
Tak terasa waktu sudah sore, Aku dan Ema segere bergegas membereskan pekerjaan. Setelah semua selesai Aku beranjak dari kursiku dan mengambil mantelku yang ku taruh di sandaran kursiku dan memakainya.
Ema sudah siap dengan segalanya, dia akan membawa tas milikku dan juga miliknya. kebiasaan dari dulu yang tak pernah berubah, aku bahkan pernah menolak dan ingin membawa barangku sendiri tapi Ema malah merajuk, katanya itu sudah tugasnya, jika aku membawa barang sendiri berarti tugasnya sudah tidak ada dan itu berarti aku mau ia berhenti bekerja padanya,tentu saja aku tak mau kehilangan orang seperti Ema dan memilih mengalah.
Setelah mengenakan mantel ku ambil map berisi desain bangunan yang belum selesai ku kerjakan, niatnya akan ku selesaikan di rumah nanti. Saat menarip map tanpa sengaja sebuah kertas seperti undangan terjatuh dari bawah map. Ku ambil kertas itu dan melihatnya,
"Oh ya ampun Ema aku sampai lupa membaca undangan dari om Satya, coba ku baca sebentar mana tahu penting kan" selorohku menyandarkan diri pada meja lalu membuka undangan itu,
Di situ tertulis Pesta Ulang tahun Mita putri Hamzah dan aniversary Hamzah properti, sebuah perusahaan yang patut di perhitungkan karena Perusahaan itu sudah berdiri bahkan melebih dari umurku dan hingga kini masih berdiri kokoh.
ku mengerutkan dahi melihat nama yang berulang tahun, Mita? apa itu mita adikku? ahh tapi nama belakangnya berbeda, mungkin hanya kesamaan nama saja.
"Lihat Em, kita mendapatkan undangan dari Hamzah properti sekaligus merayakan ulang tahun cucunya" ucapku pada Ema sambil menyerahkan undangan itu padanya
"Mita?" dahinya berkerut dan sudah ku pastikan itu akan sama seperti keherananku.
"Aku tahu kamu pasti heran, tapi nama belakangnya berbeda Em, sudahlah ayo kita pulang. Kita harus mempersiapkan segalanya karena pestanya besok sore, aku akan menjadikan ini untuk memperluas jaringan bisnis kita. Pasti di sana banyak orang-orang penting kan" ucap Dira sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar
"Nona yakin akan pergi kesana?" tanyanya, Dira menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Ema
"Tentu, kenapa tidak Em. Bukanya itu bagus kan untuk kemajuan perusahaan kita, kita bisa menjalin hubungan yang baik dengan mitra usaha kita di sana"
"Tapi nona...
"Sudahlah Em, aku capek sekali hari ini. Aku ingin segera sampai rumah dan mengistirahatkan tubuhku" jawab Dira cepat memotong pembicaraan Ema.
"Baik nona" jawab Ema pasrah, biarlah nanti ia tanyakan sendiri pada Satya perihal undangan itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena ini jam-jam orang pulang kantor jadi jalanan cukup padat.
Ku memilih untuk mendengarkan musik untuk menghilangkan penat di jalan
ku pilih lagu-lagu melow nan syahdu
Jiwa Yang bersedih
by. Gea
__ADS_1
Kemarilah,
Singgah dulu sebentar
Perjalananmi jauh
Tak ada tempat berteduh
Menangislah
Kan kau juga manusia
Mana ada yang bisa
Berlarut-larut
Berpura-pura sempurna
Sampaikan pada jiwa yang bersedih
Begitu dingin dunia yang kau huni
Bawa lukamu biar ku obati
Tidakah letih kakimu berlari
Ada hal yang tak mereka mengerti
Beri waktu tuk bersandar sebentar
Selama ini kau hebat
Hanya kau tak di dengar
Ho....oh....
Menangislah
__ADS_1
kan kau juga manusia
Mana ada yang bisa
Berlarut-larut
Berpura-pura sempurna
Klik...
musik mati dan mataku terbuka tak terasa sudah mengembun terlalu menghayati lagu itu. Lagu dari Gea itu seperti gambaran diriku yang tak pernah di anggap, aku hanya manusia yang menumpang hidup di keluarga itu, tidak lebih. Bertahun-tahun ku mencoba melupakan,tapi rasa sakitnya sungguh masih terasa. Tidak di anggap,pilih kasih hingga aku di hempasan begitu saja seperti membuang sampah , bahkan jika sampah pun masih ada bekasnya tapi aku tidak. Kemarin ku lihat mereka hidup bahagia, tertawaan menikmati hari mereka tanpa ada beban. Aku pun harusnya begitu bukan? Aku berhak bahagia bukan? Kenapa engkau yang bergelar ayah begitu tega pada diri ini hiks...hiks...
Tepukan di bahuku menyadarkan aku dari lamunanku, ku tatap Ema sekilas lalu fokusku ke jalanan lagi
"Jangan mengasihaniku Ema, Aku tak butuh itu" Selorohku melengos ketika Ema mentapku
"Saya tidak kasihan kepada nona. Nona wanita yang hebat. Buktikan pada Mereka jika nona bisa lebih dari mereka tanpa bantuan dari mereka" jawaban Ema membuka pikiranku, aku terlalu larut pada kesedihanku. Ema benar, aku mampu, aku bisa, Aku Nadira Putri pemilik PT. NP corp yang bahkan bisa berjajar dengan perusahaan-perusahaan seperti Hamzah properti.
"Kita Ke butik atau bagaimana nona?" Tanya Ema
"Panggil saja mereka ke rumah, kirim beberapa gaun untukku dan juga kamu" jawabku cepat dan tegas
"Saya seperti ini saja no...
"Sekali-kali gunakan gaun Em,biar orang-orang tahu kalau kau juga bisa anggun" pangkasku memotong ucapan Ema sambil menggodanya
"Saya tidak butuh itu nona, selama di luar pun saya berpakaian biasa saja " Jawab Ema
"Ck .. kita di Indonesia Em, dan kita wajib berbaur dengan pemilik perusahaan-perusahaan besar untuk memperluas jaringan bisnis kita. Jadi kita akan banyak interaksi dengan orang penting di pesta. Jadi ku mohon gunakanlah gaun kali ini. pilih sesuai seleramu saja, dan kau tahu seleraku. Masukkan saja ke tagihan seperti biasa" Jawabku panjang lebar, kadang-kadang emang si Ema nih kudu di gituin dulu.
"Kenapa nona mengambil baju dari butik sendiri tapi selalu memasukkan tagihan bulanan? " tanyanya, karena memang selalu begitu jika aku mengambil baju atau apapun dari butik aku akan selalu membayarnya meski butik itu milikku sendiri
"Butik juga harus jelas pengeluaran dan pemasukkannya jan Em, Jika omset bulanan menutupi kan karyawan juga mendapat bonus,lagipun aku tak kekurangan uang untuk membayar semua itu. Jadi apa salahnya kan" jawabku menyandarkan kepala.
Sedangkan Ema hanya menganggukkan kepala saja
"Itu yang membuat saya salut sama nona masih memikirkan orang lain di atas semua lukanya" ucap Ema kemudian
__ADS_1
Aku memilih memejamkan mata karena terasa berat, dan entah setelahnya aku tak tahu.....