
Pengingat Diri
Sesungguhnya tak ada satupun obat
Yang bisa menyembuhkan rasa sakit
Kecuali hati yang percaya
Bahwa apapun yang Allah tetapkan untukmu
Adalah yang terbaik untukmu
Pun, tak ada satupun obat
Yang bisa menyembuhkan sakit hati
Kecuali keikhlasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu..." ujar Dira lirih namun penuh penekanan.
Dia pun tersenyum melihat Dira, senyumnya merekah seperti bunga sakura yang mekar di musim semi.
__ADS_1
"Sudah sadar rupanya bidadariku" ujarnya lalu duduk di tempat duduk tepat di samping Dira bersebrangan dengan Ema.
Dira mendelik menatapnya malas, Lalu ekor matanya melirik Ema, yang di lirik hanya mengangkat bahunya. Dira pasrah jika sudah seperti ini pasti ada alasan di balik adanya manusia yang sudah duduk di sampingnya itu.
"Kenapa? Mau bertanya apa?" tanyanya melihat Dira sedari tadi terus menatapnya dengan sengit, padahal dia merasa bukan musuh.
"Ada...
"Sudah - sudah lebih baik jangan banyak bicara dulu, kamu kan baru sadar, pasti masih lemas ya. Lebih baik kamu istirahat aja ya" belum sempat Dira berucap sudah di potong dulu olehnya, Dira mendelik memutar bola matanya malas. Tapi satu yang pasti, menyebalkan.
"Nona Dira sudah sadar dari dua jam yang lalu pak, dan sudah di lakukan pemeriksaan oleh dokter. Tinggal menunggu hasilnya saja sekitar satu sampai dua jam lagi" Ema kini berujar memberikan informasi pada Bian tentang kondisi Dira. Ya orang yang datang tadi adalah Biantara.
"Ekhemmm" Dira berdekhem membuat Bian dan Ema mengalihkan perhatian padanya
"Jelaskan semuanya Em" titah Dira pada Ema tegas. Tetapi Ema masih diam dan justru melirik Bian di seberangnya dan itu membuat Dira semakin tidak mengerti.
Semuanya terasa samar, Dari Ema yang ternyata adalah anak buah Hamzah untuk melenyapkannya, lalu justru Ema menjelma menjadi malaikat dalam hidupnya dan kemarin sebelum matanya tertutup dan gelap dia melihat dia, ya dia adalah Bian. Biantara ada di tempat itu tepat di belakang ayahnya,bagus.
Apa yang sebenarnya terjadi, adakah semua ini bukan hanya permainan sandiwara yang dia adalah lakon yang di dalangi seseorang sedemikian rupa. Aaah rasanya terlalu berat, kepalanya terasa sakit dan mau pecah
"Akkkhhhh..." erang Dira memegang kepalanya membuat Ema dan Bian panik, segera Ema menekan tombol emergency di samping ranjang Dira.
"Nona, kenapa nona? nona saya mohon jangan seperti ini nona hiks...hiks..hiks" Ema panik saat melihat Dira yang kesakitan sambil memegang kepalanya. Dira melihat Ema yang terkesan begitu menyayanginya menjadi heran, siapa sebenarnya dia? apa tujuannya selama ini terhadap Dira. Sungguh kepalanya penuh, sangat penuh hingga tak lama semuanya menjadi gelap kembali.
__ADS_1
"Bagaimana mana ini pak? seharusnya kita ceritakan saja semuanya pada nona Dira." Ema sudah buntu, untuk saat ini dia hanya bisa percaya pada Biantara saja
"Iya saya pikir nanti aja setelah semuanya kondisinya membaik, dan dokter mengatakan semuanya aman baru saya akan ceritakan pada dia" jawab Bian
"Tapi semua di luar dugaan saya, Diraku terlalu memaksakan kepalanya untuk berpikir dan bekerja keras hingga membuat dia seperti ini. Saya sungguh sangat menyesal. Sakit melihat dia kesakitan seperti tadi" lanjutnya lagi dengan pikiran menerawang jauh entah kemana
"Nona dulu juga pernah seperti itu, waktu dulu dia melawan rasa rindu terhadap keluarganya. Perasaannya berperang antara rindu dan bencinya, hingga sempat membuat nona depresi beberapa waktu. Saya berusaha untuk selalu ada di samping nona Dira, dia sebenarnya wanita yang kuat dan tangguh. Tapi terkadang dia terlalu perasaan sehingga sering membuat dia terlalu berpikir keras dengan perasaannya" ujar Ema menjelaskan tentang Dira,entah kenapa Ema merasa Bian bukan orang jahat yang memanfaatkan keadaan.
Bian mendengarkan dengan baik semua hal di jelaskan oleh Ema tentang Dira membuatnya tertarik
"Nona butuh waktu dulu untuk sembuh dari depresi, memang tidak parah. Tapi terkadang jika melihat keluarga harmonis di depannya tiba-tiba nona akan kehilangan semangat hidupnya, dan itu cukup membuat hidupnya berantakan. Hingga pada suatu titik dimana nona merasa buntu, hingga tercetus untuk membalas dendam dengan prestasi. Hingga membuat nona terus semangat semenjak itu, dan tak pernah lagi terlihat sedih dan depresinya berangsur hilang dengan sendirinya"
"Saya merasa bangga melihat pencapaian nona Dira, dan saya akan terus membersamainya hingga waktunya nanti" Ema terlihat menitikan air matanya, entah apa yang dirasakannya.
"Hiks..hiks.." tangisan lirih terdengar,tapi anehnya itu bukan suara Ema
Ema mendongakan kepalanya, melihat siapa gerangan yang menangis di sekitarnya, dan sungguh aneh lelaki di depannya justru yang menangis. Meski tidak keras dan terdengar lirih, namun dia lelaki gagah tapi menangis seperti perempuan.
Ibarat kata " Badan aja gede, tapi hatinya helokitty"
hahaha...
Abang bian.. Abang Bian...
__ADS_1
Ada-ada saja kelakuanmu itu...