
Kamu hanya butuh menaikkan kualitas dirimu.
Bukan merendahkan harga dirimu.
Fokuslah pada kelebihanmu, bukan terus meratapi kekuranganmu.
Setiap orang pasti mempunyai kelebihan.
Jangan berkecil hati.
Dirimu itu Hebat.
Sejak pertemuan ki kemarin dengan big bos, hatiku merasa senang. Ternyata aku masih punya keluarga yang lain, aku masih punya nenek dan om Satya. Walaupun di rumah ini aku mempunyai keluarga yang lengkap, ada kakek- nenek,papah dan mamah Devi di tambah adikku Mita. Tapi aku selalu merasa sepi,sendiri. Di tambah kasih sayang yang berat sebelah, membuat aku merasa kian tersisih.
Tapi kini aku senang,aku masih mempunyai keluarga yang lain yang ternyata mereka selama ini mencari ku tapi tidak pernah bertemu.
Entah itu benar atau salah, tapi dari foto-foto dan bukti yang ada aku sangat yakin mereka adalah keluarga dari ibuku, Anjani.
Flashback
"Apa ini pak?" tanyaku menatap map hijau di tanganku
"Bacalah!" terdengar perintah dengan tegas.
__ADS_1
Ku buka dan ku baca isinya.
Entah bagaimana air mata ini menetes begitu saja,apakah benar? apakah ini bukan mimpi?
Ku tatap wajah lelaki paruh baya di hadapnku, lalu dia mengangguk memberikan jawaban.
Ya Allah ternyata aku masih mempunyai keluarga dari ibuku,
Foto-foto ibuku dengan seorang perempuan yang sudah paruh baya dan seorang anak smp,foto ibuku dengan perempuan yang sama dengan seorang anak SMA, akta lahirku,foto pertama waktu aku lahir di tulisannya dan masih banyak lagi.
Tapi ada satu foto yang menarik perhatian ku. Satu foto ibu bersama seorang pria tak asing,
Ah iya,pria itu seperti pak Satya versi gagahnya, karena di foto terlihat masih kurus kerempeng, tidak seperti sekarang dengan badan tegapnya, otot-otot yang kekar tergambar jelas di kemejanya dan bergaya perlente seperti sekarang hehe.
Ku angkat foto yang kumaksud tadi dan menunjukkannya di hadapan pak bos
"Seharusnya kamu sudah bertemu dengannya tadi di depan kan?" lanjutnya lagi di tambah pertanyaannya.
"Jadi betul dia pak Satya" ucapku lirih,tapi rupanya masih bisa di dengar oleh pak bos
"Ya kamu betul, ternyata kamu pandai mengenali wajah seseorang"
Eh buset ni orang kupingnya tajam amat ya.
__ADS_1
Kemudian pintu terbuka begitu saja. Berdiri di sana pak Satya,eh panggilnya apa ya?? jadi bingung.
Aku masih terpaku di tempatku,tak melakukan gerakan apa pun, karena sejujurnya masih bingung, antara percaya dan tidak percaya. kalau benar dia keluargaku dari ibu, kenapa mereka tidak pernah menemuiku. Kenapa justru tiba-tiba memeberi tahu bahwa aku keluarganya.
Jangan -jangan ini hanya tipuan,modus untuk mendapatkan gadis -gadis sepertiku lalu di jual ke luar negri, ihh serem.
Pak Satya melangkah mendekati ku, aku harus memastikan jika dia benar-benar pamanku.
"Siapa nama lengkap ibu?" tanyaku menghentikan langkahnya yang sudah tak jauh dari tubuh ini.
"Anjani, hanya anjani" jawabnya
"Siapa nama papahku" tanyaku lagi
"Bagus Sahputra" jawabnya lagi dengan penekanan di setiap hurufnya,entah seperti perasaan tertahan di dadanya.
Dua pertanyaanku di jawab dengan benar, lalu ku cecar dengan pertanyaan -pertanyaan yang lainnya, dan lagi-lagi semua di jawab dengan tepat.
Seakan tubuh ini tak merespon kebahagiaan dalam hati, ku tubruk tubuh tegap om Satya. ya om Satya karena ternyata dia adalah pamanku, adik dari ibuku.
Menangis di pelukannya dan menumpahkan segala rasa rindu untuk keluarga padanya. Om Satya pun tak kalah erat memelukku, terasa guncangan tubuhnya pertanda bahwa dia juga tengah menangis.
"Kenapa om baru datang? kenapa baru menemuiku? tak tahu kah bahwa aku sendirian selama ini hikzz..hikzz.." tangisku pecah tak karuan, biarlah baju om Satya di buat basah karenanya.
__ADS_1
"Maafkam om sayang... ma..maaf.. Om telat menemuimu hingga kamu harus merasakan segala kepahitan hidupmu" tak kalah denganku, ternyata om Satya juga menangis kencang (Laki-laki kok melow hehe).
Ku sudahi drama menangis ku. Ku lepaskan pelukan om Satya meski sebenarnya masih ingin di peluknya. Aku harus mendapatkan jawaban kenapa dia baru menemuiku sekarang, kemana saja dia selama ini dengan tega meninggalkanku sendirian bersama keluarga yang tak menyukaiku terkecuali kakek Wahyu.