
Bagaimanapun keadaan kita,
Mau kita bahagia,sedih, kecewa, atau terluka
Waktu tidak akan berhenti menunggu kita
Waktu tetap akan berjalan mengikuti arusnya.
Jika kamu ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin,
kamu harus mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi prioritas utamamu,
Dan lakukan hal yang terbaik untuk mencapainya.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah tiga bulan aku kembali ke tanah air. Semua berjalan dengan lancar, tak ada kendala berarti. Mega proyek yang ku kerjakan pun berjalan sesuai rencana selama ini. Ku kerahkan hampir separuh tenaga ahli untuk mengerjakannya di tambah dengan bahan -bahan yang berkualitas menambah jalanya proyek ini semakin lancar. Di awal proyek, perusahaan di minta membangun hunian bersubsidi tapi yang ramah lingkungan, mereka ingin rumah berkualitas namun tetap menjangkau kalangan menengah kebawah, ini yang membuatku tertarik sedari awal mengikuti tander proyek dengan perusahaan pak Biantara, di balik kekonyolannya terselip rasa pedulinya terhadap sesama. Mungkin untuk setahun atau dua tahun ke depan proyek ini akan kami fokuskan, setengahnya lagi biar mbak Yuni yang akan menghendel semuanya.
"Tok..tok..tok.." Dira yang tengah membaca berkas-berkas di temani oleh Ema yang memilah-milah berkas lama dan berkas baru menoleh serempak ke arah pintu.
__ADS_1
Ku mengangkat kepala pada mbak Ema kemudian di jawabbnya dengan mengangkat bahunya. Biasanya kalau mbak Yuni, tanpa mengetuk pintu pun dia akan langsung masuk saja, dan karyawan lain hampir tidak pernah menemuiku secara langsung selama hampir tiga bulan ini, semua urusan akan melewati seleksi dari mbak Yuni dulu baru nanti mbak Yuni yang akan menghadap padaku.
"Ya masuk" ucapku kemudian.
Tak lama pintu di buka, Seorang cleaning servis masuk dengan nampan di tanganya lalu meletakkan minuman seperti teh di atas mejaku.
"Ini ada pesanan minuman untuk ibu Dira, perintah langsung dari pak Satya" ucapnya dengan sopan, lalu kemudian menaruh sebuah undangan tepat di samping minumannya.
Ku lirik undanganya sekilas dan melihat cleaning servis itu dengan raut bertanya
"Itu titipan undangan juga dari pak Satya,tadi beliau mampir sebentar untuk menitipkan ini lalu pergi lagi"
Ku lirik minuman itu, Teh? ku ambil lalu ku hirup aromanya,
"Teh jasmine" ucapku sambil menghirup aromanya dalam-dalam, membuat perasaan menjadi tenang dan relaks. Di sampingya ada madu dan lemon, tau banget nih om Satya kalau keponakannya ini lagi setres melihat berkas yang bertumpuk-tumpuk bak gunung kidul.
Segera ku racik teh itu sesuai seleraku. Teh jasmin tawar di tambah dua sendok madu di tambah setengah perasaan lemon,
__ADS_1
Sruuuuptt...
Aaaah....nikmat sekali, ku menikmatinya dengan menutup mata.
"Nikmat sekali Em" ucapku dengan relaks
Ema yang melihatku hanya menggelengkan kepala, dia tahu aku sangat menyukai ini. Mungkin di antara makhluk di bumi ini hanya Ema yang benar-benar mengenalku dengan baik selain kedua omku itu tentunya.
"Kamu jangan minta Em, kalau mau bikin sendiri sana" selorohku, seperti anak kecil yang takut makanan favoritnya akan di rebut, hehe..
"Tidak nona. Saya sedang tidak haus" jawabnya datar, lalu fokus lagi pada berkas-berkas di depannya.
"Jangan terlalu di forsir begitu lah Em, istirahat dulu" ucapku melihat Ema yang terlalu fokus dengan pekerjaannya. Pekerjaanku sih lebih tepatnya,dia dengan suka rela membantuku.
"Tanggung nona, sebentar lagi selesai kemudian kita bisa menyerahkan ini pada klien kita besok" Jawabnya tanpa menatapku, matanya fokus pada lembaran kertas yang menumpuk di depannya.
"Ya terserah kamu lah Em, kamu kalau di lihat -lihat seperti om Satya jika Sedang Bekerja, terlalu fokus sampai lupa sama kehidupan pribadimu. Jangan sampai jadi kanebo kering versi wanita ya Em" celetukanku membuat Ema menghentikan aktifitasnya, tatapannya tajam, dingin, menembus tulangku. Menelan saliva dengan susah payah, apa yang salah dari ucapanku?
__ADS_1
Serem juga Ema kalau mode marah ya guys...
gak takut sama atasanya sama sekali hehe...