apa-apa. Bukan salah kamu, kita semua kecolongan di sini" jawab Ema lalu berjongkok melihat ranjau itu, ternyata itu ranjau tunggal tidak saling berhubungan mungkin dengan ranjau -ranjau lainnya. Ema mencari sesuatu yang bisa di jadikan penahan ranjau dan gotcha... Ema melihat ada anggota The Don yang terluka parah, bukan tak empati tapi karena kondisi Ema terpaksa menariknya dan di jadikannya sebagai penahan ranjau agar tidak meledak saat Bela mengangkat kakinya.


"Angkatlah!" titah Ema pada Bela dan di ikuti oleh Bela.


Perlahan tapi pasti Bela mengangkat kakinya dan bisa bernafas lega ketika ranjau itu tidak meledak.


"Huffft syukurlah. Terimakasih mba" ujar p


Bela begitu lega ketika berhasil terlepas dari ranjau itu.


"Iya. Bersyukur kamu dan kita semua Selamat, berhati-hatilah lagi, mengerti" ujar Ema tegas dan di angguki oleh semuanya


Setelah selesai dengan ranjau Ema segera mendekati Dira yang masih beradu kekuatan dengan Hamzah,


"Nona, berhentilah. ini biar saya yang urus" ujar Ema ketika berhasil menarik Dira dari pertarungan itu,


Wajah Dira sudah merah akibat amarahnya membuncah, Ema lantas memeluk Dira dan terus mengucapakan istighfar di telinga Dira. Ema tak membawa obat yang biasanya di konsumsi Dira pada saat kondisi seperti ini, semua di luar dugaan.


Sementara pak tua Hamzah mengatur nafasnya, di usianya yang tak lagi muda dia masih bisa mengimbangi perlawanan Dira. Cukup hebat di akui oleh Ema.


Tiba-tiba sebuah tangan mencekal pundak Ema,sontak satu tangan ema gunakan untuk menahan, dan memutar dan menarik tangan itu hingga membuat sang empunya di buat terbang melayang lalu di hempaskan ke tanah.


"Aduh..." erang si ibu. Ema membelalakkan matanya melihat yang di banting tadi ibunya, sementara kondisi Dira masih berada dalam pelukannya mulai sedikit merasa tenang.

__ADS_1


"Maaf,saya tidak sengaja" lirih Ema, melepaskan Dira dari pelukannya dan membantu ibunya untuk berdiri.


"Tidak apa-apa, salah ibu juga yang membuatmu terkejut" jawab bu Lidya menanggapi ucapan maaf anaknya


"Biar Nadira di sini bersama ibu, pergilah. Beri pelajaran pada si tua Hamzah itu, bila perlu habisi dia" ujar bu Lidya


Ema menatap Dira, Dira hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban bahwa dia baik-baik saja dan menatap ibunya dengan tatapan yang sulit di artikan, lalu lekas menghampiri Hamzah.


"Haha... ternyata kalian hebat juga masih bisa bertahan hingga kini, tapi tidak sebentar lagi" ujar Hamzah membuat kerutan di dahi Ema yang kebingungan dengan Ucapan Hamzah tadi


"Apa maksudmu hah? tidak puaskah kamu meihat nona Dira yang depresi seperti itu? dan itu semua akibat ulahmu mengerti. Jadi akan ku balaskan semuanya di sini, saat ini"


"Hia.....


Ema segera menyerang Hamzah, kali ini Hamzah di buat kualahan oleh Ema karena tenaganya tadi habis terkuras saat melawan Dira tadi.


Namun di tengah pergulatan yang terjadi Hamzah menyeringai dan


Ema menolehkan kepalanya dan melihat hampir semua yang berada di dekat ranjau tadi berjatuhan. Tapi satu yang Ema lupakan, jangan pernah menolehkan kepala jika sedang bergulat. Alhasil sebuah pisau kecil menancap tapat di dadanya oleh Hamzah dan sebuah senyuman mengejek dari Hamzah.


"Bod*h" ujarnya lalu hendak menancapkan lagi pada perutnya namun belum sempat pisau itu menancap di perut ema terlebih dulu sebuah batu menyambar pisau itu dan membuatnya terlepas dari tangannya.


bu Lidya yang melihat itu berteriak histeris


"Ema........" dengan sigap dia mendekati Ema.


Dira pun bergerak mendekati Ema. Bukan, bukan Ema yang di tuju melainkan Hamzah,dia kini menyerang Hamzah dengan lebih ganas. Amarah sudah tak begitu menguasainya, hingga semua serangannya akurat dan dengan beberapa pukulan mendarat di pipi perut dan kaki Hamzah


"Ini untuk ibuku...Bughhh" sebuah pukulan pertama di kepalanya

__ADS_1


" ini untuk Ema dan ibunya..bughhh" pukulan kedua di perutnya


"Dan ini untuk semua kesombonganmu.. bughhh " pukulan ketiga di kedua kakinya membuat hamzah jatuh ambruk seketika.


"Selesai sudah riwayatmu Hamzah, sisanya biar Allah dan hukum yang mengurusnya " ujar Dira melihat Hamzah yang sudah tidak berdaya


"Ukhhuukkh" Ema terus mengeluarkan darah dari dada dan juga mulutnya. Ema berjongkok dan ingin segera membawanya kerumah sakit


Dira menaruh Ema di punggungnya dan hendak mengangkat tubuhnya namun belum sempat kaki berdiri tegak sebuah pisau menancap di kaki sebelah kirinya


"Aaah.... astaghfirullah" Dira melihat kakinya yang terkena pisau tadi dan melihat sumbernya, siapa gerangan yang melempar pisau itu


"Kau...." ujar Dira dengan gigi bergemerutuk menahan amarah dan sakitnya.


"Ya, ini saya anak haram. Kenapa hem?" ujarnya dengan sombongnya


Dira berjongkok dan mencabut pisau di kakinya dan dengan cepat melemparkannya kembali pada pemiliknya dan tepat sasaran di perutnya


"AKkkkhhhh" tubuhnya ambrug ke tanah


"Nadira...


Dira menolehkan kepalanya pada Suara yang dia kenal dan


"Cleeeeppppp" satu pisau menembus dadanya dan satu pisau lagi di lengannya, banyaknya darah yamg keluar membuat Dira tak kuat dan tubuhnya jatuh masih dengan posisi menggendong Ema ambrug luluh ke tanah.


Sebelum matanya benar-benar tertutup sempurna dia menangkap sosok wajah yang tak asing lagi di matanya.


Bagus berdiri tegak di sana dan satu lagi adalah.....

__ADS_1


kira-kira siapa ya guys????


coba tebak hayoooo..


__ADS_2