
Hari ini sidang pertama Bagus www di gelar. Bagus dan pengacaranya masih belum bisa membuktikan jika Bagus tidak bersalah. Bagus duduk termenung di dalam selnya, merindukan kedua putrinya yang sedang lucu-lucunya. Sudah hampir seminggu ini ia tak bertemu dengan anak_anaknya. Mamahnya tidak mengijinkan anak-anak untuk datang ke sini, tidak baik katanya.
Pintu sel di buka padahal belum waktunya persidangan. Masuk dua orang pria,satu petugas yang waktu kemarin ikut menyidak satu lagi pria berjas dan menggunakan masker, misterius sekali tampaknya.
"Pak Bagus, ada yang ingin bicara dengan anda" ucap petugas itu lalu melirik pria bermasker itu yang kemudian mengangguk seperti memberi jawaban. Setelah mendapat anggukan pria bermasker petugas itu keluar dari sel dan meninggalkan kami berdua.
Aku menatap pria bermasker itu, siapakah dia gerangan?
"Bagaimana rasanya tinggal di hotel prodeo bintang lima hem?" pria bermasker itu membuka suara.
Aku tertegun mendengar suaranya. Suara itu seperti familiar di telinga, tapi siapa ya kira-kira.
"Tidak usah terlalu berpikir keras nak" ucapnya kemudian membuka maskernya. Aku sungguh terkejut di buatnya. Papah Hamzah, ya pria misterius bermasker itu adalah Papah Hamzah. Tapi untuk apa papah Hamzah meminta bertemu denganku secara khusus seperti ini.
"Papah, ngapain papah kesini? sidang Bagus nanti ja dua paling baru di mulai" tuturku seraya mencium tangannya.
"Papah kesini bukan untuk melihat sidangmu" ucapnya datar, seperti bukan papah Hamzah yang ku kenal.
__ADS_1
"Lantas?" tanyaku penasaran
"Kamu mau mendekam lama di sini atau bebas secepat mungkin?"
Ku mengernyitkan dahi,apa maksud pertanyaan Papah Hamzah ini? aku bisa bebas cepat atau mendekam di sini? aku sungguh tak mengerti.
"Bingung?" tanya papah Hamzah
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Papah bisa membuatmu berada di sini dan papah juga bisa dengan mudah membebaskanmu dari sini" tuturnya dengan wajah tenangnya.
"Maksudnya apa papah yang membuatku berada di sini?" akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulutku.
Papah Hamzah tersenyum smirk,lalu berdiri dan menghampiriku.
"Kamu kira selama ini saya tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan putriku hah?" ucapnya datar terasa dingin sekali. Terasa sekali aura kemarahan yang tertahan. Berbeda sekali dengan yang selama ini ku kenal, beliau sangat hangat dan berwibawa.
__ADS_1
"Ma.. maksud pa..pah apah?" tanyaku tergagap sedikit takut dengan situasi ini.
"Kamu jadikan anakku istri keduamu" ucapnya seraya berbisik di telingaku
Aku ternganga di buatnya, bagaimana bisa papah tahu?
"Tidak usah heran begitu menantuku,saya bisa melakukan apa pun yang saya mau. Apalagi untuk kebahagiaan anak dan cucuku" kini senyuman itu seperti sebuah ancaman bagiku. Bagaimana mungkin beliau yang selama ini diam saja tiba-tiba bisa menjadi sangat menakutkan seperti ini.
Papah memutari kursiku dan duduk tepat di hadapanku.
"Bahkan kamu mengacuhkan Devi selama ini pun saya tahu dan saya diam saja, karena Devi yang memintaku untuk tidak melakukan apa-apa padamu"
Menghembuskan nafasnya kasar,
"Sungguh si**nya Devi mencintai lelaki spertimu" Tatapan tajamnya menghunus jantungku
"Laki-laki tidak berpendirian, tidak tegas, tidak bisa mengambil keputusan-keputusannya sendiri" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Tapi kenapa papah dengan tega memfitnah saya sekeji ini?" Tanyaku memberanikan diri menatap matanya,aku harus berani. Ya aku harus berani kali ini.
"Kamu mau tahu hem?" kali ini seringainya sungguh mengerikan di lihat.