
Pagi ini langit mendung mengiasi rintik hujan membasahi bumi seperti menggambarkan perasaannya yang tengah sedih,
kebetulan hari ini weekend jadi dia masih bermalas-malasan mengurung diri di dalam selimut tebal, malas melakukan aktivitasnya,
biasanya kalau weekend gini Bagus sering mengajak Anjani keluar sekedar berkeliling kota menggunakan sepeda motornya,atau pergi ke car free day untuk berburu jajanan,
haaah hal sesederhana itu bisa membuat gadis pujaannya tersenyum bahagia,
terdengar samar-samar suara gadisnya dengan seorang laki -laki membuat dia segera beranjak keluar dari kamarnya,
ternyata benar Anjani sedang menerima tamu,ada om Hamzah teman papah dan seorang perempuan mungkin anaknya om Hamzah Bagus tak memperdulikannya, matanya tertuju pada gadisnya yang tersenyum ramah pada tamu papahnya membuat jantungnya berdetak tidak karuan,
"senyum itu sudah lama aku tak melihatnya Jani,aku rindu.. sangat merindu" ujar Bagus dalam hati.
Ternyata adiknya benar ia harus lebih berusaha lagi meyakinkan ibunya untuk merestui hubungannya dengan Anjani,
tekadnya kini sudah bulat ia akan berbicara dengan ibunya.
Anjani sudah pergi kebelakang lagi Bagus pun hendak masuk ke kamarnya kembali tapi langkahnya terhenti ketika ibunya memanggil namanya
" Bagus sini nak temui teman papahmu" Bagus memicingkan matanya,tumben mamah sudah mau bicara lembut lagi kepadanya
, apa ibunya sudah tak marah pada dirinya,
Bagus yang di panggil hanya tersenyum ramah lalu segera turun kelantai bawah di mana mamah dan papahnya berada,
menyalami tamu papahnya lalu duduk di kursi singel sebrang papahnya,
"nak Bagus ya? wah sudah sangat besar ya,dulu kita ketemu waktu kami masih sma kalau tidam salah ya haha" ucap om hamzah sambil menerawang kilas masalalu sepertinya,
"kamu tambah Tampan saja Gus,kata papah kamu sekarang kamu mengikuti jejaknya ya,wah sudah mapan dong ya" ujarnya lagi
yang di puji hanya tersenyum -senyum saja tak memberi jawaban lebih, tapi gadis di sebelah om Hamzah menatapnya tak berkedip membuat Bagus menjadi risih,
melihat Bagus yang diam saja membuat bu Rina angkat bicara
"oh iya mas Hamzah, malah di usianya yang muda Bagus sudah mendapatkan jabatan yang lumayan berkat kerja kerasnya" puji bu Rina untuk putranya bangga
__ADS_1
" ini Devi Gus,kamu masih ingat?"
tunjuk ibu pada gadis di sebelah om Hamzah
membuat Bagus terpaksa melihat ke arah Devi sambil berpikir karena ibunya menanyakan apakah masih ingat berarti ia ada di masalalunya tapi tak menemukan jawaban
"dulu kami sering ajak anak om Hamzah jalan-jalan kalau lagi main kesini Gus masa kamu gak inget sih hehe" ucap om Hamzah kemudian
bagus teringat dengan anak smp yang hitam manis dulu saat om Hamzah bertamu ke rumahnya lalu melihat gadis di samping om Hamzah sangat berbeda dengan anak smp itu,
"om yakin kamu sudah ingat kan,
iya dia Devi anak smp yang hitam dekil itu Gus " canda om Hamzah melihat ekspresiku yang seperti tak percaya
Devi yang di katai ayahnya hitam dan dekil langsung saja cemberut lalu mereka tertawa semua melihat ekspresi dari Devi,
"oh kamu Devi yang itu tapi sekarang beda ya om udah gak hitam dan dekil lagi hehe" Bagus pun ikut -ikutan meledek Devi tapi hanya di tanggapi dengan senyuman oleh si empunya,
"cantik kan Gus?" tanya ibunya
"cantik bu" jawab bagus singkat tanpa melirik ke arah Devi dan di senyumi oleh semua orang,
dia memilih mengalihkan pandangannya kesamping rumahnya yang tembus ke paviliun tempat kekasih hatinya berada.
