Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
* Ingin tenang


__ADS_3

Segera ku kemasi barangku dalam satu koper kecil, tak banyak yang ku bawa, hanya sedikit baju dan semua berkas-berkas penting saja. Semuanya masih bisa ku cari lagi, toh memang tak banyak barangku di rumah ini, karena aku tidak suka belanja hura-hura seperti Mita yang membeli apa pun yang ia mau meski itu tidak penting.


Ku tarik koper kecil melewati mereka semua yang menatap ku sinis, terkecuali papah, dia terus menundukan kepalanya sejak tadi ku datang, terserah apa maunya aku tak peduli lagi, hatiku terlanjur sakit kali ini, sungguh sakit sekali.


"Syukurlah kalau Kamu sadar diri, cepat pergi, aku sudah muak sebenarnya dengan kehadiranmu dalam hidupku" ucap tante Devi sinis menatapku


tak ku hiraukan lagi ucapanya, setelahnya ku tatap wajah papahku sekali lagi, mungkin untuk terakhir kalinya aku menatapnya sebagai anak. Setelahnya? Aku tidak tahu. Namun yang ku tatap sama sekali tak mengangkat kepalanya, membelaku seperti tadi sebelum aku masuk, sekarang dia bahkan tak lebih dari seorang pengecut yang tak mampu melakukan apa-apa.


Ku lanjutkan langkah menyeret koperku menuju skuter dan menaruhnya di depan dan Tanpa berlama-lama ku tarik gas dan tak menengok ke belakang lagi. Biarlah, sekarang aku hanya ingin segera pergi jauh-jauh dari mereka semua.

__ADS_1


Setelah 30 meit lebih melaju dengan kuda besiku tanpa arah dan tujuan, hingga sampai di halaman masjid. Ku turunkan standar dan membawa koper dan menitipkan di penitipan barang yang tersedia di masjid.


Ku ambil wudhu dan segera menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah. Bermunajat kepada sang pemilik diri ini, memohon atas segala salah dan dosa, mengadu semua keluh kesah hanya kepadanya hingga tak terasa pipiku terasa sudah basah.


Ku duduk di bangku sekitaran masjid yang kebetulan mempunyai fasilitas taman kecil di sampingnya. Merenungi semua alur cerita yang tuhan gariskan untuk hidupku. Tidak mengeluh, hanya saja di dada ini sedikit sesak terasa.


Aku memilih menginap di rumah mba Yuni. Melihatku berdiri di depan pintu dengan membawa koper membuatnya menatap heran,


Aku memilih tidak menjawab. Melihatku yang hanya diam membuatnya tak banyak bertanya lagi dan langsung membawaku masuk kedalam kosannya. Aku memilih rumah kosan mba Yuni karena tak jauh dari cafe tempat kerja dan hanya dia yang benar-benar peduli padaku selama ini.

__ADS_1


Seperti mengerti dengan keadaanku mba Yuni membawaku ke kamarnya dan membiarkan aku sendiri dulu. Tak banyak yang ku lakukan, hanya diam dan memilih untuk menenangkan diri. Aku tak memberi kabar pada om Satya ataupun om Bagas, aku takut mereka semua akan kalap dan membuat keadaan semakin runyam. Aku hanya ingin tenang untuk saat ini.


Tak terasa pagi sudah tiba. Tak tahu mba Yuni tidur dimana, yang ku tahu aku terbangun di atas ranjang kecilnya mba Yuni tak ada siapapun di sampingku.


Segera ku bersihkan tubuh ini dan menunaikan dua rakaatku.


Waktu sudah pukul 06.00,mba Yuni masih tak terlihat batang hidungnya. Ku memilih duduk di teras depan menunggu mba Yuni, dan benar saja tak lama mba Yuni datang dengan beberapa kantong kresek di dalamnya.


"Kamu sudah bangun Dir?" tanyanya ketika sudah mendekat

__ADS_1


"Sudah dari subuh mba" jawabku dengan senyuman, setelah tidur semalaman sedikit membuatku lebih tenang.


__ADS_2