Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Ulah Bagas


__ADS_3

"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik"


- Ali bin Abi Thalib -


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Apa ini Em?" Tanya Dira kebingungan melihat ruangannya.


"Saya tidak tahu apa-apa nona" Jawab Ema cepat lalu melirik kedua pria di belakangnya


"Appah?" Jawab Bagas santai lalu masuk mendahului Dira dan Ema. Mendudukan bobotnya di sofa dan mencopot semua embel-embel bodyguard, seperti kacamata dan masker yang terus menempel di wajahnya.


"Uuh adem banget, engap gue Sat pake masker-masker beginian" ujar Bagas masih dengan gaya santainya tanpa melihat tiga orang di depannya.


Merasa tak ada respon, Bagas mengangkat kepalanya dan melihat kedepan. Melihat tiga orang itu dengan garangnya menatap dirinya sampai-sampai Bagas menelan salivanya sendiri.


Tapi bukan Bagas namanya jika tidak bisa mengendalikan diri, segera dia menyenderkan tubuhnya di sofa yang empuk dan menepuk sofa kosong di sebelahnya


"Sini Dir duduk, empuk juga di sini. Dari tadi capek banget berdiri terus. Iya kan Sat?" ujar Bagas mencoba mencairkan suasana yang tegang.


Namun yang di ajak bicara masih diam di tempatnya dan masih dengan wajah garangnya membuat Bagas jadi sedikit takut.


"Kenapa dengan kalian bertiga?" tanya Bagas pura-pura tidak tahu.


Kini Satya menutup pintu rapat-rapat dan maju selangkah demi selangkah dengan gaya coolnya, seperti adegan film-film yang ingin menginterogasi lawanya, hingga kini tiga orang sudah berdiri dengan jarak satu langkah di depan Bagas membuat Bagas lagi-lagi menelan salivanya kasar seakan tenggorokannya kering.

__ADS_1


"Appah?" masih dengan muka polosnya Yang tak tahu apa-apa,melihat wajah ketiga orang di depannya semakin menakutkan saja membuat Bagas menghela nafasnya kasar.


"Iya-iya- iya. Kalian ini kalau mau ngintimidasi orang tuh satu-satu. Ini mah ramean, jadi kan kalah kalau tiga lawan satu" ujar Bagas akhirnya menyerah.


"Jadi?" Tanya Dira dengan suara dinginnya


"Jangan ikutan kaku kayak Ema sama Satya Dira" ujar Bagas, bukanya menjawab pertanyaan Dira. Sontak itu mendapat tatapan menghunus dri kedua orang yang di sebutkan tadi membuat Bagas semakin terpojok saja.


"Kalian inih sukanya memaksa tahu enggak"


"To the poin" Pangkas Satya Cepat sebelum mulut Bagas bekelit lagi.


Suara hembusan nafas berat dari Bagas membuat Dira menyunggingkan senyuman sinisnya,


"Sepertinya.... Biantara itu cocok dengan mu Nadira Putri hahaha" Sontak jawaban itu mendapat pukulan Langsung di perutnya oleh Dira membuat Bagas mengaduh kesakitan. Bukan apa, dira memang perempuan tapi jangan lupakan jika dia adalah sang Lady dari Dara Putih.


"Aduhh... pelan-pelan dong Dira kalau mukul, gak Kasihan apa sama om gantengmu ini" rajuk Bagas dengan wajah memelasnya


"Jangan cemen bos, yang mukul cewek" seloroh Satya sambil melangkahkan kaki dan duduk di sofa, sedangkan Ema berdiri saja di samping meja kerja Dira yang bertuliskan CEO Hamzah segera di ganti dengan CEO "Nadira Putri" yang sudah Ema siapkan dari rumah.


"Selamat Dira, kami hebat. Satu persatu bisa kamu rebut, kamu benar-benar membuktikan jika kamu hebat, kamu mampu, kamu wanita hebat seperti ibumu mbak Anjani. Kamu bisa mengalahkan kesombongan mereka yang selalu mengagungkan kekuasaan". ujar Satya di angguki oleh Ema dan Bagas yang masih berpura-pura kesakitan. (eh atau emang beneran sakit kali ya hehe. Maapin othor ya bang Bagas).


"Iya om, Dira juga gak nyangka bisa sampai di titik ini. Dan itu semuanya tidak lepas dari dukungan kalian semua, terimaksih sudah selalu mendukung ku" ujar Dira tulus, Ema mendekat dan langsung memeluk nona kecilnya di ikuti Bagas dan Satya yang juga ikut memeluk Dira.


"Sebuah kemenangan adalah ketika kita mampu menguasai diri sendiri, bukan di setir atau di atur orang lain"

__ADS_1


"Sat lo sadar gak?" tanya Bagas bisik-bisik pada Satya.


Satya hanya mengangkat kepala dengan kerutan di dahinya, jawaban atas pertanyaan Bagas


"Lo dri tadi meluk Ema tahu enggak" ucapan Bagas sontak membuat Satya melihat posisi tanganya dan benar saja, tanganya tepat berada di bahu Ema dan tubuhnya merapat pada asisiten ponakanya itu,lekas Satya menarik tubuhnya sedikit menjauh dan menetralkan perasaannya agar tidak terlihat terlalu canggung.


"Eh ngomong-ngomong Dir, gimana dengan si Bian? Sepertinya dia beneran naksir sama kamu" ujar Bagas mengganggu momen haru mereka dna sontak membuat bola mata Dira hampir keluar, Omnya ini perusak momen banget pikir Dira.


"Dira tidak memikirkan tentang itu, emm lebih tepatnya belum mungkin" jawab Dira akhirnya pasrah dengan pertanyaan omnya yang absurd itu.


"Berarti kalau Bian mau berusaha untuk mendapatkan hati kamu, kamu mengijinkannya?" tanya Bagas lagi, kali ini sebuah bantal melayang tepat mengenai wajahnya dan pelakunya bukan Dira, melainkan Satya.


"Apaan sih lo Sat" sungut Bagas


" Lo mau jodohin ponakan lo sama Buaya darat kaya Bian itu?" tanya Satya tak kalah bersungutnya, merasa tak terima jika ponakan satu-satunya mau di jodohkan dengan orang macam Biantara.


"Atau jangan-jangan lo....." Satya menjeda ucapannya


jangan-jangan apa ya guys???


Gak mungkin kan Bagas berkhianat mau ngejual ponakanya??


ikuti terus kelanjutan ceritanya ya 😊😊😊


#MamaMay

__ADS_1


__ADS_2