Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Dunia Ini Terlalu Keras, Bawa Dira Bu!


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pergi kalian semua dari sini, jangan sampai menunggu hingga kesabaran saya habis" putus Dira dengan aura sang Lady yang kuat, tatapan tajam mata elang yang bisa membuat siapa saja bisa ciut nyalinya.


"Tapi bagaimana dengan usul papahmu tadi Put?" tanya ibu Rina masih dengan tak tahu malunya meski sebenarnya ada rasa takut melihat wajah dingin cucunya yang bahkan tak pernah di anggapnya itu.


Dira menolehkan kepalanya dan dengan intens mengabsen tubuh bu Rina dari ujung kepala hingga ujung kaki, senyum smirk di tunjukkan dira tanpa ekspresi seperti seorang psikopat gila.


"Anda mau tubuh anda yang penuh dengan perawatan mahal ini saya lempar untuk makan buaya hem? Atau mau tubuh anak anda itu saya kasih untuk makan harimau?" Dira benar-benar geram dengan dua orang yang mengakuinya sebagai keluarga tapi yang ada di pikiran mereka hanya urusan harta dan tahta saja.


"Ta..tapi...

__ADS_1


"Pergilah, saya tidak mau berbuat lebih dari ini" ujar Dira tegas,


"Dan ya, jika bertemu dengan saya harap hormati saya karena bagaimanapun saya adalah atasan Anda pak Bagus, terlepas dari segala hubungan yang pernah ada. Bukankah jabatan yang selama ini menjadi kesombongan kalian? dan di sini sayalah yang menjadi Pilotnya, jadi harap bisa bekerja sama dengan baik jika masih ingin bekerja di sini"


Lalu Dira langsung memberikan kode jentikan jari pada Ema dan seperti mengerti pikiran Dira, Ema segera menelepon sekuriti untuk mengusir dua makhluk tak tahu malu itu, dan tak lama dua sekuriti berbadan tegap masuk ke dalam dan dengan sigap mengikuti perintah atasannya meski tak mudah karena drama bu Rina yang terus merengek bahkan meminta belas kasihan pada Dira dan juga Bagas anaknya namun tak di gubris oleh keduanya, sedangkan Bagus hanya diam saja menatap tubuh putrinya yang semakin menjauh hingga mereka berdua lenyap dari pandangan mata.


"Hufffft...." Dira menghembuskan nafasnya kasar dan mendudukkan diri di kursinya, rasanya lelah dan sakit tentunya. Lelah menghadapi sikap yang katanya keluarga dan sakit karena lagi dan lagi yang ada di pikiran mereka hanya mau harta saja tak sedikitpun mereka merindukannya yang selama ini menghilang dari kehidupan mereka, di sudut hatinya ada sedikit harapan bisa berkumpul lengkap dengan keluarga nya, tapi sayang seribu kali sayang mereka tidak pernah berubah pada kenyataannya.


Tak terasa waktu sudah sore, Dira memutuskan tidak langsung pulang ke rumah. Dira memilih ke makam sang ibunda terlebih dahulu, walaupun baru beberapa hari yang lalu dia dari sana tapi entah kenapa Dira merasa teramat rindu pada sang ibu.


Kali ini Dira tak di temani Ema, tadi dia meminta Ema untuk mengerjakan sesuatu yang tanpa Dira sadari jika Ema selalu setia mengikutinya dari jarak jauh. Sedangkan kedua omnya sudah pulang karena harus kontrol ke cafe dan resto terlebih dahulu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu" ucap salam Dira ketika sampai di makam sang ibu tercinta.


"Maaf Dira datang lagi, pasti ganggu istirahat ibu di surga ya"


"Dira hanya tiba-tiba merasa sangat merindukan ibu, ini Dira bawakan bunga kesukaan ibu" ujar Dira seraya menaruh buket bunga di dekat batu nisan sang ibunda.


"Bu Dira rindu" kali ini tubuhnya sedikit bergetar,


"Dira ingin ikut ibu aja, nemenin ibu di sana bu. Di dunia ini terlalu keras bu hiks.hiks.hiks" curhat Dira seraya terdengar Isakan kecil. Rupanya Dira merasa jika dirinya tak sanggup menghadapi dunia ini hingga dia ingin ikut Anjani, sang ibunda.


"Bawa Dira bu"

__ADS_1


__ADS_2