Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Percayalah Nak!


__ADS_3

"Pergilah Lidya, sebelum ku tarik ucapan ku" tegasnya melihat ibunya Ema yang masih mematung di tempatnya seperti tak percaya.


"Jadi namanya Lidya" ucap Dira tentu hanya di dalam hatinya


Setelah sadar segera bu Lidya menghampiri anaknya yang hampir seluruh tubuhnya di ikat, bu Lidya menubruk tubuh putrinya Ema, di bangunkan tubuh putrinya dan memeluknya dengan erat,eraaat sekali yang Dira lihat, seperti seseorang yang sudah sangat lama tidak berjumpa dan menahan rindu yang teramat dalam.


"Kenapa Ema tidak pernah menceritakan tentang ibunya? Dan bodohnya kenapa aku tidak pernah mencari tahu lebih tentang itu? apa karena aku terlanjur percaya pada Ema jadi hal lainnya tidak penting. Maafkan aku Ema..." ucapnya lirih dengan banyak pertanyaan di dalam pikirannya.


"Nak...Maaf" ujar bu Lidya lirih meminta maaf pada Ema. Kenapa meminta maaf, sepertinya mereka mempunyai masa lalu yang kurang baik.


"Maafkan ibu hiks...hiks...hiks..." ujarnya lagi terus meminta maaf pada Ema di temani isakan tangisnya.


sedangkan Ema?? Dia menatap aneh pada bu Lidya, seperti kilatan amarah bercampur rindu menjadi satu namun bingung bagaimana cara mengekspresikannya. Bu Lidya membuka kain yang di gunakan untuk menyumpal mulut Ema, menyentuh Biru -biru di beberapa sudut wajahnya.


"Ini pasti sakit ya nak? maafkan ibu nak" tanya bu Lidya namun lagi-lagi masih di selingi dengan permintaan maaf.


Dira masih di balik pintu pohon mendengarkan dengan baik dan melihat situasi sekitarnya dari layar handphonenya yang canggih.

__ADS_1


"Kenapa hadir lagi di hidupku?" suara Ema bertanya dengan dinginnya seolah tiada rindu dalam hatinya pada ibunya itu.


Bu Lidya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari anaknya, sangat menohok hatinya yang paling terdalam. Membuatnya menjadi semakin terpekur dalam penyesalannya yang selama ini menggelayuti hidupnya.


"Maafkan ibu nak... maafkan ibu... maafkan ibu..Ma...maaf" ucapan permintaan maaf terus keluar dari mulut bu Lidya terdengar penyesalan yang teramat dalam terus memeluk tubuh putrinya yang terikat, tidak mungkin baginya meminta pada Hamzah untuk di lepaskan ikatannya,bisa memeluk anaknya saja sudah keajaiban untuknya saat ini.


"Permintaan maaf untuk apa yang kamu maksud?" tanya Ema masih dalam dekapan ibunya


"Semuanya...Untuk semua yang terjadi ibu minta maaf. Untuk semua kesakitan yang kamu alami ibu minta maaf nak, ibu hanya ingin tenang setelah ini" ujarnya menatap wajah putrinya setelah melepas pelukannya, Sedangkan Ema terus diam tak merespon apapun namun sorot matanya sudah lebih tenang tak setajam tadi.


"Ibu tahu permintaan maaf ibu takan mengubah apapun, namun ibu ingin pergi dengan tenang nanti setelah mendengar kamu memaafkan ibu" ujarnya lagi membuat Ema menatap ibunya itu, lalu segera memutus tatapannya ke arah lain.


Bu Lidya kembali memeluk Ema yang masih terus diam


"Ibu menyanyangimu nak, sungguh. Ada hal yang tak kamu mengerti, mungkin suatu saat nanti. Dan satu lagi, Jangan hiraukan apapun yang di ucapkan Hamzah padamu, selamatkan dirimu dan Nadira. Karena apapun yang kamu pilih ibu tetap akan segera pergi dari dunia ini" ujarnya dengan suara teramat lirih hingga tak ada yang bisa mendengar selain Ema dan tentu saja Tuhan.


Bu Lidya merenggangkan pelukannya dan menatap Ema

__ADS_1


"Percayalah nak! sungguh" ujarnya penuh penekanan dan keyakinan.


Ema seperti tengah berfikir dan menatap pada Hamzah. Ahh,,,salah sepertinya Ema menatap pohon di belakang hamzah.


"Ema sepertinya sudah sadar kehadiranku, syukurlah. Tinggal menunggu yang lain sampai dan mengeksekusi mereka semuanya. Sungguh mu*k melihat perangai si Hamzah yang sombong itu" ujar Dira sambil melihat posisi anggotanya yang lain.


"Cukup dramanya" ujar Hamzah menarik tangan bu Lidya dengan paksa


" Percayalah nak,ibu tidak bohong" teriaknya pada Ema yang langsung mendapat tatapan dari Hamzah dan langsung memberikan bu Lidya pada anak buahnya.


"Kini giliranmu menentukan pilihanmu. Ibumu atau si anak haram itu?" ujarnya sembari berkacak pinggang dengan congkaknya.


Darah Dira mendidih mendengar ucapan Hamzah, dirinya di sebut anak haram sungguh sangat membuatnya ingin mumbungkam mulutnya yang beracun itu dengan racun juga.


"Dari dulu kau sudah ku peringatkan untuk segera mengeksekusinya, tapi apa?? kau malah mengasuh dan menyayanginya dan bahkan sekarang kau menjadi budaknya yang manut saja dengan segala perintahnya. Bahkan kau dengan beraninya memberikan nyawamu untuk melindunginya, sungguh luar biasa" ujar pak Hamzah. Kini Dira membulatkan matanya sempurna, sungguh terkejutnya Dira mendengar kalimat Hamzah tadi. Mengesekusi? Dari dulu? mengasuh dan menyayangi? dan sekarang mejadi budaknya? apa maksudnya adalah dia?? apakah selama ini Ema adalah......


Terimakasih sudah mampir 🙏🙏

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentarnya ya


__ADS_2