Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Flash back 1


__ADS_3

Flashback


POV SATYA


Hari ini aku ada kerjaan di luar dengan Andi,teman yang biasanya memberiku kerjaan sampingan. Kami mengerjakan apa saja asal Halal. Kebetulan kami mendapat pekerjaan mengecat satu rumaj full, lokasinya tak jauh dari desa kami,hanya 30 menit perjalanan.


Setelah berpamitan pada ibu, ku lajukan sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Tak baik ngebut-ngebutan kata ibu, lambat asal selamat katanya. Aku dan Andi sama-sama bawa motor, karena kami membawa perlengkapan kerja yang tidak sedikit, di sana sudah ada teman-teman Andi yang lainnya sudah menunggu.


Entah kenapa selama perjalanan firasatku tidak enak, selalu kepikiran ibu di rumah. Namun ku coba menepisnya agar tidak menggangu pekerjaan ku nantinya, berdoa saja agar ibu selalu dalam lindungan Allah Swt.


Hingga waktu sore hari,pekerjaan tenyata belum selesai, Andi memutuskan untuk meninap saja, biar tidak bolak-balik katanya, dan biar bisa di lembur malamnya agar cepat selesai esok hari. Aku menurut saja karena dia jauh lebih berpengalaman dari ku.

__ADS_1


Ku kabari ibu jika tak bisa pulang malam ini karena pekerjaan yang belum selesai dan ibu mengiyakan. Tak lupa ku tanyakan keadaan ibu Dan baik-baik saja katanya. Syukurlah ternyata firasatku tidak benar.


Selepas shalat isya kami melanjutkan pekerjaan yang tersisa yaitu membuat mural kaligrafi. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan keahlian yang mumpuni. Dari semuanya aku memang belum menguasai mural ini, jadi aku hanya akan membantu menjadi asisten Andi untuk pengerjaan yang ini.


Tak terasa hari berganti, Dan pekerjaan ternyata sudah selesai semua. Setelah melakukan pembayaran sesuai kesepakatan di tambah bonus dari pemilik rumah, karena katanya pekerjaan kami memuaskan, sudah biasa bagi kami mendapatkan bonus seperti itu, karena setiap pekerjaan selalu kami lakukan yang terbaik.


Aku, Andi dan kawan-kawan lainya bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah ku cium tangan ibu dan ku peluk dirinya. Ya memang ku akui aku anak laki-laki yang sangat dekat dengan ibunya, aku pun tak malu mengakui jika memang aku sangat dekat dengan ibuku.


Hari-hari ku lewati dengan kuliah dan membantu ibu menjaga warung, walupun sudah ada yang membantu ibu tapi aku tetap turun tangan sendiri jika ada kesempatan.


Entah tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba bu Rina, mertua almarhumah mbak Anjani datang menyambangi rumah kami. Hingga dia menyodorkan amplop coklat tebal yang ku yakini isinya adalah uang.

__ADS_1


"Itu uang untuk ibu, saya rasa itu cukup untuk memenuhi kehidupan ibu dan memperbaiki taraf hidup kalian, tapi jangan pernah datang lagi ke kota dan menemui anak Bagus" ucap bu Rina


"Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain" lanjutny lagi kemudian


Sontak itu membuat ibu terkejut, begitupun dengan aku. Ingin langsung marah dan melemparkan uang itu ke wajahnya yang sombong itu. Namun tak ku lakukan, karena ibu pasti tak menyukainya.


Tentu ibuku menolaknya,


"Maaf dan terimakasih bu, tapi saya tidak bisa menerima ini, cucuku tak ternilai harganya jadi jangan pernah memberi harga terhadap cucuku itu dan saya sudah bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki sekarang,jadi silahkan ibu gunakan uang itu untuk yang lebih bermanfaat" ucap ibu waktu itu, sangat bijak ku rasa dengan memberikan wanita sombong itu jawaban seperti itu.


Wajah bu Rina seperti tidak suka mendengar jawaban ibu dan langsung mengambil uang itu lagi lalu berlalu pergi begitu saja tanpa ada salam atau apa pun.

__ADS_1


Dasar manusia sombong kataku dalam hati.


__ADS_2