
Menjadi orang baik di mata semua orang adalah hal yang mustahil dan sulit,
Karena orang pada umumnya terlalu cepat menjatuhkan hukuman terhadap orang lain,
Walaupun hanya mendengar melalui cerita yang belum terbukti benar adanya.
Mata itu menatap ku tajam hingga terasa menusuk ke tulang belulang.
"Jam berapa?" tanyanya to the poin tanpa basa basi.
"Jam set 10" jawabku menunduk, tak berani menatapnya karena memang aku bersalah.
"Lalu?" tanyanya lagi dengan suara tegasnya
"Maaf pah, aku tadi ada pekerjaan tambahan. Kan aku sudah memberi pesan pada papah" jawabku masih menundukkan kepala. Ya tadi aku menabrak tubuh papah karena tidak fokus jalan depan, terlalu takut hingga tak sadar menabraknya.
"Lantas kau boleh pulang selarut ini hah? di antar lelaki pula, apa saya pernah menyuruhmu untuk bekerja? apa saya pernah menuntut mu sesuatu hah?" Hardiknya dengan rentetan pertanyaan-pertanyaannya.
"Saya hanya mau kamu mengikuti semua perintah saya, tidak kurang tidak lebih. Apa itu susah?" ucapnya lagi dengan suara melemah.
"Maaf pah" mataku mulai meneteskan air, ini kali pertama papah marah padaku, walaupun kasih sayangnya berat untuk adikku Mita, tapi ia tak pernah marah kepadaku sampai seperti ini. Hanya sedikit menasihati saja jika aku berdebat dengan oma Rina, mamah Devi ataupun Mita. Tentu aku yang akan selalu di anggap salah oleh mereka, tanpa mau mendengar penjelasan terlebih dahulu. Hal itu sudah biasa bagiku.
"Lantas apa ini?" Tanyanya lagi lalu melempar sesuatu di depanku. Ku tatap benda itu, Foto? foto siapa dan kenapa papah melemparkannya di depanku?
__ADS_1
Ku ambil lembaran foto itu dan membaliknya. Mataku di buat terkejut melihatnya.
"Ini kan fotoku waktu di antar oleh om Bagas tadi" ucapku dalam hati, tapi jika di ambil dengan angle foto tertentu akan terlihat seorang wanita dan pria yang tengah bermesraan. Ya Allah apa ini?
"Sejak kapan kamu jadi wanita murahan hah?" bentakan itu sukses membuatku terjingkrak kaget. Sepertinya kali ini ia sangat marah besar.
"Tapi itu gak seperti yang papah pikirkan pah" elakku karena memang itu om Bagas saat tadi mengantarku, sayangnya aku tak bisa mengatakan kalau itu om Bagas, adik papah. Karena aku sudah berjanji tadi.
"Lantas apa hah? sudah jelas-jelas di foto itu kamu dengan lelaki itu berc***an, di pinggir jalan lagi. Murrrahan" aku langsung mengangkat kepala ku, menatap wajah orang yang telah membuatku berada di dunia ini selain ibu. Tak menyangka jika kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Pa...pah tega ngomong gitu sama aku, anak papah sendiri?" ku beranikan menatap matanya yang sedari tadi menatap ku tajam.
"Kenapa? tidak terima? makanya jangan berulah jadi perempuan. Mentang-mentang ibumu sudah tidak ada bukan berarti kamu jadi wanita liar seperti itu Putri " suaranya semakin meninggi tapi tak membuatku takut, karena apa yang di tuduhkanya tidak lah benar.
"Papah dapat darimana foto-foto itu?" tanyaku lagi mencari tahu.
"Tak perlu kamu tahu dari mana, Katakan saja berapa mereka membayarmu?"
Aku menggelengkan kepala, sungguh rendahnya papah menilaiku.
"Aku bukan perempuan murahan pah" ucapku lirih, lelah menjelaskan padanya, tetap tak percaya.
"Lantas ini apa Dira?" dengan lantang,kembali papah menunjukkan poto itu.
__ADS_1
"Aku sudah bilang itu bukan seperti yang papah bayangkan, aku bukan perempuan murahan" tegasku pada papah dan hendak beranjak dari hadapan papah, tapi tiba-tiba
"Plaaak..
Pipiku terasa sakit,perih, panas. mungkin jelas tercetak gambar tangan di sana.
"Papah nampar aku?" sungutku, gigiku bergemurutuk menahan amarah di dalamnya.
"Kamu ini tidak sopan. Orang tua masih bicara main tinggal, asal kloyong aja. Ternyata selama ini papah terlalu membebaskan pergaulan mu hingga sampai jadi seperti ini, tidak beretika" . Aku sudah kehabisan kata-kata. Percuma jika terus menjelaskan pun aku tak akan di dengarkan. Andai aku bisa mengatakan yang sebenarnya, Aahhh. Aku hanya bisa mentapnya dengan nanar, aku ini anak kandungnya atau bukan? kenapa seolah-olah aku ini hanya orang asing yang kebetulan tinggal di rumah ini.
"Kenapa kamu tidak bisa seperti ibumu, dia sangat baik dan penurut. Wajahmu memang seperti Anjaniku tapi tingkah mu berbeda denganya" ucapnya lirih meneteskan air mata,sepertinya ia tengah mengingat mendiang ibuku, seperti ada penyesalan dari matanya,ahh entahlah.
"Lantas kenapa wanita sebaik ibu bisa ayah duakan?" ku ajukan pertanyaan yang terbesit di otaku.
"Kamu tidak tau apa-apa tentang itu. Jadi diam saja. Dan jangan mengalihkan pembicaraan" jawbanya
"Papah tanya sekali lagi padamu Nadira Putri, Apa benar kamu menjajakan dirimu karena kamu kespian?"
Tak ku jawab. Tak ada pembelaan atau apapun. ku kepalkan tanganku menggambarkan kemarahanku, lalu tiba-tiba
"Bruuugh.....
Sontak aku dan papah melihat sumber sumber suara, dan ternyata......
__ADS_1