Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Maafkan saya nona


__ADS_3

"Hiks...hiks...hiks..." Ema menoleh ke sumber suara, dan sungguh terkejutnya dia melihat cowok dengan tubuh kekar dan di kenal sebagai Casanova menangis di hadapannya, bahkan hingga meneteskan air mata.


"Kenapa justru anda yang menangis?" tanya Ema dengan wajah herannya.


"Kenapa?" jawab Bian enteng, tapi sepertinya sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ema


"Laki-laki tidak boleh menangis?" lanjutnya lagi tak terima melihat ekspresi di wajah Ema.


"Laki-laki juga manusia kan. Kamu itu ada-ada saja, pertanyaannya itu loooh, kok ya kaya gak terima gitu. Ngejek saya kamu hem??" muka Bian makin masam saja di buatnya, sementara Ema langsung menutup mulutnya dengan tangannya


"Bu..bukan begitu pak Bian, hanya sa..


"Keluarga Nona Nadira Putri" terdengar suara dokter membuat Ema tak jadi melanjutkan kata-katanya dan segera beranjak mendekati dokter

__ADS_1


"Ya saya dok, bagaimana keadaan nona?" tanya Ema tak sabaran


" Sebenernya tidak ada yang perlu di cemaskan, semuanya baik-baik saja. Emmm.. Hanya saja...


"Hanya saja apa dok?" kini Bian ikut penasaran dengan informasi dari dokter


"Ah.. apakah Nona Dira pernah mengalami depresi sebelumnya?" tanya dokter menatap Ema dan Bian bergantian


" Emm jadi begitu ya"


" Ternyata benar dugaan saya jika nona Dira sepertinya kini sedang mengalami depresi,meski tidak parah tapi itu akan sangat berbahaya untuk kesehatan kejiwaannya. Sebaiknya jauhkan nona Dira dati hal-hal yang membuatnya setres berlebih, jangan banyak pikiran, teruslah ajak bicara yang ringan-ringan, semoga itu bisa membuatnya lebih tenang" jelas dokter memberikan keterangan tentang kesehatan kejiwaan Dira.


"Baik dok, akan saya lakukan yang terbaik untuk nona Dira,mohon bantuannya " jawab Ema cepat

__ADS_1


"Tentu nona, saya juga akan melakukan yang terbaik untuk pasien saya. Sebentar lagi nona Dira akan di pindahkan ke ruang rawatnya, saya Permisi" dokter tadi Harus segera pergi karena ada pasien yang lain.


"Hufttt.. maafkan saya Nona kecil, maaf" lirih Ema tertunduk lesu, sedangkan Bian segera menelpon seseorang di seberang sana untuk membantu kesembuhan pemilik hatinya. Dia tidak bisa melihat Dira kesakitan, rasanya dia juga ikut merasakan sakitnya juga. Entahlah, baru kali ini Bian merasakan hal sedemikian rupa, biasanya dia yang selalu di kejar-kejar oleh wanita -wanita cantik, tapi kali ini justru dia yang mengejar wanita yang bahkan cuek terhadapnya, jika bukan karena kerjaan mungkin Dira tidak akan mau ada hubungan dengannya.


"Tenanglah Ema, Diraku pasti akan sembuh. Saya sudah menelpon orang kepercayaan saya untuk mencarikan dokter psikolog terbaik untuk Dira" Bian mencoba menenangkan Ema agar tidak selalu merasa bersalah.


"Emm" jawab Ema hanya sambil menganggukkan kepalanya.


Kini Dira Sudah berada di ruang inapnya kembali, masih setia dengan tidur lelapnya yang sudah berjam-jam masih belum sadarkan diri.


Ema dengan setia menemani Dira di sini, sementara perusahaan sudah ada mba Yuni, Satya dan Bagas. Mereka terus bolak-balik rumah sakit untuk memantau perkembangan Dira, hanya Ema yang selalu setia di rumah sakit menemani Dira.


Bian juga sudah kembali ke perusahaan,dia tak mungkin terus menerus menemani Dira, dia pemimpin perusahaan yang harus bertanggung jawab pada perusahaan dan seluruh karyawannya. Kini dia lebih fokus pada pekerjaannya, ini semua berkat Dira yang mampu merubahnya menajdi lebih baik lagi. Dia ingin membuktikan jika dirinya pantas bersanding dengan Dira, sang pujaan hatinya yang kini tengah berbaring di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2