
Kemenangan bukan saat diri ini mampu berdiri,
Kemenangan adalah Ketika kita menyadari bahwa kita tidak dapat melakukannya sendiri,
Kemenangan bukan juga menjadi prioritas
Tapi juga dapat menjadi pengalaman dan motivasi diri,
"Jika kau tak mampu menerima kekalahan, maka kau takkan mampu merayakan kemenangan"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana Gaduh mulai mendominasi ruangan, namun Dira hanya santai menyikapinya. Di situasi seperti ini dia sangat menunjukkan betapa dinginnya seorang Nadira, dia bisa menjadi apapun untuk membuat lawanya tak berdaya selagi masih dan tak menyakiti orang lain.
"Jadi itu maumu pak Hamzah yang terhormat?" tanya Dira dingin dengan mata Elangnya yang menghunus tajam siapa saja yng melihatnya. Bagus dan yang lainnya begitu terkejut dengan ekspresi dari Dira ya g begitu Kuat, berbeda dengan Dira, eh salah dulu dia Putri yang lemah dan selalu mengalah.
"Jelas, ini PERUSAHAAN ku" Pak Hamzah sengaja menekan kata perusahaannya agar Dira menjadi sadar( padahal dia sendiri yang belum sadar ya hehe).
"Ck... Ternyata anda belum bangun dari mimpi anda pak Hamzah. Anda bisa mendengar bahkan bisa melihat langsung datanya dengan jelas bahwa saya pemilik saham terbesar di sini, jadi jelas di sini jika perusahaan ini sekarang berada di bawah kepemimpinan saya. Dan anda sekarang harus menuruti segala kebijakan saya kedepannya atau ..."
Dira menjeda kalimatnya dan menatap pak Hamzah dengan senyuman di sudut bibirnya,
__ADS_1
"Atau apa hah?" hardik Hamzah tak sabaran.
"Atau silahkan berurusan dengan pihak yang berwajib jika anda tidak mau di ajak bekerja sama" jawab Dira masih dengan aura dinginnya.
"Dasar licik, kau itu rubah kecil yang licik dan kau tak berhak menjebloskan saya ke penjara" Ucap pak Hamzah murka sambil menggebrak meja yang jelas di lihat oleh semua anggota rapat yang keheranan melihat pak Hamzah seperti itu, memang pak Hamzah terbiasa arogan tapi tidak pernah sampai semurka itu.
"Saya? Licik?" tanya Dira menyeringai dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Saya membeli semua saham itu, bukan mencurinya pak Hamzah yang terhormat. Dan untuk saham lima persen tadi adalah hadiah dari keluargaku Bela, tentu anda mengenalnya dengan baik bukan?" ucap Dira sambil menyeringai melihat mimik wajah pak Hamzah yang menahan amarahnya.
" Tutup mulutmu itu si**an" ucap pak Hamzah semakin murka dan hendak berdiri namun di tahan oleh Devi , anaknya.
"Lihat!! kalian masih mau mengikuti bos macam dia yang tak bisa mengontrol emosinya? pantas saja proyek di sini banyak yang gagal,bahkan dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa sekarang dia tidak lagi menjadi pimpinan di sini. Apa sekarang anda masih bisa menyombongkan diri pak Hamzah yang terhormat?"
"Harap tenang semuanya dan untuk pak Hamzah mohon untuk tidak membuat keributan lagi dan di mohon untuk menerima bahwa sekarang CEO baru perusahaan kita bukan lagi anda, melainkan ibu Nadira. Anda bisa menerimanya dengan tetap bekerja di perusahaan ini atua anda bisa pergi dari perusahaan ini dan menjual sisa saham yang anda miliki" ujar pimpinan rapat dengan tegas.
Kali ini pak Hamzah tidak lagi memprotes ataupun merespon Ucapan pimpinan rapat, dia kemudian bangkit dan menggandeng tangan anaknya lalu keluar dari ruang rapat ini, di ikuti oleh Bagus, ibu Rina dan juga Mita yang mentapku sekilas lalu mengikuti langkah Bagus di depannya, sedangkan bu Rina? jangan di tanya lagi, tatapan penuh kebencian ia tunjukkan ketika tatapan mereka bersirobok.
"Baik, dengan ini sudah jelas seperti yang saya katakan tadi jika CEO baru perusahaan ini adalah ibu Nadira. Segala keputusan dan apapun itu mengenai untuk kemajuan perusahaan harus dengan persetujuan beliau" ujar pimpinan rapat yang di angguki oleh Semua peserta rapat tanpa ada yang memprotes, sepertinya mereka semua setuju jika Dira menjadi CEO baru perusahaan.
"Semoga ibu Nadira bisa memimpin perusahaan dengan baik kedepannya. Mari kita sambut CEO baru kita ibu Nadira Putri" ujar pimpinan sambil bertepuk tangan dan di ikuti oleh semua peserta rapat.
__ADS_1
Dira berdiri lalu membungkukan badan sebagai rasa hormatnya pada semuanya.
"Terimakasih sudah menerima saya sebagai CEO barudi sini. Saya akan berusaha semampu saya memajukan perusahaan dan saya harap kerjasamanya untuk kemajuan perusahaan ke depannya, Terimakasih" ujar Dira dengan bijak tanpa berpanjang lebar.
Akhirnya keputusan sudah di buat, CEO baru perusahaan adalah Nadira Putri dan rapat selesai.
Dira merasa puas dengan hasilnya, meskipun harus ada drama pak Hamzah tadi tapi tetap dirinya lah pemenangnya. Masih duduk di kursinya, Dira memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan di sertai senyuman indah yang terbit dari bibir indahnya.
"Sudah Dir, lama amat ngelamunnya" celetuk Bagas menyenggol bahu keponakannya itu
" Capek juga yah nyamar jadi bodyguard, badan kaku pegel-pegel semua ini" celetuknya lagi sambil meregangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"Ck.. Mengganggu saja. Tuh lihatin Ema sama om Satya aja biasa aja juga om" ujar Dira sambil dagunya menunjuk kedua orang yang setia diam di tempatnya.
"Ya elah.. jangan samain ommu yang ganteng ini dengan kedua kanebo kering lah Dir,jelas berbeda " jawab om Bagas dan sontak itu membuat kedua orang itu yang tak lain Ema dan Satya menatap tajam Bagas. Bagas yang sadar mendapat hunusan dua tatapan tajam langsung nyengir
"Sorry -sorry jia ellah.. becanda gue" jawab Bagas tak merasa bersalah, sedangkan Ema dan Satya hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Sudah-sudah, sekarang kita lihat ruangan CEO nya" ujar Dira lalu beranjak dari kursinya dan melangkah keluar di ikuti Ema, Satya juga Bagas di belakangnya.
Saat memasuki ruangan CEO dira memutar knop pintu dan membukanya, Dira melihat masuk ke dalam dan........????
__ADS_1
Dan apa ya pemirsa???
coba tebak-tebakan hayo....