"gimana kalau Devi kita jodohkan dengan Bagus mas Hamzah?" pertanyaan ibunya membuat Bagus membelalakan matanya tak percaya, tentu ibunya tau ia hanya ingin menikah dengan Anjani tapi malah menjodohkannya dengan Devi anak dari temen papahnya
"haha saya terserah nak Bagus saja Rin,saya tidak mau memaksakan kehendak anak-anak, kalau kamu gimana Dev? mau kamu sama Bagus?" pertanyaan pak Hamzah membuat bu Rina tersenyum lebar
Devi yang di tanya melirik ke Bagus,pada dasarnya memang Devi sudah tertarik dengan Bagus langsung menganggukan kepalanya, membuat mereka semua tersenyum tapi tidak dengan Bagus yang tanpa ekspresi, tatapan datar ia tujukan ke papahnya yang sedari tadi diam saja, sadar di tatap anaknya pak Wahyu pun angkat bicara
"jangan terburu -buru menjodohkan anak-anak Ham, biarkan mereka memilih pasangan mereka sendiri,manatau mereka sudah mempunyai pilihan masing-masing kan" tutur bijak pak Wahyu menengahi pembicaraan itu.
Hari sudah sore,pak Hamzah dan Devi pun sudah pulang
"mamah apa-apaan sih pake jodoh-jodohin aku sama devi,mamah kan tau aku cuma mau nikah sama Anjani bukan yang lain" ucap Bagus penuh penekanan
"loh apa salahnya kalau ada pilihan lebih baik kenapa enggak, iya kan pah?" bu Rina melirik suaminya
__ADS_1
"papah menyerahkan semuanya kepada Bagus mah,yang menjalani kedepannya kan Bagus bukan kita" ucap pak Wahyu bijak
"alaaah papah emang gak bisa tegas " melengoskan wajah di depan suaminya itu
oak wahyu tak menanggapi ucapan istrinya,dia sudah tau tabiat istrinya yang dari dulu tak bisa di debat makanya ia selalu mengalah untuk kebaikan bersama, jika tidak entah apalah yang terjadi dengan rumah tangganya.
"pokoknya Bagus gak mau di jodohkan dengan Devi,bagus hanya mau Anjani titik" Bagus memberi pernyataan yang sama terhadap ibunya, suasana mejadi hening tak ada percakapan lagi,mereka larit dalam pikirannya masing-masing.
"baiklah kamu boleh menikahi Anjani dengan syarat" Bagus mendongakan kepalanya mendengar ucapan ibunya,pak wahyu hanya menimak saja
"apa syaratnya mah?" tanya Bagus antusias
"kamu boleh menikah dengan Anjani asal kamu juga mau menikah dengan Devi" pernyataan ibunya membuat Bagus terperanjat, bagaimana mungkin ibunya bisa berfikir seperti itu
"mamah jangan bercanda mah, aku gak mungkin melakukan itu aku gak mau nyakitin Anjani" ucap Bagus frustasi
"iya mamah nih apa-apaan sih masa memberi syarat seperti itu, lagian si Hamzah mana mau anaknya di poligami mah" ucap pak Wahyu memberikan pendapatnya
"udah deh papah diem aja itu biar jadi urusan mamah, sekarang tinggal Bagusnya mau apa enggak?"
"kalau enggak jangan harap kamu bisa dapat restu dari mama"
"apa gak ada syarat yang lain mah?" tanya bagus dengan wajah memelas kepada ibunya, berharap ibunya luluh dan mau memberinya restu tanpa syara.
"gak ada, cuma itu syarat dari mamah,
kami cukup menikahi Devi sisanya terserah kamu nanti Devi menjadi urusan mamah dan kamu bisa bebas menikah dengan pembantu itu" ujar bu Rina dengan raut wajah serius,
Bagus mengusap wajah frustasi,
apa yang harus ia perbuat sekarang,
ibunya memberi restu dengan syarat yang sangat berat,
tapi jika ia tak sanggup ia tak akan pernah bisa bersatu dengan Anjani.
~tolong bantu like ya guys,
__ADS_1
ini karya pertamaku😊
salam sejahtera untuk kalian semua 🤗✌️